Andreas Oktaviandi, Siswa yang Tidur di Ruang OSIS SMK Setelah Diusir dari Kontrakan

Rahmi Safitri | Senin, 09 September 2019 16:05 WIB
Rahmi Safitri | Senin, 09 September 2019 16:05

Kapanlagi.com - Pernah dengar ada siswa yang menginap di ruang OSIS? Dia adalah Andreas Oktaviandi Tampubolon (16), salah satu siswa di SMK Widyagama Kota Malang. Kisahnya belakangan ini menjadi pembicaraan dan viral di media sosial.

Remaja yang duduk di kelas 10 itu memiliki semangat pantang menyerah, walau harus menghadapi banyak persoalan. Andreas mengalami kesulitan tempat tinggal dan terkatung-katun. Namun karena semangat bersekolahnya tinggi ia rela pindah-pindah tempat tinggal selama sekitar 2,5 bulan terakhir.

Setelah sempat tinggal dari satu karib ke karib lainnya, Andreas kini tinggal di ruangan OSIS sekolahnya, demi mempertahankan agar tetap bisa bersekolah. Sabtu (7/9), Merdeka.com berkesempatan bertanding ke sekolahnya di Jalan Borobudur Kota Malang.

1 Dari 7 Halaman

1. Kegiatan Sehari-Hari Andreas

Andreas menempati sebuah kasur di pojok dalam ruangan sekitar 5 meter x 4 meter. Tepat di tengah-tengah, terdapat meja sekolah yang dikelilingi beberapa kursi. Sebuah lemari arsip dari besi dimanfaatkan sebagai tempat buku pelajaran dan beberapa potong pakaian sekolah. Tas hitam bertumpuk di sela antara lemari dan tempat tidur.

Beberapa sisi ruangan digunakan untuk menyimpan piala dan sebuah sepeda angin. Ruangan tersebut juga dipenuhi buku dan Novel yang beberapa dipinjami teman-temannya.

"Kalau pagi ya mandi, sarapan, cuci baju, main game, main sama temen-temen, ke teman pulang jam 5-an, terus mandi. Gitu-gitu lah," kata Andreas yang mengaku penyuka baca komik itu penuh senyum.

2 dari 7 halaman

2. Dibawakan Makanan

Gaya Andreas penuh keceriaan, beberapa kali sumringah tersenyum saat mendapat pertanyaan yang dianggapnya lucu. Ia seolah tanpa beban menceritakan perjalanan yang memang harus dilaluinya. Teman-teman sekolahnya yang kompak, berusaha mencarikan alternatif tempat tinggal bagi Andreas. Hingga kemudian menyarakan untuk tinggal di ruang OSIS sekolahnya.

Tidak hanya itu, teman sekelasnya pun hampir setiap hari mengunjunginya dengan membawakan makanan secara bergiliran. Selain belajar bersama dan sekedar menemaninya untuk bermain dan bercanda. "Awalnya kan minta tolong cari-cari tempat tinggal ke teman, mungkin untuk satu bulan, tapi sekolahan mengajak tinggal di sini," katanya.

3 dari 7 halaman

3. Diusir dari Rumah Kontrakan

Diusir dari Rumah Kontrakan Andreas Oktaviandi © KapanLagi.com®/Darmadi Sasongko
Jauh sebelumnya, Andreas sempat terusir dari rumah kontrakan yang pernah ditinggali bersama kedua orang tuanya. Sejak itu hidupnya harus nebeng dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

Andreas sendiri sejak pertengahan kelas 3 SMP ditinggalkan sendirian oleh kedua orangtuanya yang tengah menghadapi persoalan keuangan. Seorang diri, harus tinggal di kontrakan menyelesaikan persoalan hidupnya.

"Saya kan SMP-nya Kartika, tinggalnya di Wendit, Tirtomoyo, kemudian lulus ditinggalkan orang tua. Kontrakan habis dikeluarin sama yang punya kontrakan," kisahnya.

4 dari 7 halaman

4. Dapat Pekerjaan

Andreas pun sempat ikut seorang karib yang mengajaknya bantu-bantu dengan bayaran ala kadarnya. Tugasnya membuatkan kopi dan membersihkan komputer, yang sekaligus memberikan bekal ilmu. Andreas tetap tegar dan semangat menjalani hidup walau dengan ala kadarnya. Baju dan buku selalu melekat di tubuh dalam tas hitamnya.

"Saya minta izin ke teman, rumahnya bisa ditinggali atau tidak. Terus kakaknya (temannya) ngajakin bekerja, ngasih makan dan tidur sambil ngajak bekerja bikin kopi, bersihkan laptop, nganterin laptop," kisahnya.

5 dari 7 halaman

5. Teman Ikhlas Membantu

Teman Andreas, Adinda Restika Putri mengatakan, teman-teman sekelasnya kompak memberi dukungan. Semua berusaha membantu saat mengetahui Andreas tidak memiliki tempat tinggal.

"Semua support, sekelas, satu sekolah kompak, sering main ke sini juga, bawa makanan atau apalah, ngajak main," kata Adinda.

6 dari 7 halaman

6. Kata Kepala Sekolah

Kepala SMK Widya Gama Malang, Mawan Sulyadi mengatakan, teman-temannya memiliki kepedulian, terbukti berusaha mencarikan tempat tinggal dan mengantarkan ke sekolah. Gara-gara temannya itu juga, akhirnya kondisi Andreas bisa terdeteksi oleh sekolah.

"Kondisi mental anak ini kuat, meskipun saya sendiri menyampaikan ini terharu. Anak seusai itu tetapi sudah mampu mengatasi permasalahan hidupnya yang terkadang kita bayangkan selaku orang tua atau guru, ini mustahil. Akan tetapi selama perjalanan tidak terpancar wajah susah, menyimpan ribuan masalah. Dia enjoy dalam proses pembelajaran dan sosialisasi dengan teman-temannya," ungkapnya.

7 dari 7 halaman

7. Masih Berhubungan dengan Orangtua

Sementara waktu, Andreas tinggal di ruangan OSIS sampai mendapatkan asrama atau tempat tinggal yang tepat. Beberapa orang sudah menawarkan untuk membantunya.

"Mungkin tidak sampai satu minggu akan kita pindah, tapi sampai hari ini masih di ruang OSIS," tegasnya.

Andreas juga mengaku masih berhubungan dengan kedua orangtuanya, namun karena masih sibuk belum dapat membantunya. Pada saatnya, dirinya yakin akan bersama-sama kembali dan sekarang dirinya ingin konsentrasi menuntut ilmu.

"Pingin mengejar cita-cita, pengennya sih bisa banggakan orang tua," pungkasnya.

(kpl/dar/pit)


Reporter:  

Darmadi Sasongko

TOPIK TERKAIT
 
Join Kapanlagi.com