Trending di Media Korea Selatan, Begini Nasib 14 WNI yang Diperlakukan Seperti Budak di Kapal China

Kamis, 07 Mei 2020 01:35 WIB
Kamis, 07 Mei 2020 01:35

Kapanlagi.com - Belum lama ini, netizen dihebohkan oleh video dari seorang Youtuber bernama Jang Hansol. Pria asal Korea Selatan yang tumbuh besar di Indonesia itu mengulas sebuah pemberitaan dari Media Korea Selatan, MBC News tentang adanya sejumlah warga negara Indonesia (WNI) yang diperlakukan seperti budak alias tidak manusiawi sebagai anak buah kapal (ABK).

Saking sensaionalnya, kabar tersebut bahkan sampai jadi trending di Korea Selatan. Dan setelah ditelusuri, para WNI yang bekerja sebagai ABK itu berada di kapal bernama Long Sing 629 milik Cina.

Kementrian Luar Negeri RI lantas melaporkan jika ada 14 ABK WNI yang bekerja di kapal tersebut. Joedha Nugraha selaku Dirjen PWNI dan BHI Kemlu menjelaskan jika para ABK WNI itu sejatinya ingin kembali ke Tanah Air, namun terkendala akan biaya.

"KBRI kita di Seoul telah berkoordinasi dengan agen kapal yaitu Visco, yang ditunjuk pihak principal yang ada di RRT sejak 16 April 2020 termasuk untuk memfasilitasi ketibaan 14 ABK kita," ungkap Joedha seperti dilansir dari Liputan6.com.

1 Dari 4 Halaman

1. Sedang Jalani Masa Karantina

Sedang Jalani Masa Karantina
Belum lama ini, 14 ABK tersebut mendarat di pelabuhan Busan, Korea Selatan. Seperti peraturan yang telah ditetapkan pemerintahan Korsel, mereka pun harus menjalani masa karantina selama 14 hari lamanya di sebuah hotel di Busan.

Informasi terakhir menyebut jika kepulangan dari 14 ABK WNI tersebut sudah disiapkan, tepatnya pada 8 Mei mendatang. Tanggal itu bertepatan dengan habisnya masa karantina mandiri.
2 dari 4 halaman

2. Jasad Dibuang ke Laut

Jasad Dibuang ke Laut Ilustrasi kapal tenggelam. Ilustrasi: Kriminologi.id
Pada salah satu video yang ditunjukkan media MBC, ada seorang ABK yang meninggal lalu jasadnya dibuang ke laut. Sayangnya ketika penyelidikan hendak dilakukan di pelabuhan, kapal tersebut sudah kembali melanjutkan perjalanan.

Dari kesaksian seorang saksi, sudah ada 4 ABK yang meninggal dunia dalam perjalanan kapal tersebut. Parahnya, jasad mereka semua dibuang ke laut oleh kru kapal. MBC juga menampilkan adanya surat pernyataan dari para ABK yang menyatakan kesediaan mereka untuk dikremasi bila timbul suatu musibah hingga meninggal di tempat kapal itu bersandar.

3 dari 4 halaman

3. Minum Air Laut

Tak cuma sampai situ saja, dari sebuah kesaksian yang ditampilkan MBC, sistem kerja di kapal milik RRT tersebut memiliki kondisi yang tidak layak, termasuk mengeksploitasi tenaga kerja yang ada. Bahkan menurutnya, ABK yang meninggal tersebut sebelumnya sudah sakit selama satu bulan.

"Awalnya keram terus tahu-tahu kakinya bengkak, dari kaki terus nyerang ke badan terus sesak dia," ujar seorang saksi yang ditampilkan MBC.

Keadaan digambarkan lebih parah lagi, ketika ada laporan bahwa air mineral yang dibawa untuk perbekalan di kapal tersebut hanya diminum oleh awak Cina. Sedangkan awak Indonesia hanya diizinkan meminum air laut yang difiltrasi.

"Pusing terus nggak bisa minum air itu sama sekali. Pernah juga sampai kaya ada dahak-dahak di sini," sambung saksi itu.
4 dari 4 halaman

4. Kerja 18 Jam, Gaji Rp 1,7 juta

Kerja 18 Jam, Gaji Rp 1,7 juta
Seorang saksi yang lain mengatakan bahwa jam kerja para ABK tersebut mencapai 18 jam, sementara waktu istirahat hanya 6 jam. Upah yang mereka dapat selama bekerja hingga 13 bulan hanya sekitar US$ 120 atau Rp 1,7 juta. Dengan kata lain, gaji bulanan mereka hanya sekitar Rp 100 ribu.

(lip/gtr)

 

 
Join Kapanlagi.com