'Despacito': Pendobrak Batasan Bahasa Yang Dianggap Overrated

Natanael Sepaya | 18 Juli 2017, 09:22 WIB
'Despacito': Pendobrak Batasan Bahasa Yang Dianggap Overrated

Kapanlagi.com - Arus informasi dalam format audio-visual hingga teks yang dibagikan teman dan keluarga di Facebook membuat keisengan saya muncul untuk kembali membuka salah satu raksasa social media saat ini. Tapi hal pertama yang muncul di laman beranda justru sebuah keluhan kolega saya tentang single Despacito.

'Am I the only here who think Despacito is overrated AF?'

Sebuah pertanyaan sekaligus alasan subjektif yang bisa kita sepakati, jika rasa jenuh muncul karena lagu Despacito yang terlalu sering diputar atau soal selera telinga. Tentu saja media juga ikut sedikit membantu mengembangkan rasa jenuh orang-orang akan lagu yang music videonya sudah mencapai 2 miliar viewers dalam waktu 6 bulan saja.

Juga bukannya tidak mungkin kalau popularitas single milik Luis Fonsi dan Daddy Yankee ini memuncak karena adanya sosok kolaborator seperti Justin Bieber bersama nada-nada catchy khasnya. Belum lagi kejadian lupa lirik berbahasa Spanyol yang dilakukan Justin Bieber di atas panggung membuat banyak orang kian menyorot lagu ini. Tapi, apakah alasan-alasan tadi cukup untuk Despacito dianggap sebagai lagu yang overrated?

Hal yang nyaris sama sebenarnya terjadi di tahun 2012 silam, di mana seluruh dunia menyorot PSY bersama lagu Gangnam Style. Keunikan bahasa, serta koreografinya yang dianggap sebagian penikmat musik cukup tengil nyatanya berhasil menjadi hype sekaligus tren baru. Bahkan demam Gangnam Style sukses merasuki banyak aspek dalam keseharian orang-orang.

© instagram.com/luisfonsi© instagram.com/luisfonsi

Kembali ke Despacito. Pada awal perilisannya di platform YouTube, single ini berhasil mencatat angka 20 juta lebih viewers dalam waktu kurang dari 24 jam. Malah, Despacito tercatat sebagai video di platform YouTube yang paling banyak ditonton dalam sehari untuk periode 2017 ini. Sampai di titik ini, anda bisa menganggap kalau Justin Bieber adalah penyebab hype utama.

Padahal jika kita melirik versi asli Despacito yang dinyanyikan Luis Fonsi dan Daddy Yankee pada channel YouTube-nya, lagu tersebut sudah ditonton sebanyak 980 juta kali dalam waktu 3 bulan lebih sejak awal dirilis. Tidak heran jika industri barat sudah lebih dulu mengantisipasi single ini sejak awal.

Lebih jauh, lirik Despacito pun nyatanya disajikan dalam bahasa Spanyol oleh artis pop asal Puerto Rico tersebut. Tidak mudah untuk orang-orang memahami maksud dari single ini. Tapi sekali lagi, musik adalah bahasa yang universal. Cliche, tapi sampai hari ini semua orang memang tak harus memahami terlebih dahulu maksud dari sebuah lagu jika musik yang ditawarkan sudah cukup untuk menggelitik telinga dan perasaan mereka.

"Faktor kunci dari kesuksesan lagu ini adalah kolaborasi antara penyanyi urban Latin dengan gabungan dari pop serta urban itu sendiri," ujar Suzette Fernandez, selaku asisten editor di Billboard en Espanol.

© instagram.com/luisfonsi© instagram.com/luisfonsi

"Aku benar-benar merasa kalau usahanya (Justin Bieber) untuk menyanyikan lagu itu dalam bahasa Spanyol adalah tanda penghormatan terhadap kultur dan bahasa kami. Jika dia tidak peduli, dia tidak mungkin menyanyikan lagu itu dalam bahasa Spanyol. Atau mungkin dia akan mengatakan 'Despaciro'. Siapapun yang sukses pasti akan dikritik, dan itu membantu daya tarik Despacito meningkat. Tapi Justin benar-benar menghargai bahasa Spanyol dan merekamnya dalam bahasa Spanyol. Dan hal seperti inilah yang harus kita hormati," aku Rengifo yang merupakan produser musik Despacito.

Seperti halnya PSY, Shakira ataupun Jennifer Lopez dengan musik-musiknya yang tidak berbahasa universal namun bernada catchy, visual jadi faktor lain yang melesatkan lagu Despacito. Lihat saja bagaimana keindahan suasana pesisir pantai serta secuil keceriaan rakyat Puerto Rico yang mampu dirangkum secara apik dalam music video Despacito. Hal ini berimbas pada timbulnya gairah para wisatawan asing untuk kembali berkunjung ke negara yang sempat dinyatakan memiliki utang mencapai 70 miliar pada 2 bulan yang lalu.

Benar, music video Despacito mengambil lokasi seperti La Perla serta San Juan yang merupakan salah satu pelabuhan kapal pesiar terbesar kedua di dunia. Selain itu letak Puerto Rico yang memang berada di pinggir pantai menampilkan sebuah keindahan negara yang eksotis. Selain itu budaya berpesta di berbagai lokasi dengan iringan musik Merengue adalah hal lain yang terlihat dalam music video ini.

Siapa yang tidak suka bersenang-senang di pinggir pantai sambil menikmati alunan musik dan merekam cerita dalam memori kolektif bersama teman-teman baru? Semua keindahan dan eksotisme Puerto Rico itu juga terangkum lewat sentuhan manis suara Erika Ender untuk single Despacito.

Untuk kamu tahu, Luis Fonsi sendiri adalah penyanyi yang namanya melejit bersama single Eterno di tahun 2000. Sedangkan Daddy Yankee merupakan seorang aktor sekaligus penyanyi yang meraih Latin Grammy Awards sebagai penyanyi reggae terbaik. Selain popularitas masing-masing artis, talenta emas mereka sudah menjadi daya tarik tersendiri bagi para penikmat musik Latin, sebelum kemudian mendunia.

Secara keseluruhan, Despacito memang memiliki kombinasi yang komplet untuk menjadi sebuah tren baru di dunia musik. Kualitas materi yang baik serta dukungan visual yang menggugah gairah akan keindahan Puerto Rico, mampu mendobrak batasan bahasa maupun kultur lewat musiknya yang catchy.

Namun jika masalahnya adalah selera telinga, saya sepakat untuk merasa jenuh karena mendengarkan lagu Despacito secara berulang-ulang. Bagaimana dengan anda?

(kpl/ntn)

Editor:   Natanael Sepaya