Sosok Fachrul Alamsyah, Gandeng Preman Kampung Berbagi Ilmu

Sanjaya Ferryanto| Selasa, 25 Februari 2020 20:00 WIB
Sanjaya Ferryanto | Selasa, 25 Februari 2020 20:00

Kapanlagi.com - Puluhan anak berlarian menenteng buku yang baru dipilih dari rak kaca mobil baca. Secara berkelompok, mereka mencari tempat paling nyaman untuk membuka buku di tangannya itu.

Satu anak hanya boleh mengambil dua buah buku kesukaan, tetapi setelah dikembalikan dibolehkan memilih buku lain. Beberapa kali anak-anak diminta tertib dan memperlakukan buku secara baik, maklum namanya anak-anak.

Di atas alas karpet hijau, anak-anak membuka bukunya sambil berdiskusi dengan teman sebayanya. Beberapa orang dewasa menunggui di sampingnya, sambil sesekali ikut nimbrung dalam pembicaraan. Gubuk berukuran sekitar 4 Meter X 5 Meter itu dipenuhi anak-anak bergerombol yang asyik dengan bukunya masing-masing.

Sebenarnya disediakan tiga buah meja, fasilitas dari mobil Kamis Membaca (KaCa) dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang saat itu berkunjung ke gubuk baca. Tetapi anak-anak nampaknya lebih asyik duduk lesehan beralas karpet. Sementara meja tersebut lebih banyak digunakan para orang tua pengantar yang sebagian juga turut nimbrung membaca buku.

Gubuk tempat anak-anak membaca itu pun sejatinya sebuah gudang milik bengkel di sampingnya. Tetapi setiap kali dibutuhkan untuk kegiatan, barang-barangnya cukup dipinggirkan saja.

Pemuda kampung setempat yang sering nongkrong di bengkel secara cekatan akan menyiapkan lokasi menjelang kegiatan. Mereka adalah para pemuda penggagas gubuk baca yang kemudian diberi nama Gubuk Baca Trail.

Nama Gubuk Baca Trail diambil dari mimpi mencetak anak-anak dampingan di situ menjadi atlet trail sepeda BMX. Selain para pemuda-pemuda itu sebagian memiliki hobi trail.

Kami mulai bergerak dari bakat minat. Ada lahan untuk sirkuit BMX, jadi harapan ke depan semoga suatu saat ada adik adik yang bisa menjadi atlit sepeda BMX," kata Dony Windiarto, pendamping Gubuk Baca Trail.

Sebanyak 22 Gubuk Baca tersebar di Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang dan berjejaring dalam rangka menghidupkan dan mengembangkan pendidikan literasi.

1 Dari 3 Halaman

1. Punya Presiden Republik Gubuk Baca

Punya Presiden Republik Gubuk Baca Kapanlagi/Darmadi Sasongko
Adalah Fachrul Alamsyah penggagas Republik Gubuk Baca yang kemudian oleh komunitasnya dipanggil Presiden Republik Gubuk. Awalnya Irul, demikian biasa dipanggil, mendirikan Gubuk Baca Lentera Negeri, sebelum kemudian berjejaring dan pendampingan membangun gubug baca lain.

Sebanyak 22 gubuk baca Berjejaring dan setiap gubuk baca memiliki base berbeda, seperti Gubuk Baca Anak Alam, Gubuk Baca Pentongan Mindi, Gubuk Baca Kampung Texas, Gubuk Panji, Gubuk Kampung Treteg, Gubuk Sufi dan lain lain.

Gubuk baca tersebut merupakan inisiatif para pemuda setempat berikut latar belakang masing-masing. Sehingga memang selalu terwadahi dalam dunia masing-masing.

"Ini menjadi pintu gerbang pemberdayaan masyarakat lewat gerakan literasi melalui gerakan gubuk baca. Konsepnya pemberdayaan. Masyarakat yang menjadi pelaku pergerakan, agen perubahan di kampung-kampung. Jadi tidak hanya literasi tentang membaca, akhirnya gubuk baca ini menjadi titik pintu gerbang perubahan lingkungan, budaya keagamaan , pendidikan seni dan sebagainya," kata Fachrul Alamsyah.

2 dari 3 halaman

2. Preman Mengajar

Preman Mengajar Kapanlagi/Darmadi Sasongko
Uniknya, Republik Gubuk memiliki program bersama yang disebut dengan Preman Mengajar. Karena memang hampir semua gubuk baca penggeraknya adalah para preman kampung yang jumlahnya mencapai hampir seratus orang.

Latar belakang kehidupan bermacam-macam dan kelam, kendati tidak menyurutkan untuk berkembang bersama-sama masyarakat.

