Kisah Menarik 2 Pilot Wanita Penakluk 'Burung Besi' di Malang

Galuh Esti Nugraini | Rabu, 02 Oktober 2019 14:35 WIB
Galuh Esti Nugraini | Rabu, 02 Oktober 2019 14:35

Kapanlagi.com - Letda Pnb Anisa Amalia Octavia (25) dan Letda Pnb Mega Coftiana (24) memiliki profesi tidak lazim bagi kaum hawa. Kedua dara muda ini sama-sama sebagai pilot si 'pengendali burung besi' di lingkungan militer.

Anisa menjadi pilot untuk pesawat angkut berat jenis Hercules, sementara Mega pilot pesawat angkut ringan jenis Cassa. Usai lulus Akademi Angkatan Udara (AAU) tahun 2017 dan Sekolah Penerbang (Sekbang), masing-masing ditempatkan di Skuadron Udara 32 (Hercules) dan Skuadron Udara 4 (C-212) Pangkalan Udara (Lanud) Abdulrachman Saleh Malang.

"Terbang semuanya sama. Cowok-cewek sama. Instruktrur juga memperlakukannya sama," tegas Mega tentang profesi tak lazimnya saat ditemui di Lanud Abdulrachman Saleh Malang, Selasa (1/10).

"Pesawat tidak memilih gender, dia emergency, trouble kan nggak milik cowok atau cewek yang mengendarai. Kita diperlakukan sama untuk pembinaannya di sana," sahut Anisa di sampingnya.

1 Dari 5 Halaman

1. Pilot Wanita Dituntut Sama

Pilot Wanita Dituntut Sama (credit: Kapanlagi.com/Darmadi Sasongko)
Jenis kelamin bagi keduanya bukan persoalan selama belajar dan bekerja, kendati memang lingkungan profesinya didominasi para pria. Keduanya juga tidak mungkin mendapatkan dispensasi di lingkungan profesi yang menuntut kemandirian dan disiplin tinggi.

Kali pertama AAU menghasilkan pilot perempuan. Keduanya masuk tahun 2013 dan lulus 2017, bersama 123 orang lulusan lain seangkatannya. Dari 125 lulusan, 12 orang di antaranya perempuan termasuk Anisa dan Mega.

Tiga tahun menempuh pendidikan AAU, keduanya mengikuti KIBI (Kursus Intensif Bahasa Inggris) dan tes Sekbang bersama 10 perempuan lulusan lainnya. Namun hanya Anisa dan Mega yang lulus tes, dan berhak mengikuti tahapan pendidikan lanjutan yang ditempuh selama 18 bulan.

Masing-masing mendapatkan latihan dasar penerbangan dengan menggunakan pesawat grop, pesawat latih jenis TP-120. Selanjutnya dilakukan penjurusan antara fix wing (pesawat) atau rotary wing (hellycopter).

"Kami berdua dapat fix wing. Latihan selanjutnya menggunakan pesawat KT1B yang warna merah itu," tegas Mega.

2 dari 5 halaman

2. Pengalaman Pertama Terbangkan Pesawat

Anisa dan Mega memiliki pengalaman unik saat awal menerbangkan pesawat angkut masing-masing. Karena sebelumnya, selama latihan mereka hanya menggunakan pesawat latih yang tidak butuh tenaga besar.

"Mungkin karena tenaga cewek, ngerasanya berat. Sama sistemnya. Belum biasa seberapanya, masih training juga, saya belum bawa cargo, itu saja terasa berat," kisah Mega.

Pasca terbang pertama, keduanya pun direkomendasi untuk push up dan angkat barbel secara rutin. Sehingga setiap hari, baik bangun tidur dan akan tidur harus mainan barbel.

"Kami pakai yang di Skuadron beratnya sekitar 2,5 Kg, ada ruang fitnesnya. Tangannya ini besar sebelah," kata Mega yang kelahiran Ujungpandang, 6 Maret 1995 itu.

3 dari 5 halaman

3. Berteman Akrab

Berteman Akrab (credit: Kapanlagi.com/Darmadi Sasongko)
Duo pilot Anisa dan Mega mengaku sejak lama bersahabat dan sama-sama lulusan SMA Taruna Nusantara, kendati selisih satu angkatan di atasnya.

Selama 3 Tahun menyelesaikan AAU, keduanya tinggal dalam satu asrama, setahun di Magelang dan dua tahun di DI Yogyakarta. Keduanya juga bersamaan menjalani sekolah penerbang selama 18 bulan dan saat ini pun tinggal bersama di sebuah mess di Lanud Abdulrachman Saleh Malang.

"Saya juga tidak habis pikir (bersama terus), Sudah berapa tahun ya bersama," kata Anisa yang lahir Yogyakarta, 13 Oktober 1994 itu.

"Sudah tahu dia bagaimana, keluarganya bagaimana. Kalau tidur bagaimana," sahut Mega tersenyum.

4 dari 5 halaman

4. Tak Ada Waktu Perawatan

Kesibukan yang hampir sama membuat keduanya menjalani aktivitas banyak bersama-sama. Keduanya pun disibukkan dengan latihan dan berbagai urusan kantor yang menyita banyak waktunya.

Walaupun demikian sebagai perempuan memang tetap harus menjaga penampilan, meski tidak seberuntung perempuan di beberapa profesi lain.

"Kalau saat terbang, kalau hari biasa (penampilan) ya sewajarnya. Kalau punya me time itu waktu weekend saja. Itupun disesuaikan kalau tidak ada pekerjaan di kantor. Kita menyesuaikan, tidak bisa kita minta. Pinter-pinter kita ngatur waktu. Perawatan terakhir pas cuti lulus sekolah penerbang kemarin," akunya.

"Apalagi kita ini anytime and anywhere, Sabtu-Minggu tetap bekerja. Kalau saya, sudah beberapa tahun lalu (perawatan). Kalau nanti sudah punya adik (junior), mungkin akan banyak waktunya," tambah Anisa.

5 dari 5 halaman

5. Nggak Nyangka Jadi Penerbang

Nggak Nyangka Jadi Penerbang (credit: Kapanlagi.com/Darmadi Sasongko)
Baik Mega maupun Anisa tidak pernah menyangka akhirnya memilih AU dan menjadi seorang penerbang. Banyak orang telah mengantarkan perjalanannya hingga suksesnya saat ini.

"Sama sekali tidak ada bayangan menjadi penerbang. Sepengetahuan saya pilot juga kebanyakan cowok. Belum ada lagi penerbang perempuan setelah sekian lama, tidak kepikiran," kata Mega.

Mereka merasa bangga dapat membuat orang-orang di sekitarnya ikut berbangga. Tetapi memang perjalanan dirasakan masih sangat jauh dan baru sebuah awal perjalanan.

Anisa dengan statusnya sebagai pilot muda, baru menempuh 6 Shorty penerbangan Hercules dengan 8 jam terbang. Begitu pun Mega menempuh 17 Shorty penerbangan Cassa dengan menempuh 19 jam terbang.

(kpl/dar/gen)


Reporter:  

Darmadi Sasongko

Join Kapanlagi.com