[Review] 'TAMPAN TAILOR', Sepenggal Harapan Ayah dan Anak

Adi Abbas Nugroho | 30 Maret 2013, 14:51 WIB
[Review] 'TAMPAN TAILOR', Sepenggal Harapan Ayah dan Anak

KapanLagi.com - Oleh: Adi Abbas Nugroho

Layaknya warna, hidup seorang penjahit bernama Topan (Vino G Bastian) sepekat hitam. Setelah kehilangan istri karena kanker dan aset yang menghidupi keluarga kecilnya, tak ada yang tersisa kecuali sang anak berusia 6 tahun bernama Bintang (Jefan Nathanio). Bersama Bintang, Topan berani melalui hari-hari mereka tanpa kejelasan arah.

Hingga kemudian takdir mempertemukan Topan dengan Prita (Marsha Timothy) saat menumpang di rumah Darman (Ringgo Agus Rahman). Pertemuan tersebut membuat Topan memiliki sedikit harapan untuk mewarnai kembali hidupnya. Berharap untuk mengembalikan masa depan sang anak dan mewujudkan mimpi kecilnya bersama mendiang sang istri.

Interaksi antara orangtua dan anak memang selalu menarik untuk disimak. Terlebih jika melodrama tersebut disajikan secara pas dan tak berlebihan. Lewat TAMPAN TAILOR, Guntur Soeharjanto berhasil melakukan hal tersebut.

Sutradara yang angkat nama lewat OTOMATIS ROMANTIS (2008) ini sukses memberi koneksi hubungan antara ayah dan anak dengan hati. Sehingga pesan tersebut dapat merasuk ke benak penonton tanpa diminta.

Lihat saja hasilnya, tanpa tangisan berderai dan penyakit mematikan berlebihan (yang kini cenderung memuakan) ala film Indonesia dua tahun ke belakang, drama yang naskahnya ditulis oleh Cassandra Massardi dan Alim Sudio ini sukses menyentuh dan berhasil membuat tetes demi tetes air mata jatuh dengan kurang ajar

Kekuatan naskah tersebut berhasil diterjemahkan dengan baik oleh ensemble cast yang tepat. Ada duet Vino G Bastian dan aktor cilik pendatang baru, Jefan Nathanio. Mereka mampu tampil memukau, memberi nyawa dengan chemistry yang begitu believable, yang akhirnya menjadi daya tarik tersendiri bagi film ini.

Tak hanya Vino dan Jefan, TAMPAN TAILOR juga diramaikan oleh Ringgo Agus Rahman yang mampu memikat sebagai sidekick, juga Marsha Timothy sebagai Prita.

Selain para aktor dan aktris, film ini juga didukung oleh orang-orang di belakang layar yang berkompeten dibidangnya hingga membuat TAMPAN TAILOR lebih hidup. Ada Tya Subiakto untuk scoring dan tata musik yang mampu berkolerasi dengan tiap adegan, editing oleh Ryan Purwoko serta sinematografi Enggar Harliono.

Apresiasi patut diberikan pula untuk Maxima Pictures, rumah produksi yang mengawali langkah lewat CINTA PERTAMA (2006) dan sempat keblinger dengan horor seksi yang... you know. Maxima berhasil memberi warna baru dan menginspirasi. Semoga menjadi langkah awal untuk mengeruk penonton dengan tontonan yang dibuat dengan hati.

Yoen K, salah satu produser mengaku sangat mengagumi film THE PURSUIT OF HAPPYNESS (2006) yang melatarbelakangi dibuatnya film ini. Namun rasa kagum tersebut kembali diolah menjadi cerita baru yang orisinil.

Maka senang sekali rasanya setelah keluar dari bioskop. Sangat jarang begitu selesai menonton, ada sesuatu yang tertinggal di dada. Sesuatu untuk memulai harapan dan percaya bahwa tak ada yang tak mungkin selama kita mau terus berusaha.

(kpl/abs)

Editor:  

Adi Abbas Nugroho

BERI KOMENTAR▼
Komentar
Latest
↑