Kisah Anak Tukang Becak yang Lulus S3 di ITS Surabaya Ini Akan Membuatmu Tersentuh

Sanjaya Ferryanto | Selasa, 10 September 2019 11:01 WIB
Sanjaya Ferryanto | Selasa, 10 September 2019 11:01

Kapanlagi.com - Kisah inspiratif ini mungkin akan menggetarkan hatimu. Lailatul Qomariyah adalah seorang mahasiswi yang menuntut ilmu di Institut Tekhnologi Sepuluh November (ITS) Surabaya. Dirinya berhasil lulus dengan gelar doktor.

Yamg membuat cerita ini inspiratif adalah karena Lailatul berasal dari keluarga sederhana. Sang ayah, Saningrat (43) dan istrinya Rusmiati (40) berasal dari Dusun Jinangka, Desa Teja Timur, Kecamatan Pamekasan, Kabupaten Pamekasan dan sehari-harinya bekerja sebagai penarik becak dan juga buruh tani.

Sang ayah pun menceritakan bagaimana sang anak bisa menyelesaikan pendidikan hingga tingkat S3. Diketahui jika Lailatul memang seorang anak yang cerdas sejak Sekolah Dasar, padahal Saningrat tak pernah berikan pendidikan khusus apapun kepadanya.

"Setelah lulus SD, anak saya mendaftar di SMP negeri. Alhamdulillah diterima di SMPN 1 dan SMPN 4 Pamekasan. Namun, pilihannya jatuh ke SMPN 4 Pamekasan. Saya tidak tahu mengapa Lailatul memilih SMPN 4 Pamekasan," ujar Saningrat saat ditemui di kediamannya, Minggu (8/9/2019) seperti dilansir Kompas.

1 Dari 2 Halaman

1. Sempat Dicibir

Sempat Dicibir Saningrat © Kompas.com
Lailatul sendiri memang dikenal kutu buku hingga sering meraih ranking 1 di sekolah. Itulah yang mengantarkan dirinya diterima di 2 perguruan tinggi terkemuka di Surabaya, yaitu Unair dan ITS. Namun pilihan akhirnya jatuh ke ITS.

Sempat dicibir tetangga, Lalilatul justru menjadikan hal tersebut motivasi. Tekadnya sudah bulat untuk dapat kuliah di Surabaya. "Bapak dan ibu tidak perlu kawatir soal biaya kuliah saya. Semoga saya mendapatkan rezeki sampai lulus," tutur Saningrat.

Selama berada di Surabaya, Lailatul bertahan hidup dengan mengisi les privat dari rumah ke rumah. Bahkan dari pendapatannya tersebut, dirinya masih bisa mengirim uang ke orangtuanya. "Seingat saya, saya hanya mengeluarkan biaya Rp 10 juta untuk beli motor dan Rp 6 juta untuk beli laptop Lailatul. Selain itu, saya lebih sering dikirimi uang oleh Laila untuk modal bertani," ujar Saningrat.

2 dari 2 halaman

2. Tak Minder

Berlatar belakang anak tukang becak justru tak membuat Lailatul minder. Justru hal itulah yang yang membuat semangatnya terpacu untuk bisa lebih baik bagi keluarganya.

"Saya anak orang miskin, tapi saya tidak minder. Yang saya butuhkan adalah semangat orangtua, doa orangtua, dan kesabaran orangtua. Hasilnya saya petik saat ini dan untuk masa depan saya," ungkapnya.

(kpl/frs)


Editor:  

Sanjaya Ferryanto

TOPIK TERKAIT
 
Join Kapanlagi.com