Rachmat Witoelar

 

Ir. Rachmat Nadi Witoelar Kartaadipoetra atau yang biasa dikenal sebagai Rachmat Witoelar merupakan Menteri Lingkungan Hidup Indonesia pada tahun 2004 2009. Ia merupakan putra keempat dari pasangan Raden Achmad Witoelar Kartaadipoetra dan Nyi Raden Toti Soetiamah Tanoekoesoemah yang dilahirkan di Tasikmalaya, Jawa Barat pada 2 Juni 1941.

Rachmat Witoelar menikah dengan seorang wanita bernama Andi Erna Anastasjia Walinono, atau yang lebih dikenal dengan nama Erna Witoelar. Erna Witoelar adalah Menteri Permukiman dan Pengembangan Wilayah pada masa Kabinet Persatuan Nasional (2000).  Pasangan ini dikaruniai 3 orang putra yaitu Aria Sulhan, Surya Cipta, dan Wirya Takwa.

Rachmat Witoelar menyelesaikan pendidikan sarjananya di Jurusan Teknik Arsitektur di Institut Teknologi Bandung pada tahun 1970. Sebelumnya ia adalah lulusan SMA Kolese Kanisius.

KARIR

Selepas menyelesaikan pendidikan arsitektur di ITB, Rahmat Witoelar memutuskan terjun di dunia politik dengan menjadi sekretaris umum Partai Golkar. Hal ini membuka gerbang karirnya untuk berkarya di dunia politik karena tak lama kemudian ia menjadi diplomat. Selama menjadi diplomat ia sempat bertugas di Rusia merangkap untuk Kazakstan, Turkmenistan, dan Mongolia periode 1993 1997.

Setelah menunaikan tugasnya sebagai diplomat, namanya semakin dikenal di dunia politik Indonesia sampai pada tahun 2004, Presiden SBY memanggilnya untuk mengisi posisi Menteri Lingkungan Hidup di Kabinet Indonesia Bersatu Jilid I. sebelum ditempati oleh Rachmat Witoelar, posisi ini diisi oleh Nabiel Makarim.

Jabatan sebagai menteri lingkungan hidup yang diembannya membuatnya semakin fokus untuk mengurusi soal keseimbangan alam dan tata lingkungan. Ia juga mencoba menerapkannya dalam kehidupannya sehari hari dengan menggunakan mobil berteknologi hibrida untuk mengurangi emisi karbondioksida. Ia juga menjadi  Ketua Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI).

Pada saat Kabinet Indonesia Bersatu Jilid I berakhir, posisinya sebagai menteri pun harus berakhir. Ia digantikan oleh Gusti Muhammad Hatta.

 

 

 

Lebih Lengkap