Racikan Dongeng Cinderella Yang Andalkan Ketampanan Al Ghazali

Mahardi Eka Putra | 24 Juli 2014, 13:26 WIB
Racikan Dongeng Cinderella Yang Andalkan Ketampanan Al Ghazali
KapanLagi.com - Oleh: Puput Puji Lestari

Tala (Tatjana Saphira) tinggal bersama ibu (Dewi Irawan) dan pamannya Toni (Edward Akbar), di Hong Kong. Ibunya yang mantan TKW, sakit keras dan butuh pengobatan. Mereka terjebak, tidak bisa pulang karena paspor mereka bermasalah. Akhirnya Tala mengikuti jejak pamannya Toni, yang terbiasa judi dan mabuk, untuk menjadi pencopet di jalanan.

Suatu ketika Tala mencopet dompet dan paspor milik Musa (Al Ghazali), putra tunggal dari Surya Djatmoko (Ray Sahetapy) seorang pengusaha yang berniat melebarkan sayap bisnis keuangannya di Hong Kong.

Kejadian itu menjadi awal dari pertemuan Tala dan Musa, yang terjebak dan senantiasa berusaha lari dari masalah mereka. Bagi Musa, Tala adalah jawaban dari semua kebosanan dan kemarahannya pada sang Ayah. Sebaliknya, Tala melihat Musa adalah jalan keluar dari semua kesulitan hidupnya di negeri asing ini. Sekali pun akhirnya, mereka menemukan adanya cinta yang tulus, tumbuh di hati mereka, namun mereka tidak melihat ada masa depan bagi hubungan mereka. Tala menyadari bahwa hubungannya dengan Musa, tidak nyata adanya. Mereka berasal dari dua dunia yang berbeda.

Pertemuan Musa dan Tala adalah awal mula kisah RUNAWAY.Pertemuan Musa dan Tala adalah awal mula kisah RUNAWAY.

Yes, kenapa dongeng Cinderela? Karena cinta yang berasal dari dua dunia yang berbeda selalu menarik untuk dibuat berbagai macam versi. Meskipun pada akhirnya selalu berakhir klise dan cinta memenangkan segalanya. Begitu pula film RUNAWAY ini, meskipun tak nyaris sama dengan kisah Cinderela tapi drama percintaan dua dunia mendominasi kisah dalam film.

Awalnya cerita film ini berjalan mulus dengan memberikan gambaran yang mudah dicerna penonton. Namun, di beberapa adegan film ini akan terasa dejavu dengan film-film romantis yang pernah ada. Jadi alurnya akan mudah ditebak.

Karena ini adalah film perdana Al Ghazali, akting Al jadi perhatian utama. Al nampak masih kikuk di depan kamera, serba canggung. Sorot matanya kurang menyakinkan sebagai pemuda yang sedang di mabuk asmara. Tapi, karena wajah gantengnya sedang digandrungi bisa jadi hal itu bisa menutup kekurangan tersebut. Salut untuk Tatjana dan Edward yang mampu bermain cermat dalam film ini. Chemistry sebagai ponakan-paman dan pasangan pencopet cukup menyita perhatian.

Guntur sekali lagi dengan cerdas mengambil spot-spot luar negeri yang bisa memanjakan penontonnya. Di film ini penonton seolah-olah diajaknya keliling Hong Kong. Mau naik kereta, trem, hingga subway semuanya ditunjukkan dalam film ini. Keramaian pejalan kaki dan gemerlap lampu kota di Hong Kong juga direkam dengan manis.

(kpl/uji/dka)

Editor:  

Mahardi Eka Putra

BERI KOMENTAR▼
Komentar
↑