"Macam-macam, ada yang dulu dari penampilannya gondrong bertato, pemabuk, peminum, suka tawuran, pernah kerja di hiburan malam, suka berkelahi. Dalam tanda petik, mereka Preman Kampung yang energinya besar banget, militansi, loyalitas dan solidaritasnya kuat banget. Potensi besar kalau diarahkan ke positif," katanya.

Lewat Republik Gubuk Baca kemampuan para preman kampung tersebut diidentifikasi dan disalurkan sesuai dengan bakat dan minat. Sehingga kegiatannya terbentuk lebih banyak dari dasar kemampuan masing-masing pendamping.

"Hampir semua penggeraknya preman kampung, pemuda yang energinya berlebih. Mereka dulunya di kampung tidak dipandang, akhirnya sekarang mengasuh adik-adik di gubuk baca, akhirnya mendampingi belajar, bimbingan belajar, ngaji, kemudian kita kumpulnya dalam wadah Preman Mengajar," kisahnya.

Mereka berkeliling ke gubuk-gubuk mendampingi belajar adik-adiknya, bahkan mengajar di beberapa sekolah tentang pengenalan seni budaya topeng Malangan. Dicontohkan, seorang pendamping mempunyai bakat seni kuat, yang dulunya tukang tato dan punya kemampuan mengukir. Kemudian diarahkan menjadi seorang pengukir topeng Malangan.

"Saat ini pun sudah menjadi guru bagi teman-temannya, bahkan melahirkan pengrajin dan penari topeng yang mengajar tari topeng ke sejumlah sekolah swasta. Sehingga kampanye literasi kita tidak hanya lewat buku, tetapi juga gerakan-gerakan yang dibutuhkan masyarakat," katanya.

Kata Irul, bukan proses yang mudah untuk melibatkan para preman kampung untuk menjadi pendamping. Banyak stereotipe yang melekat, sehingga masyarakat tidak mudah menerima peran mereka.

"Responnya dulu macam-macam, pernah ke sebuah desa malah kita ditolak, dipikir jualan pil koplo. Pustaka keliling dicurigai mau menculik anak, tapi sekarang setelah berjalan beberapa tahun akhirnya masyarakat bisa menerima," kisahnya.

"Tanggapannya, kalau dulu negatif, karena tatoan, gondrong-gondrong, alhamdulillah sekarang mereka sudah bisa menerima, Sudah bukan bungkusnya lagi tetapi melihat kemampuannya. Ini yang kita anggap luar biasa," sambungnya.

Gerakan ini pun kata Irul, akhirnya mempunyai muara program yakni untuk anak-anak, pemuda dan masyarakat. Anak-anak jelas sebagai objek yang didampingi, sementara pemuda pengasuhnya yang memiliki passion macam-macam, dari seni musik, budaya dan olahraga harus tergali dan bermanfaat.

Begitupun masyarakat, menjadi kunci bagi partisipan terhadap jalannya kegiatan. Masyarakat yang peduli baik dari pondok pesantren, sekolah atau pun perorangan menjadi kekuatan bagi pergerakan gubuk baca.

"Hasilnya lumayan lah, mereka sudah menjadi guru dan seminggu sekali sudah mau pakai baju lengan panjang, saat mengajar," katanya tertawa lepas.

3 dari 3 halaman

3. Gandeng Kampus dan Pesantren

Gandeng Kampus dan Pesantren Kapanlagi/Darmadi Sasongko
Gubuk Baca menjadi elemen yang terbuka dalam menerima pengaruh positif dari luar, terutama untuk tujuan pemberdayaan dan pendidikan masyarakat. Termasuk yang dilakukan oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) lewat mobil KaCa (Kamis Membaca).

"Kami berharap kampus, seperti UMM ini bisa berkolaborasi dengan kami. Kehadiran mobil pintar ini akan menambah kepercayaan masyarakat pada gerakan yang diinisiasi teman kampung. Karena masyarakat akan berpandangan, ternyata anak-anak bisa mendatangkan kampus, mahasiswa, itu penting banget," jelasnya.

Selain itu juga berkolaborasi dengan pondok pesantren yang memiliki lembaga pendidikan. Lewat kegiatan ekstrakulikuler atau kegiatan pondok lainnya, memberi kesempatan para Preman Kampung itu berbagi pengalaman.

"Ada sekolah Madrasah Aliyah (SMA) yang bisa menerima teman-teman, meskipun gondrong tetapi menjadi guru penari topeng untuk siswanya. Sekarang ngajar tari untuk para santri," sambungnya.

Setiap kegiatan bergerak dengan fasilitas yang serba apa adanya tetapi harus dilandasi sebuah tekad yang kuat. Fasilitas memang bukan sesuatu yang tidak penting, tetapi bukan penghalang yang membuat mereka akhirnya tidak berbuat apa-apa.

(kpl/dar/frs)


Reporter:  

Darmadi Sasongko

TOPIK TERKAIT
 
Join Kapanlagi.com