Kronologi Rhesa Haryo Wicaksono Mahasiswa UB Malang Terkena Virus Corona, Kini Sudah Dinyatakan Sembuh dari Covid-19

Minggu, 05 April 2020 07:38 WIB
Minggu, 05 April 2020 07:38

Kapanlagi.com - Rhesa Haryo Wicaksono (22) sudah dinyatakan sembuh dari infeksi Covid-19 oleh Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA), tempatnya dirawat setelah terkena virus corona. Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (UB) Malang itu sudah kembali berkumpul bersama keluarga, kendati memang masih harus menjalani isolasi mandiri (self isolation) di rumah.

Reporter Merdeka.com berbincang panjang melalui sambungan telepon dengan Rhesa, yang saat ini waktunya banyak diisi untuk kegiatan pemulihan. Kondisinya pun sudah dirasakan kembali normal, dengan nafsu makan dan minum sudah seperti semula, saat sebelum terinfeksi Covid-19.

"Alhamdulillah sudah sehat, cuma memang harus isolasi mandiri. Kalau soal makan, sudah lancar sih, di rumah sakit juga sudah makan secara normal. Sudah normal sih, memang tetep jaga jarak dengan keluarga. Soalnya masih rentan (menular) juga," kata Rhesa mengawali pembicaraan, Rabu (1/4) malam.

1 Dari 5 Halaman

1. Tinggal Bersama Ibu

Saat ini Rhesa yang sedang menempuh semester akhir tinggal bersama ibu dan keluarga yang disayanginya. Ia memegang protokol kesehatan yang disarankan dokter yang merawatnya dengan menjaga jarak.

Waktunya digunakan untuk berolahraga dan mengerjakan skripsi yang dua minggu sempat ditinggalkan, karena dirawat di rumah sakit.

"Kalau di rumah ya aktivitas biasa, pagi makan, kan dari rumah sakit menganjurkan berjemur, jam 10 itu berjemur. Habis itu turun, keringetan, mandi. Kan kebetulan saya kan mahasiswa semester terakhir. Ngerjain skripsi, dicicil lah. Lumayan, kan sempat tertunda dua minggu," jelasnya.

2 dari 5 halaman

2. Kronologi Terinfeksi Virus Corona

Hingga saat ini, Rhesa mengaku tidak pernah mengetahui dari mana asal pastinya virus corona di tubuhnya. Ia tidak mengetahui sumber penularannya secara pasti, kecuali hanya menduga-duga.

Awal yang dirasakan hanya suhu tubuhnya panas dan demam sekitar dua minggu. Ia menduga hanya demam biasa, sehingga hanya meminum parasetamol.

"Virusnya ketularan dari mana nggak tahu sebenarnya dari mana. Cuma gejala awal yang muncul itu demam. Saya kira demam biasa, ya saya kasih parasetamol. Sempat turun panasnya, cuma kemudian naik lagi. Kondisi kayak gitu berjalan selama dua minggu," kisahnya.

3 dari 5 halaman

3. Diduga Thypus atau Malaria

Diduga Thypus atau Malaria
Setelah dua minggu kemudian muncul radang tenggorokan, sebelum kemudian diperiksakan ke dokter. Periksa awal, Resha datang ke seorang dokter yang praktek di Jalan Bengawan Solo.

Awalnya dokter juga menduga hanya gejala thypus atau malaria, sehingga disarankan untuk tes ke laboratorium. Tetapi ternyata hasilnya hasil laboratorium, baik thypus dan malaria sama-sama negatif.

"Saya diantar om. Kondisinya demam tinggi, karena radang itu. Tapi kondisi masih bisa jalan sendiri," katanya.

4 dari 5 halaman

4. Ada Flek di Paru-Paru

Kemudian dokter memberi parasetamol dengan dosis agak tinggi, tetapi dua hari tidak juga membaik, sehingga kembali ke dokter lagi. Dokter meminta untuk rongent paru-paru (thorax) dan hasilnya ditemukan flek di paru-paru kanan yang sudah mulai menumpuk. Sementara paru-paru sebelah kiri fleknya lebih sedikit.

Dokter pun menyarankan untuk rawat inap (opname), sehingga tanggal 7 Maret masuk di Rumah Sakit Panti Nirmala. Kemudian pada tanggal 10 Maret Rhesa masuk ICU, dan keesokan harinya dirujuk ke Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA).

"Fleknya itu bukan muncul lama sih, baru-baru itu munculnya. Dugaan awal, fleknya itu ya virus itu. Tapi tidak tahu itu infeksi paru-paru atau covid itu," katanya.
5 dari 5 halaman

5. Isolasi di Ruang Steril

Setelah dirujuk ke RSSA, Resha awalnya masuk ke ICU, sebelum dipindahkan ke ruang steril untuk isolasi. Kondisi yang dirasakan saat itu sesak nafas sejak di rumah sakit sebelumnya, sehingga harus dibantu oksigen.

"Pertama masuk situ semalam. Baru dipindah ke ruang isolasi. Kondisi panasnya sudah turun, sudah berangsur turun. Radang masih ada. Sama tambah susah napas, terutama kalau berjalan. Kalau berbaring sih normal," ungkapnya.

Resha menjalaninya total perawatan selama 11 hari, sejak 11 Maret 2020. Hari pertama, dokter pun melakukan tes laboratorium dengan mengambil sample swab (air liur dan cairan hidup), darah, urine dan dahak.

"Di ruang isolasinya sendiri. Itu ruang untuk yang Covid itu, kalau sebelumnya biasa yang buat pneumonia, itu buat Covid, mungkin karena gejalanya sama. Dipakai di situ," katanya.
 
"Ada 4 sampai 5 kamar sih. Satu kamar untuk satu orang, kayak kamar biasa, cuma kasur. TV nggak ada, soalnya memang untuk ruangan pasien yang sudah parah sih. Tapi, alhamdulillah untuk bantu napas masih cukup pakai masker, tidak sampai yang pakai ventilator," sambungnya.

Saat itu Rehsa merasakan benar-benar sendiri, karena memang komunikasi dengan perawat sangat terbatas. Komunikasi hanya saat perawat masuk mengontrol saja, karena memang ruangannya terpisah.

"Soalnya kalau mau masuk ke ruangan pasien itu juga harus pakai APD lengkap. Diajak ngobrol sih. Kalau dokter, ada beberapa harus memasukkan obat lewat injeksi. Tapi beberapa dokter spesialis memantau lewat CCTV. Baru dipasang CCTV pas saya masuk itu," katanya penuh canda.

(kpl/dar/phi)

 

Join Kapanlagi.com