Bertaruh Nyawa Demi Merekam Tornado

Mahardi Eka Putra  | 19 Agustus 2014, 16:51 WIB
Bertaruh Nyawa Demi Merekam Tornado
KapanLagi.com - Oleh: Mahardi Eka

Salah satu sekolah di Silverton, Oklahoma tengah disibukkan dengan persiapan untuk acara wisuda. Hiruk pikuk persiapan wisuda tersebut melibatkan keluarga kecil yang terdiri atas ayah, Gary Morris (Richard Armitage) dan kedua anaknya ikut terlibat di dalamnya. Gary yang adalah guru di sekolah tersebut tak ingin acaranya tak sukses. Oleh karenanya ia meminta bantuan anak-anaknya. 

Namun sulung dari dua bersaudara tersebut lebih tertarik untuk melakukan pedekate dengan gadis pujaannya. Ia pun lebih memilih untuk bolos dari tugas sang ayah demi menemani gadis merekam sebuah pabrik tua di pinggiran kota.

Sementara itu di tempat lain ada Allison Stone (Sarah Wayne Callies), seorang ilmuwan tengah bersiap menuju Silverton. Ia bersama tim yang dipimpin pemburu tornado gaek bernama Pete (Matt Walsh) telah memprediksi bahwa akan ada serangan tornado di kota itu. Keinginan untuk merekam inti tornado untuk ia jual videonya membuatnya mendesain kendaraan tahan tornado bernama Titus.

Kesemuanya tidak punya hubungan satu dengan yang lain hingga akhirnya mereka dipertemukan takdir lewat munculnya angin tornado. Mereka yang mulanya tak saling kenal ini akhirnya bertemu di satu titik dengan satu tujuan, bertahan hidup dari serangan tornado.

Film tema bencana sudah bukan barang baru dalam perfilman Hollywood. Mereka ahlinya mengemas disaster movie dalam skala yang ekstrem, masih ingat dengan Manhattan yang kembali ke zaman es dalam THE DAY AFTER TOMORROW atau dunia yang tenggelam oleh tsunami raksasa di 2012. Di mata Hollywood, tidak ada bencana yang enteng, semua digarap secara masif. Terlebih lagi dengan adanya bantuan teknologi CGI saat ini, persoalan menyajikan ganasnya bencana alam jadi terasa mudah (bagi mereka tentunya).

INTO THE STORM hadir dengan menyajikan konsep yang berbeda. Sinematografi film bencana yang biasanya dibuat semegah mungkin dengan efeknya yang maha dashyat kali ini dibuat sederhana ala mockumentary. Gaya yang demikian pernah diusung film CHRONICLE, THE CHERNOBYL DIARY, CLOVERFIELD dan PARANORMAL ACTIVITY. Dengan style demikian, penonton diajak untuk menikmati INTO THE STORM layaknya sebuah rekaman peristiwa bencana sungguhan.

Para tokoh yang berperan di dalamnya pun bukan lagi tokoh larger than life. Yang ada, kamu bakal melihat ayah dan anak, penduduk lokal, serta ilmuwan amatir yang berusaha mencari uang dengan merekam tornado. Sosok-sosok seperti mereka bisa ditemukan dalam keseharian kita. Ditambah dengan visualisasi ala mockumentary, apa yang tersaji dalam filmnya seperti sedang kita alami sungguhan.

Mengusung gaya mockumentary pun bukan tanpa risiko. Jika pengambilan gambarnya terlalu statis pun tak akan membuat penonton terhibur. Mencegah kebosanan itu terjadi, adegan-adegan dalam filmnya tersaji dari lebih satu kamera. Sutradara Steven Quale memakai lebih dari angle untuk membuat filmya lebih dinamis.

Efek visual yang dihadirkan pun bisa membuat takjub meski tersaji dalam tempo yang singkat. Hanya dalam film kamu bisa melihat tornado api atau  tornado skala F5 yang diameternya saja bisa berkilo-kilometer panjangnya. Ngeri pokoknya.  

Sayang, untuk urusan akting, INTO THE STORM sepertinya tak ambil pusing dengannya. Dari jajaran aktor yang mengisi filmnya, hanya Richard Armitage dan Sarah Wayne Callies lah yang banyak dikenal. Mereka dipasang sebagai tiga tokoh utama yakni... Sedangkan tokoh yang lainnya? Dijamin kamu akan lupa selepas menonton filmnya

INTO THE STORM memang bukan film bencana terbaik. Namun paduan tema bencana dengan gaya mockumentary tentu menjadi suguhan baru yang menghibur meski tak bisa sampai memukaumu. Di tengah banjir film superhero, INTO THE STORM bolehlah ditonton sebagai alternatif tontonan keluarga.

Musuh utamanya hanya satu, angin tornado.Musuh utamanya hanya satu, angin tornado.

(kpl/dka)

Editor:  

Mahardi Eka Putra

BERI KOMENTAR▼
Komentar
↑