Pramoedya Ananta Toer
Pramoedya Ananta Toer adalah salah satu satrawan besar yang pernah dimiliki oleh Indonesia. Dilahirkan di Blora, 6 Februari 1925 telah menghasilkan lebih dari 50 karya dan diterjemahkan dalam 41 bahasa asing.

Putra sulung dari M. Toer, seorang kepala sekolah Institut Boedi Oetomo ini mengikuti jejak orang tuanya dengan menjadi guru. Sempat pula bekerja sebagai juru ketik dan korektor di kantor berita Domei (LKBN ANTARA semasa pendudukan Jepang) tetapi kemudian memantapkan pilihan sebagai penulis yang akhirnya melahirkan banyak karya besar.

Sebagai penulis Pramoedya telah menghasilkan artikel, puisi, cerpen dan novel yang melambungkan namanya sejajar dengan para sastrawan dunia seperti Gunter Grass (Jerman), Albert Camus, Jean-Paul Satre (Perancis), Multatuli (Belanda), John Steinbeck (Amerika), Rabindranath Tagore (India), Gao Xinjian (Cina), Gabriel Garcia Marquez (Kolombia), maupun Jose Saramago (Portugis).

Beberapa karya besar dari Pramoedya antara lain TETRALOGI PULAU BURU : BUMI MANUSIA, ANAK SEMUA BANGSA, JEJAK LANGKAH DAN RUMAH KACA, terbit antara 1980 hingga 1988 namun selama beberapa tahun ketika masa orde baru Kejaksaan Agung RI melarang peredarannya.

Pramoedya menerima banyak penghargaan atas karya-karyanya, antara lain dari UNESCO, The Wertheim Foundation (Belanda), Ramon Magsaysay Award Foundation (Filipina), University of Michigan, University of California (AS), Le Ministre de la Culture et de la Communication Republique Francaise (Perancis) hingga Fukuoka Cultural Grand Prize (Jepang).

Karya Pramoedya yang sarat kritik sosial membuatnya keluar masuk penjara. Pada April 2006 kesehatan Pramoedya semakin memburuk. Upaya keluarga untuk merujuknya ke rumah sakit tidak membawa banyak hasil, malah kondisinya semakin memburuk dan akhirnya meninggal pada 30 April 2006 di Jakarta.
Lebih Lengkap