KABAR GALERI VIDEO EVENT

Geliat Musik Dangdut Hingga Digandrungi Generasi Anak Muda

Editor KapanLagi.com | 17 Mei 2022, 23:39 WIB
Geliat Musik Dangdut Hingga Digandrungi Generasi Anak Muda

Kapanlagi.com - Geliat Musik Dangdut Hingga Digandrungi Generasi Anak Muda

Bagi masyarakat Indonesia, dangdut menjadi salah satu jenis aliran musik yang sudah tidak asing lagi. Musik dangdut merupakan salah satu jenis aliran musik lokal yang berasal dari Indonesia. Di era digital, persaingan di dunia hiburan tanah air sangat ketat, termasuk dalam dunia permusikan. Hal tersebut didukung dengan adanya platform-platform yang menjadi wadah lahirnya kreator-kreator baru yang kreatif, seperti Youtube, TikTok, Spotify, dan Instagram. Ditambah lagi adanya tren aliran musik yang sering berubah-ubah seiring dengan tuntutan zaman mulai dari aliran K-Pop, J-Pop, Pop, Rock, Klasik, Jazz, dll. Tak heran jika musik aliran lokal menghadapi tantangan tersendiri, termasuk musik dangdut.

Musik yang mempunyai ciri khas iringan dentuman tabla dan gendang ini harus mampu bersaing di dunia hiburan sehingga aliran musik jenis ini tidak semakin ditinggalkan. Jika kita melihat sejarah musik dangdut, banyak dari masyarakat yang memberi nilai negatif dan menganggap tidak pantas yang berdampak pada pemberian citra negatif terhadap musik dangdut. Citra-citra negatif tersebut timbul dari orkes-orkes dangdut keliling yang sering terdapat biduannya menggunakan pakaian mini dan dianggap kurang sopan.

Kalangan masyarakat menengah ke bawah mendominasi pendengar musik dangdut. Sering kali musik dangdut terdengar di angkutan-angkutan umum seperti bus, angkutan kota (angkot), perkampungan, terminal, warung kopi, warung makan dan di beberapa tempat-tempat lainnya yang menggambarkan identitas budaya dari masyarakat tersebut. Menurut Weintraub (2010) dalam bukunya yang berjudul Dangdut: Musik, Identitas, dan Budaya Indonesia menyatakan bahwa musik dangdut yang sering menggambarkan kondisi sosial ekonomi juga memberikan sumbangsih terhadap terbentuknya gagasan-gagasan yang berkaitan dengan kelas sosial, gender, dan berbagai kelompok etnis Indonesia yang secara tidak langsung membantu Indonesia menjadi negara yang modern.

Namun, seiring berkembangnya zaman, musik dangdut menjadi musik populer di kalangan masyarakat. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya berbagai jenis kontes-kontes dangdut di Indonesia, mulai dari kontes dangdut KDI (Kontes Dangdut Indonesia), D'Academy, LIDA (Liga Dangdut Indonesia) dan berbagai jenis kontes dangdut lainnya. Kontes dangdut tersebut menjadi bukti lahirnya bibit-bibit unggul penyanyi dangdut baru yang populer seperti Nassar, Lesty Kejora, Jirayut Afisan, Danang DA, Rara LIDA dan masih banyak lagi lainnya.

Era teknologi digital menjadi pendorong populernya musik dangdut di masyarakat. Para penyanyi dangdut yang kreatif dapat memanfaatkan teknologi digital dengan memasuki platform-platform digital seperti Youtube, Spotify, dan TikTok. Persaingan para penyanyi dangdut di platform-platform tersebut juga mampu mengantarkan musik dangdut agar lebih dikenal oleh khalayak, mulai dari mengcover lagu hingga mengeluarkan single-single terbaru. Lesty Kejora, Nella Kharisma, Via Vallen, Didi Kempot, Happy Asmara, dan Denny Caknan mampu mengantarkan musik dangdut menjadi musik yang populer di kalangan generasi millenial hingga generasi Z setelah lagu-lagunya trending.

Mengenal Sejarah Musik Dangdut

Menilik mengenai sejarah awal musik dangdut di Indonesia, terdapat dua tahapan yang menjadi penanda yang terbagi kedalam era Irama Melayu dan era Dangdut. Irama Melayu adalah genre musik yang dikembangkan di daerah Melayu tepatnya di kedua belah pantai Sumatra dan Tanah Semenanjung. Baik di kedua daerah tersebut, musik dangdut pun berkembang dengan corak khusus yang disebut Gamat dan musik melayu Deli.

