Farouk Afero


Farouk Achmad bin Asgar Ali atau lebih dikenal dengan nama Farouk Afero, lahir di Pandori Bali, Pakistan pada tanggal 4 Juli 1939. Farouk Afero dikenal sebagai aktor sekaligus sutradara Indonesia kawakan yang menapaki karir di dunia akting sejak tahun 1964. Hingga akhir hayatnya, Farouk Afero tetap eksis di dunia film.

Farouk yang sempat mengenyam pendidikan di Islamic High School, Lahore-Pakistan ini mendapatkan nama Afero ketika masih menjadi petinju amatir. Walaupun sekolahnya di Pakistan tidak selesai, namun dedikasinya di dunia perfilman nasional sangat tinggi sehingga sosok Farouk di dunia film nasional layak diacungi jempol.

Farouk menikah dengan Oktorina Suryaningsih dan dikaruniai empat anak, masing-masing Fachiro Ahmad Afero, Ferdiansyah Ahmad Afero, Feroz Ahmad Afero dan Faizal Afero.
(Aris Kurniawan)

Farouk Afero wafat pada tanggal 13 April 2003 akibat penyekit paru-paru yang dideritanya. Setelah lebih dari setahun berjuang menghadapi penyakit tersebut, akhirnya beliau berpulang sekitar pukul 21.50 di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta Selatan pada usia 63 tahun. Farouk pergi dengan meninggalkan seorang istri, lima anak, serta enam cucu.

KARIR

Awal karir di dunia film layar lebar Indonesia di mulai dengan bermain dalam film EKSPEDISI TERAKHIR yang dibintangi Ratno Timoer, Dicky Zulkarnaen, dan Soekarno M. Noer pada tahun 1964. Sejak itu, ia telah membintangi tak kurang dari 66 film. Selama aktif di dunia akting, Farouk memang lebih banyak memerankan tokoh antagonis, yang memang dianggap sesuai dengan karakter penampilannya.

Sebelum populer di dunia akting, satu fakta yang mungkin tidak banyak diketahui orang adalah bahwa Farouk pernah berkarir sebagai petinju amatir. Saat itu ia masih menggunakan nama pemberian orang tuanya sejak lahir, yakni Farouk Achmad. Farouk sempat melanjutkan sekolah ke Islamic High School di Lahore, tetapi tidak sampai lulus.

Nama Farouk mulai populer ketika bermain dalam film BERNAFAS DALAM LUMPUR arahan sutradara Turino Djunaidy (1970), yang juga menampilkan Suzanna dan Rachmat Hidayat. Film Indonesia pertama yang menonjolkan adegan seks ini dianggap sebagai film yang memicu kebangkitan produksi film di era 1970-an. Farouk turut bermain lagi pada BERNAFAS DALAM LUMPUR film versi 1991.

Farouk juga dikenang sebagai sosok yang punya dedikasi tinggi pada perfilman Indonesia. Peristiwa pada 1973 merupakan salah satu contoh yang menggambarkan dalamnya perhatian Farouk terhadap dunia film. Peristiwa dimaksud adalah sikapnya memprotes pengusaha bioskop yang dianggapnya menganaktirikan film Indonesia. Dengan kepala dicukur pelontos dia berusaha menemui Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin sambil membawa poster bertuliskan "Bioskop jangan anak tirikan film nasional."

Selama karirnya sebagai aktor, Farouk pernah pula mendapat penghargaan sebagai Aktor Pembantu Terbaik FFI 1976 lewat film LAILA MAJENUN (1975) arahan sutradara Syuman Djaya. Penghargaan ini membuatnya bangga dan bersyukur bahwa, selain dikenal sebagai bintang antagonis yang lekat dengan film-film vulgar, diakui pula sebagai aktor berkualitas. Farouk pernah pula duduk sebagai pengurus Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI).

FILMOGRAFI

* EKSPEDISI TERAKHIR (1964)
* DJAKARTA-HONGKONG-MACAO (1968)
* LAKI-LAKI TAK BERNAMA (1969)
* BERNAFAS DALAM LUMPUR (1970)
* MATINJA SEORANG BIDADARI (1971)
* INTAN BERDURI (1972)
* RATU ULAR (1972)
* MUTIARA DALAM LUMPUR (1972)
* LINGKARAN SETAN (1972)
* SETITIK NODA (1974)
* ATHEIS (1974)
* PACAR (1974)
* LIKU-LIKU PANASNYA CINTA (1976)
* SI DOEL ANAK MODERN (1976)
* GANASNYA NAFSU (1976)
* RAHASIA PERKAWINAN (1978)
* KUDA-KUDA BINAL (1978)
* KABUT SUTRA UNGU (1979)
* ACH YANG BENERRR... (1979)
* FAJAR YANG KELABU (1981)
* GADIS MARATHON (1981)
Lebih Lengkap