[Review] 'THE LEGEND OF TRIO MACAN', Humor Visual Yang Segar

Mahardi Eka Putra | 02 Mei 2013, 14:31 WIB
[Review] 'THE LEGEND OF TRIO MACAN', Humor Visual Yang Segar

KapanLagi.com - Oleh: Puput Puji Lestari

Seratus tahun silam, di desa China peranakan, teritori Hindia Belanda, A Chot mendapat kutukan tubuh cebol. Untuk kembali ke tubuh normal, dia harus menemukan perawan dengan tanda lahir macan dan mengawininya sebelum malam imlek.

A Chot pun menemukan perawan yang ia cari, namanya Iva (Iva Trio Macan). Sayangnya, Iva sebetulnya diam-diam sudah menjalin kasih dengan A Yang, pegawai rendahan ayahnya yang lugu dan miskin. Di malam mereka merencanakan kawin lari, A Chot datang untuk menagih hutang pada ayah Iva. Akhirnya untuk menebus hutang sang Ayah, Iva rela menyerahkan diri dan menikah dengan A Chot. Namun ketika A Chot masuk ke kamar pengantin, betapa terperanjantnya A Chot, Iva telah kabur.

Usaha melarikan diri Iva membuatnya berada di antara hidup dan mati. Ia lantas ditolong oleh Lia dan Chaca (Trio Macan). Ia dibawa pulang ke tempat kerja mereka dan bekerja, sebuah rumah hiburan Madame Nyongs Health Spa. Sementara Iva sembunyi di sana, ia dilatih untuk menjadi seorang Lady Escort yang memikat.

Iva bernjanji untuk menjaga kesuciannya demi A Yang seorang. Bersama Lia dan Chacha, Iva menggunakan Kung-Fu nya untuk menolong yang lemah dan melindungi dirinya dari tangan-tangan jahil, pria hidung belang, pengunjung rumah hiburan.

Malam Imlek semakin dekat, A Chot terancam akan cebol selamanya jika ia tidak berhasil menemukan dan mengawini Iva. Demi menyelamatkan ayah dan A Yang, Iva dibantu oleh Lia dan Chacha pun harus menghadapi A Chot dan jari-jari sakti perguruan Biji Maut.

Film ini menawarkan humor dengan menggabungkan unsur legenda masa lalu dengan effect visual kekinian. Akhirnya pertemuan dua unsur itu menjadi bahan humor yang segar. Terlihat kerja keras sutradara Billy Christian memberikan effect agar cerita lebih mengalir.

Mengandalkan nama besar Trio Macan, film ini tentu memasukkan lagu dangdut sebagai penarik minat penontonnya. Musik yang ditata anggun, menampilkan sisi lain dangdut. Tidak norak namun tetap bisa dipakai bergoyang.

Urusan akting, Trio Macan masih banyak kedodoran diberbagai sisi. Untunglah hal itu tertolong dengan visual effect yang digabungkan dengan cerita. Dengan penggarapan yang lebih serius film ini seharusnya bisa tampil maksimal karena dasar ceritanya cukup kuat.

(kpl/uji/dka)

Editor:  

Mahardi Eka Putra

BERI KOMENTAR▼
Komentar
Latest
↑