Pada awal tahun 1940-an, terdapat tiga perpaduan musik irama Melayu yang populer yaitu musik keroncong, gambus dan hawaian. Keroncong merupakan musik dengan perpaduan musik melayu, Jawa dan Cina. Musik ini terkenal dimainkan oleh masyarakat kalangan menengah ke bawah. Setelah itu ada musik Gambus yang merupakan perpaduan musik Arab, Persia dan Melayu. Musik ini tentu terkenal memiliki penggemar di kalangan masyarakat beragama islam. Sedangkan Hawaian sendiri menjadi musik yang terkenal di kalangan menengah ke atas.

Gambus sebagai cikal bakal musik dangdut, mengalami perkembangan terutama pada masa setelah kemerdekaan Indonesia tahun 1950-an. Di luar musik radio yang saat itu juga populer, Gambus mengalami perkembangan pesat dan banyak mengambil unsur musik melayu. Hal ini menjadikan musik melayu begitu melekat dalam musik Gambus.

Pada tahun tersebut, film-film India juga banyak beredar di wilayah Indonesia dan musiknya mempengaruhi musik melayu. Pengaruh film India yang kuat dapat dilihat dalam syair-syair lagu ciptaan Ellya Khadam yang berjudul Boneka Dari India pada pertengahan tahun 1950-an. Lagu tersebut saat ini dipercaya sebagai lagu dangdut pertama di Indonesia, meskipun istilah dangdut sendiri belum muncul.

Musik dangdut pun berkembang seiring dengan masuknya musik barat di Indonesia. Pengaruh musik barat ini mencapai puncaknya di tahun 1970-an, yang mana hal ini memicu grup-grup musik baru yang ber-genre pop yang populer pada saat itu. Gema musik barat yang meluas di Indonesia menjadi tantangan bagi orkes melayu untuk ikut berkembang. Dilihat dari segi instrumen yang digunakan, musik rock barat telah mempengaruhi orkes melayu, yaitu dengan digunakannya instrumen elektrik kedalamnya. Digunakannya musik elektrik ke dalam lagu melayu ini dapat dilihat pada era Rhoma Irama.

Popularitas Rhoma Irama juga meningkat semenjak ia bergabung dengan O.M Purnama dengan lagunya berjudul Ke Binaria yang dinyanyikan bersama Elvy Sukaesih pada tahun 1968. Setelah melalui berbagai trial and error, Rhoma Irama akhirnya mendirikan grup orkes melayu sendiri yang bernama Orkes Melayu Soneta. Dalam salah satu albumnya, ia juga menciptakan lagu yang berjudul Dangdut. Semenjak itu, Rhoma Irama terkenal dengan musiknya yang memadukan antara musik rock dan dangdut.

Berkat kepopulerannya membawakan musik dangdut, Rhoma Irama pun dijuluki sebagai Raja Dangdut. Meskipun kini dangdut tidak seheboh dulu, musik dangdut masih sangat digemari oleh masyarakat Indonesia hingga masyarakat luar negri.

Musik Dangdut Zaman Dulu dan Sekarang

Sang ratu dangdut Elvy Sukaesih telah merasakan sendiri adanya banyak pergeseran era musik dangdut dari waktu ke waktu. Menurutnya pergeseran tersebut ditandai dengan masuknya musik dangdut koplo. Ia juga menambahkan, lagu dangdut di zaman dulu memiliki lirik syair yang lebih berkualitas yang membuat penyanyinya lebih menjiwai setiap kata yang dinyanyikan.

Seiring dengan masuknya era digital, musik dangdut pun juga ikut menyesuaikan dan mengalami akulturasi pada budaya. Hal ini juga menjadikan musik dangdut tidak hanya digemari oleh kalangan orang tua, namun juga kalangan anak muda. Dengan memadukan musik koplo dan pop menjadikan musik dangdut semakin menarik perhatian anak muda sekarang.

Dangdut yang dulunya identik dengan pakaian biduannya yang cenderung terbuka juga telah menyesuaikan dengan pakaian yang lebih stylish yang juga sesuai dengan lagu yang dinyanyikan.

Musik Dangdut Semakin Digandrungi Anak Muda

Mungkin kamu sekarang sudah tidak asing lagi jika melihat anak-anak muda yang sering mendatangi konser-konser dangdut. Kondisi tersebut sudah menjadi hal yang lumrah jika generasi anak muda yaitu generasi milenial dan generasi Z menggandrungi genre musik dangdut.

