[Review] 'FINDING SRIMULAT', Menemukan Kembali Cinta dan Harapan

Mahardi Eka Putra | 10 April 2013, 13:01 WIB
[Review] 'FINDING SRIMULAT', Menemukan Kembali Cinta dan Harapan

KapanLagi.com - Oleh: Puput Puji Lestari
 
Sudah lama Indonesia tidak memiliki film komedi yang benar-benar menghibur tanpa harus melukai orang lain. Akhir-akhir ini kebanyakan komedi diarahkan pada fisik orang yang 'maaf' kurang sempurna seperti cebol dan gigi tongos. Bahkan guyonan cabul yang membuat risi kaum hawa dilontarkan sebagai pemancing tawa. FINDING SRIMULAT memberi harapan baru dengan menghadirkan humor yang benar-benar lucu dan membuat kita tertawa lepas.

Film ini mengangkat kisah tentang pasangan muda bernama Adika Fajar (Reza Rahadian) dan Astrid Lyanna (Rianti Cartwright). Mereka merupakan sepasang anak muda yang sama-sama mempunyai mimpi untuk bisa hidup mandiri.

Adika membangun karirnya di sebuah perusahan event organizer (EO). Pengkhianatan rekan kerja Adika, JoLim (Fauzi Baadilla) menempatkan EO tempat Adi bekerja berada di jurang kebangkrutan padahal Astrid butuh biaya untuk melahirkan.

Di tengah kegalauannya, secara tak sengaja, Adi mulai mendapatkan titik terang ketika mobilnya mogok di sebuah restoran milik Kadir, salah satu dari legenda Srimulat yang tersisa. Adi yang sejak kecil memiliki kenangan khusus terhadap Srimulat mulai menapaki kemungkinan membawa Srimulat kembali lewat sebuah pementasan unik.

FINDING SRIMULAT yang dijadwalkan rilis di bioskop pada 11 April 2013 ini selain menawarkan lelucon yang asyik, juga memberi kisah drama yang menarik. Kehidupan Adi dan Astrid adalah drama kekinian yang dikenalkan sutradara Charles Gozali kepada penonton remaja yang mungkin sudah tidak lagi mengenal Srimulat. Sedangkan drama kehidupan anggota Srimulat menjadi cerita sendiri yang juga asyik untuk dinikmati.

Tentu saja untuk mendapatkan dua cerita besar harus ada yang dikorbankan. Paruh waktu 10 menit pertama penonton seolah diajak berlari untuk memahami dasar cerita drama pertama. Perkenalan kisah Astrid dan Adi terasa begitu panjang sehingga sempat terasa membosankan.

Sejarah Srimulat dikemas manis baik untuk generasi muda yang sudah tidak mengenal Srimulat atapun yang masih ingat benar Srimulat. Penulisan naskah oleh Charles selama tiga tahun terasa tak sia-sia karena berhasil mengungkap peristiwa di belakang panggung personil Srimulat. Cerita yang sangat dekat dengan kehidupan seniman penjaga tradisi.

Jika kebetulan Anda tidak paham bahasa Jawa, ini bisa jadi mengurangi tawa yang hadir saat menonton film ini. Karena Charles cukup percaya diri menghadirkan banyak percakapan antar personil Srimulat dalam bahasa Jawa tanpa diberi penjelasan baik lisan maupun tertulis. tapi jangan kuatir, karena harus diakui lelucon dalam bahasa Jawa Srimulat membuat lucunya tetep khas dan pas.

Musik cantik menambah film ini terasa semakin indah. Lagu-lagu lama yang dikemas baru dengan penempatan sitasiuonal yang pas menggiring penonton untuk bernostalgia.

Baik Reza Rahadian dan sederet pemain muda juga pemain Srimulat sukses berakting natural. Pemain Srimulat memang tak perlu diragukan kemampuannya. Pengalaman mereka di panggung dan di depan kamera membuat akting seperti menjadi bagian hidup mereka sendiri. Karena selain memerankan cerita di pentas Srimulat, masing- masing diharuskan mampu membawa cerita drama untuk menghidupkan cerita mereka.

Bersiaplah menerima ending manis, penuh kejutan. Anda bisa tertawa sekaligus menangis.

(kpl/uji/dka)

Editor:  

Mahardi Eka Putra

BERI KOMENTAR▼
Komentar
Latest
↑