Prabowo Subianto

Prabowo Subianto lahir pada tanggal 17 Oktober 1951, dan merupakan mantan Letnan Jenderal di militer sebelum terjun ke dunia bisnis dan politik. Pada pemilihan Presiden 2009, ia menjadi wakil Megawati dalam Pemilu. Pada tahun 2014, ia kembali mencalonkan diri namun kalah dengan Jokowi dengan angka yang cukup tipis.

 

Prabowo adalah putra dari Sumitro Djojohadikusumo, seorang ekonom Indonaia dan Dora Sigar. Prabowo pernah menikah dengan anak kedua mantan President Soeharto, Siti Hediati atau lebih dikenal dengan nama Titiek Soeharto.

 

Karir militer Prabowo bermula di akademi militer Magelang di tahun 1970, dan ia lulus pada tahun 1974. Pada tahun 1976, Prabowo masuk dalam pasukan khusus Indonesia, Kopassus dan ditunjuk sebagai pemimpin Komando Pasukan Sandhi Yudha (Kopassandha). Pasukan tersebut merupakan salah satu pasukan Nanggala yang bertugas di Timor Timur.

 

Saat itu Prabowo baru berusia 26 tahun dan merupakan komandan termuda di pasukan Nanggala. Ia bertugas untuk menangkap wakil presiden Fretilin, yang akhirnya menjadi Perdana Menteri pertama Timor Timur, Nicolau dos Reis Lobato.

 

Pada tahun 1985, Prabowo menjalani pelatihan secara khusus di Fort Banning Amerika Serikat. Pada tahun 1996 Prabowo memimpin operasi Mapenduma di pegunungan Papua. Tujuan dari operasi tersebut adalah membebaskan 11 peneliti yang ditangkap oleh Organisasi Papua Merdeka.

 

Peneliti tersebut terdiri dari lima orang Indonesia, 4 warga Britania Raya, satu orang Belanda beserta istrinya yang tengah hamil. Dua orang Indonesia yang menjadi pemandu dibunuh begitu saja sebelum operasi penyelamatan. Dalam operasi tersebut Prabowo berhasil menyelamatkan sandera meski mendapat kritik bahwa ia menggunakan helikopter putih palang merah untuk menipu pemberontak.

 

Masa-masa terakhir sekaligus puncak tertinggi karir Prabowo terjadi pada tahun 1998. Pada tanggal 20 Maret 1998, ia ditunjuk sebagai komandan dari 27.000 pasukan Kostrad. Pasukan tersebut merupakan pasukan penting yang ditangani oleh Suharto pada tahun 1965.

 

Setelah pergi dari militer, Prabowo bergabung dengan sang adik Hashim Djojohadikusumo untuk berbisnis. Ia membeli Kiani Kertas, satu perusahaan perkebunan dan pengolahan kertas yang berada di Mangkajang, Kalimantan Timur dari Bob Hasan.

 

Kini grup perusahaan yang dikomandani oleh Prabowo memiliki 27 anak perusahaan di Indonesia dan luar negeri. Perusahaan Prabowo termasuk Nusantara Energy (yang bergerak di bidang minyak, batu bara dan gas). Tidar Kerinci Agung (perkebunan kelapa sawit) dan Jaladri Nusantara (perusahaan perikanan).

 

Prabowo mengubah brand Kiani Kertas menjadi Kertas Nusantara, dan menjadi bagian dari Nusantara Energy. Perusahaan yang dibangun pada 1990 itu memiliki area seluas 3,400 hektar yang digunakan sebagai pabrik kertas, perumahan pekerja, sekolah dan berbagai fasilitas perusahaan.

Lebih Lengkap