Kisah Inspiratif, Bangkitkan Kembali Habitat Satwa yang Goyah Diterpa Pandemi

Editor KapanLagi.com | Minggu, 29 November 2020 13:44 WIB
Kisah Inspiratif, Bangkitkan Kembali Habitat Satwa yang Goyah Diterpa Pandemi

Kapanlagi.com - Jauh sebelum pandemi, Mini Zoo Jogja Exotarium yang terletak di Jalan Magelang km. 8 Yogyakarta ini menjadi salah satu tempat wisata edukasi pengetahuan tentang satwa yang selalu menarik untuk dikunjungi. Setiap harinya orang-orang bergembira berinteraksi dengan berbagai macam hewan di sana. Namun rupanya, tahun 2020 menjadi ragam persoalan yang luar biasa lantaran masyarakat mendapatkan ujian keprihatinan wabah penyakit covid-19.

Tentu saja, wabah ini menjadi kabar tak mengenakkan bagi habitat satwa di Mini Zoo Jogja Exotarium. Hilangnya wisatawan tentu saja memukul pemasukan dana operasional mini zoo. Tak tanggung-tanggung jika pengelola memutuskan untuk merumahkan pekerja, sampai tempat yang dirasa surga bagi para satwa harus rela menerima kenyataan merasakan krisis pakan. Hal inilah yang kemudian membuat pengelola dipaksa memutar otak demi satwa tetap terjaga.

Seperti kisah Akbar Taruna, pengelola Mini Zoo Jogja Exotarium Education Center yang tengah survive bangkitkan kembali habitat hewan lantaran goyah diterpa pandemi. Bahkan, dirinya juga merasa megap-megap saat harus menghidupi hewan tanpa adanya kunjungan wisatawan.

1. Goyah di Terpa Pandemi

Rupanya, awal Maret menjadi mimpi buruk bagi Akbar lantaran mini zoo yang sudah dibangunnya sejak 3 tahun terakhir harus rela terdampak covid-19. Tentu saja hal ini juga menimbulkan masalah baru bagi para satwa penghuni mini zoo. Hilangnya pemasukan utama mini zoo dari tarif tiket masuk yang dikenakan kepada pengunjung yang datang merupakan penyebabnya. Disisi lain, demi membantu program dari pemerintah pusat dan daerah untuk menekan laju penyebaran covid-19, Akbar yang sekaligus berprofesi menjadi dokter hewan memutuskan memberhentikan mini zoo beroperasi pada pertengahan Maret lalu.

"Puncaknya itu tanggal 15 Maret dimana biasanya pengunjung mencapai seribu orang, pada saat itu hanya ada seratusan orang saja. Akhirnya, pada tanggal 22 Maret, saya memutuskan tidak menerima wisatawan," ungkap Akbar.

Kepada Kapanlagi.com, Akbar menyampaikan rasa pedih sekaligus masa sulit saat berjuang menjaga satwa agar tetap terawat meski goyah diterpa pandemi. Selain itu, Akbar juga memikirkan puluhan nasib karyawan yang bergantung hidup pada mini zoo tersebut. Namun kenyataannya, kondisi dana operasional yang semakin menipis membuat Akbar dengan berat hari merumahkan separuh lebih karyawannya.

"Dengan berat hati, pada 1 April 2020, saya memutuskan untuk merumahkan para pekerja mini zoo. Dari total pekerja 60 orang, hanya tersisa 25 orang," lanjutnya.

Meskipun dihadapkan dengan pilihan yang sulit, namun tentu saja Akbar harus memilih mana yang jadi prioritas utamanya. Ia juga mengungkapkan, yang terpenting saat itu ialah mempertahankan dan merawat satwa seperti keadaan normal.

2. Nasib Satwa Saat Pandemi

Tidak bisa dipungkiri jika dampak covid-19 telah menghantui dari segala macam lini hingga menyebabkan sederet kerugian. Begitu pula gambaran yang dirasakan oleh Akbar saat dihadapkan dengan nasib 300 lebih satwa di mini zoo miliknya.

Sebab, pengelolaan mini zoo juga jelas berbeda dengan bisnis atau perusahaan. Ketika sebuah bisnis ditutup, maka mereka bisa tutup total. Tetapi, mini zoo tetap harus survive lantaran satwa harus terus diberi makan, dirawat dan tidak bisa di stop lantaran menyangkut nyawa makhluk hidup.

