Pertemanan Spesial Calon Ibu dan Arwah Gadis Kecil

Fitrah Ardiyanti | 04 November 2015, 12:52 WIB
Pertemanan Spesial Calon Ibu dan Arwah Gadis Kecil
KapanLagi.com - Oleh: Abbas Aditya

Fisik lemah dan asthma akut yang diderita membuat Kirana (Laudya Cynthia Bella) tiga kali keguguran. Lelah ditekan ibunya karena tak kunjung memberi cucu, Adi (Surya Saputra) membawa Kirana pindah ke rumah baru dengan alasan ingin mandiri.

Di rumah sederhana itu Adi berusaha mengembalikan keceriaan istrinya dari sedih berkepanjangan akibat berulang kali gagal menjadi ibu. Lambat laun usahanya memang berhasil, tapi karena ia memperbolehkan Kirana berinteraksi dengan arwah gadis cilik yang dipanggil Kakak (Yafi Tesa Zahara) tersebut.

Meski Kakak tak pernah mengganggu, Adi kesal istrinya lebih mementingkan arwah gadis itu ketimbang bayi yang dikandungnya. Saat Kirana sadar kesalahan yang ia buat, semua sudah terlambat. Calon anaknya pun menjadi taruhan.

Meleset dari estimasi rilis yakni pada bulan Maret kemarin, besutan teranyar Ivander Tedjasukmana satu ini akhirnya edar juga di pasaran. Walau sempat tersendat saat proses post production akibat kekurangan dana, perjuangan KAKAK sebanding dengan hasil akhirnya yang menarik dan tergolong segar.

Horor bisa dikatakan berhasil apabila ia memiliki pondasi cerita kuat sekaligus menakuti penonton. Keduanya mampu dilakukan oleh KAKAK. Itulah yang menjadi nilai plus bagi produksi perdana Firefly Cinema ini.

Akankah Kirana berhasil mempertahankan janinnya?/©Firefly CinemaAkankah Kirana berhasil mempertahankan janinnya?/©Firefly Cinema

Sayangnya presentasi tersebut kurang mulus dalam hal teknis. Dari pemotongan adegan yang seharusnya tetap ada tapi ditiadakan sehingga meninggalkan plot hole, camera movement yang entah kenapa terasa kaku, serta fokus pengambilan gambar yang membuat kening berkernyit.

Salah dua contoh ketika scene Kirana menemukan boneka di depan pintu kamar Kakak untuk pertama kali. Tidak ditunjukkan bila di sana ada boneka. Juga scene saat Kirana melahirkan di tangga rumah dan Kakak menghampirinya sambil merangkak. Di sini tidak jelas apa yang dimau oleh sutradara karena terasa out of focus ketika gambar banyak di zoom out pada wajah Kirana.

Catatan juga saya sematkan pada pendeskripsian cara menakuti Kakak yang tak jauh beda dengan Sadako. Sutradara memang tak menampik bila sosok seram dari film Ringu itu menjadi sumber inspirasinya. Namun di saat pondasi cerita kuat, kenapa tidak sekalian menakuti penonton dengan cara yang orisinil.

Terlepas dari itu KAKAK sukses menjadi horor tulen yang sudah jarang kita temukan di sinema lokal. Langkah seperti ini dalam menghadirkan warna horor baru rasanya patut dilanjutkan ketimbang melakukan pengulangan-pengulangan tidak perlu. Penonton semakin pintar, mereka lebih selektif dalam memilih film ketimbang menonton sajian yang repetitif. 

(kpl/abs/tch)

Editor:  

Fitrah Ardiyanti

BERI KOMENTAR▼
Komentar
↑