Dialog Dini Hari

Pada akhir kuartal pertama di tahun 2008, para motor penggerak dua band besar asal Bali, Dadang SH Pranoto dari Navicula dan Ian Joshua Stevenson serta Mark Liepmann dari Kaimsasikun, duduk bersama. Menyepakati diri mengalirkan dialog bebas lepas tengah malam dan merangkumnya ke dalam musik dan notasi sederhana.

Sembari sejenak menanggalkan emblem yang telah menahun melekat pada eksistensi Navicula yang sering dijuluki neo-green-phsycedelic-grunge-core dan Kaimsasikun dengan stempel deep-psycho-brit-rock -nya. Meski terlahir dari grunge dan Brit Rock namun mereka enggan untuk membuat sebuah musik yang berdistorsi.

Leburan demi leburan blues, folk dan ballad ditakar oleh Dialog Dini Hari sedemikian tepat sebagai degup melodi penghantar pesan ringan-cerdas-indah dalam warna vokal bariton yang merdu menyeruak dari dalam luka yang membekas. Sedangkan dominasi suara gitar aksutik dan semi-steel-dobro yang khas, plus selingan gesekan steel-slide yang kasar dan ekspresif berhasil membangun dinamika nuansa live yang sangat terjaga.

Lirik lugas dan kritis tetap didengungkan oleh DIalog Dini Hari. Mereka lebih menyoroti isu lingkungan hidup yang dijarah oleh para penguasa politik nan tamak. Beranda Taman Hati menjadi pembuka sekaligus penyuara isi hati akan keresahan mereka terhadap lingkungan saat ini.

Kekayaan arransemen membuat Dialog Dini Hari beda dengan band folk lainnya. Eksperimen mereka terus menjadi pada album pendek berjudul sama. Karya tentang cinta dan keindahan hidup pun dituangkan ke dalam Lengkung Langit yang dirilis dalam format piringan hitam.

Enggan untuk membuat lagu komersil, Dialog DIni Hari memilih tema tentang alam, cinta antara umat manusia dalam harfiah yang lebih luas. Tentang Rumahku pun dikeluarkan sebagai penanda bahwa band asal Bali ini tetap eksis

Diskografi

Beranda Taman Langit
Dialog Dini Hari
Lengkung Langit
Tentanr Rumahku

Lebih Lengkap