"Pokoknya, saya punya prinsip jika saat ini satwa yang paling diutamakan," ucap Akbar.

Nasib satwa saat pandemi juga mengalami beberapa perbedaan. Jika biasanya satu karyawan biasanya fokus urus satu kandang, semenjak pandemi mengharuskan satu orang urus tiga kandang. Bahkan, ketika harus menghemat pengeluaran pakan, ada beberapa jenis hewan yang terpaksa dilepas liarkan untuk mencari pakan.

"Sampai-sampai ketika kondisi benar-benar tidak ada pengunjung, semua hewan seperti kuda, kambing, sapi saya lepas liarkan di lapangan dari jam 9 pagi sampai jam 12 siang," sambungnya.

Dijelaskan pula oleh Akbar jika biaya pakan satwa-satwanya tersebut tidak murah. Apalagi terhitung sejak April hingga Juli mini zoo benar-benar berhenti beroperasi. "Setiap bulannya, saya menghabiskan 35 juta hanya untuk pakan satwa. Belum lagi hewan-hewan seperti ular itu harus mengonsumsi daging yang tentu nggak murah".

Meski dihadapkan dengan persoalan pandemi yang begitu berat, Akbar terus berupaya mencari cara supaya satwanya tidak kelaparan dan berjalan normal.

3. Melakukan Penggalangan Dana

Nasib satwa di mini zoo seluas 9 hektar ini harus kembang kempis karena tidak adanya wisatawan yang menjamin pakan mereka. Bahkan, dana untuk pakan satwa hanya mampu bertahan selama 1 setengah bulan saja semenjak tidak adanya pengunjung. Kekhawatiran inilah yang membuat Akbar memberanikan diri melakukan penggalangan dana untuk ratusan satwa tersebut.

"Setelah dihitung-hitung, dana operasional pakan satwa hanya mampu bertahan selama 1 setengah bulan saja. Mau tidak mau, melakukan penggalangan dana saat itu menjadi pilihan utamanya. Semua kolega, kampus, hingga dinas setempat memberikan banyak bantuan dan menyelamatkan nasib satwa di tengah pandemi," cerita Akbar.

Akbar juga kembali menekankan jika semua donasi berupa uang dan pakan murni untuk kebutuhan satwa. Meski begitu, Akbar juga menuturkan jika tak ingin berlama-lama menggantungkan pada donasi. Perlahan-lahan pun ia mulai bangkit dan mencoba mandiri.

4. Mulai Bangkit

Sejak mendapatkan izin untuk dibukanya kembali mini zoo, tentu saja ada sedikit angin segar bagi Akbar. Pasalnya, hal tersebut juga akan berdampak pada ratusan satwa dan puluhan pekerja lainnya. Meski belum sepenuhnya pulih, namun Akbar sedikit bernapas lega dengan para wisatawan yang mulai berdatangan di era new normal ini.

"Sejauh ini belum maksimal, kalau di hari tanpa pandemi, pengunjung mini zoo bisa mencapai ratusan orang tiap harinya. Namun, selama dibukanya kembali mini zoo hanya 30 sampai 50 orang saja," ungkap Akbar ceritakan kondisi mini zoo-nya kini.

Kabar baiknya, puluhan pekerja yang dirumahkan, beberapa sudah bisa kembali bekerja. Kapanlagi.com juga berkesempatan mewawancarai Dodi Arifudin, salah satu pekerja yang sempat dirumahkan.

"Saya sempat dirumahkan selama 3 bulan. Tapi saya sangat bersyukur bisa kembali bekerja lagi. Semoga teman-teman yang diberhentikan, bisa kembali bekerja di sini dan wisatawannya semoga segera stabil," harap Dodi.

Untuk menarik kembali minat wisatawan, Akbar berencana untuk membuka wisata malam bernuansa alam dengan menambahkan beberapa spot selfie dan beberapa satwa lainnya. Meski tengah dihadapkan dengan pandemi, Mini Zoo Jogja Exotarium menjalani ketat protokol kesehatan dengan cek suhu, taat menggunakan masker, serta menyediakan banyak tempat untuk cuci tangan. Dengan begitu, diharapkan pengunjung juga tetap aman berada di lokasi dan berinteraksi langsung dengan satwa.

(kpl/dtm)

Editor:   Dita Tamara

Join Kapanlagi.com