Jari Jessica Bak Nenek Lampir, CCTV Cafe Olivier Direkayasa?

Arai Amelya | Jum'at, 16 September 2016 10:18 WIB
Jari Jessica Bak Nenek Lampir, CCTV Cafe Olivier Direkayasa?

Kapanlagi.com - Bosan dengan persidangan kasus pembunuhan Wayan Mirna Salihin yang sudah berlarut-larut? Tenang, kamu tak sendiri. Rupanya persidangan yang menjerat Jessica Kumala Wongso sebagai tersangka itu sudah memasuki gelaran ke-21 lho. Dan dalam sidang terbaru, terungkap lagi sebuah pernyataan aneh.

Bermula dari pernyataan Rismon Hasiholan Sianipar selaku ahli digital forensik yang menyebut adanya perbedaan ukuran file CCTV kafe Olivier, TKP di mana Mirna tewas pada 6 Januari 2016 lalu yang dibawa Jaksa Penuntut Umum (JPU). Menurut Rismon, file asli memiliki frame rate 25 fps dengan resolusi 1920x1080 pixel tapi video-video lain di flash disk memiliki frame rate 10 fps dengan resolusi 960x576 pixel.

Jessica dan pengacaranya, Otto Hasibuan saat sidang © MerdekaJessica dan pengacaranya, Otto Hasibuan saat sidang © Merdeka

"Reduksi frame rate serta dimensi video bisa menyebabkan hilangnya beberapa data. Bisa saja, harusnya ada gambar apa, misalkan tangan atau apa yang seharusnya ada menjadi kabur atau hilang sama sekali. Perbedaan resolusi frame dari CCTV dan di flash disk mengindikasikan adanya manipulasi data video," papar Rismon.

Percaya diri, Rismon pun menilai modifikasi barang bukti rekaman CCTV kafe Olivier dilakukan dengan teknik primitif karena membuat dimensi frame lebih kecil. "Menurut keilmuan saya, indikasi direkayasa sangat kuat. Ini hasil temperinr, jari kelingking Jessica hampir sama dengan jari lainnya, perlu dibuktikan di dunia nyata. Bentuk tangan dan sebaran jari-jarinya terlalu melebar dan panjang seperti kuku nenek lampir."

Foto kenangan Jessica - Mirna saat masih kuliahFoto kenangan Jessica - Mirna saat masih kuliah

Namun apa yang dipaparkan Rismon ini justru disanggah oleh pakar telematika berkumis favorit kamu, pak Roy Suryo. Roy menilai keterangan Rismon banyak kesalahan karena analisisnya merupakan data sekunder, bukan primer. Di mana Rismon menganalisis video yang diambil dari beberapa tayangan TV, seperti dilansir Merdeka.

"Kalau soal gerakan tangan seperti telunjugn panjang dan perubahan ukuran gambar, itu bisa saja terjadi. Sebab rekaman yang diambil TV itu berada dalam posisi yang miring. Ada distorsi, ada faktor layar dan banyak sekali sehingga bisa dikatakan jarinya jadi terlalu panjang. Intinya kesaksian dia ngaco, dia kan nggak pegang datanya," tutup Roy. Hmm, gimana menurutmu? (mdk/aia)

Editor :   Arai Amelya

Topik Terkait

Join Kapanlagi.com