Musik yang dulunya selalu lekat dengan musik ‘orang tua' ini kini sudah mengalami banyak penyesuaian. Pergeseran preferensi dalam mendengarkan musik menjadi bukti bahwa musik dangdut digemari oleh banyak kalangan masyarakat. Bahkan sering kali musik-musik yang bergenre dangdut menghiasi trending-trending di berbagai platform streaming musik di Indonesia. Di media sosial pun tak sedikit konten yang menjadikan musik dangdut sebagai instrumennya.

Selain dari pendengarnya, banyak juga kalangan musisi lintas genre yang menyukai jenis musik dangdut dan tak jarang juga mereka mengcover lagunya. Salah satunya dari beberapa penyanyi yang beraliran pop seperti Aviwikila yang mengcover lagu Loss Dol, Betrand Peto yang berhasil memasuki trending Youtube Indonesia dengan cover lagu berjudul Bapak dan juga ada Tiara Andini yang menyanyikan lagu mendiang Didi Kempot, Pamer Bojo.

Pergeseran preferensi musik di kalangan anak muda ini tentunya tidak bisa lepas dari peran penyanyi itu sendiri. Sebut saja Via Vallen yang berhasil tampil di opening and closing ceremony  Asian Games pada tahun 2018 silam. Hal tersebut telah mengantarkan musik dangdut menjadi musik yang lebih modern dan banyak dinikmati oleh semua kalangan.

Tak hanya musik dangdut remix, kalangan anak muda juga menggandrungi musik-musik dangdut campursari. Sosok mendiang Didi Kempot atau yang sering dikenal “The Godfather of Broken Heart” berhasil menjadikan lagu-lagu campursari semakin diminati kalangan anak muda. Lagu-lagunya yang bertema percintaan dan patah hati menjadi favorit kalangan anak muda yang sedang dimabuk asmara. Penggemarnya yang sering disebut dengan istilah ‘Sobat Ambyar' sering menghiasi berbagai platform media sosial dengan lagu-lagu patah hati sang legenda tersebut.

Survey daya tarik musik dangdut di kalangan anak muda / Credit: KapanLagiSurvey daya tarik musik dangdut di kalangan anak muda / Credit: KapanLagi

Berdasarkan hasil survey yang sudah tim kami lakukan, ada beberapa hal yang

menjadikan musik dangdut semakin diminati oleh generasi muda diantaranya jenis musik dangdut yang lebih bervariasi, penggunaan lirik dengan bahasa yang populer dikalangan generasi muda, aransemen musik yang lebih modern dan kekinian, enak didengar, serta seringnya musik dangdut menghiasi trending di berbagai platform media sosial. 

Survey daya tarik musik dangdut dulu dan sekarang / Credit: KapanLagiSurvey daya tarik musik dangdut dulu dan sekarang / Credit: KapanLagi

Era digitalisasi juga memberikan sumbangsih terhadap eksistensi musik dangdut, hadirnya berbagai macam platform streaming musik dan media sosial telah mengantarkan musik dangdut ke kancah yang lebih luas. Hal tersebut didukung dengan hasil survey yang sudah kami lakukan bahwa sebanyak (44,7%) responden menjawab media sosial mengenalkan musik dangdut ke kalangan muda secara luas, (24,6%) media sosial membuat musik dangdut populer dikalangan anak muda, dan sebanyak (7,6%) responden menjawab media sosial membuat penyanyi dangdut dikenal oleh banyak orang. Tren positif ini menjadi gerbang pembuka bagi musik dangdut untuk berkembang dan tetap bisa menjaga eksistensinya di dunia hiburan. Terlebih lagi, sekarang banyak musisi-musisi baru yang berdatangan baik dari ajang pencarian bakat maupun lainnya. Seperti halnya Lesty Kejora, Rara LIDA, Nella Kharisma, Denny Caknan, maupun penyanyi-penyanyi dangdut lainnya yang kini menjadi idola bagi generasi muda.

Hadirnya layanan streaming musik dan juga media sosial telah memperluas preferensi masyarakat dalam mendengarkan musik. Tak hanya bagi pendengar musik saja, hal tersebut juga memberikan dampak positif bagi pedangdut untuk memperkenalkan karya-karyanya, terlebih pada masa pandemi COVID-19.

Musik dangdut yang mempunyai basis penggemar besar ditambah lagi pengaruh media sosial yang luas bukan menjadi perkara yang mustahil jika di masa mendatang menjadi genre musik yang berjaya dan dapat menguasai pasar di negeri sendiri. Sebagai the music of our country kami berharap agar musik dangdut tetap eksis dan mampu mengharumkan nama Indonesia di kancah yang lebih luas.

(kpl/mag)

Editor:   Editor KapanLagi.com