Edo Borne Serba Salah di TRUE LOVE

Editor KapanLagi.com | 21 Juni 2011, 12:03 WIB
Edo Borne Serba Salah di TRUE LOVE
KapanLagi.com -
Oleh: Puput Puji Lestari Memainkan salah satu tokoh dalam novel yang dikagumi, tentu sangat membanggakan. Itulah yang dirasakan Edo Borne yang memainkan tokoh Guntur dalam film TRUE LOVE. Film ini adalah sebuah karya adaptasi sutradara Dedi Setiadi dari novel Cinta Sepanjang Amazon karya Mira W. Namun, Edo sempat merasa serba salah karena kebagian tokoh yang posisinya sulit. Memainkan dua karakter dalam satu tokoh memunculkan pertentangan batin. Lewat sambungan telepon Sabtu, (18/06/2011), Edo memberi penjelasan kepada KapanLagi.com® tentang tokoh sahabat yang berkhianat pada sahabatnya sendiri.
  • Kamu berperan sebagai apa?
    Aku dalam film ini berperan sebagai Guntur. Guntur adalah sahabat Aris, yang diperankan oleh Mario Lawalata. Aris dan Guntur adalah teman sejak kecil. Guntur, anak pembantu bapaknya Aris. Karena usianya sama, mereka tumbuh bersama. Guntur selalu melindungi Aris yang manja. Jadi seperti body guard gitu deh.
  • Tatangan peran kamu?
    Tantangannya adalah sebagai seorang sahabat, Guntur melakukan kesalahan yang seharusnya tidak dilakukan. Masalahnya Guntur sendiri bingung melihat Aris yang sebelumnya selalu gonta-ganti pacar tiba-tiba mau sama satu cewek. Menikah pula, meskipun tidak direstui. Guntur ingin membela Aris, tapi caranya salah. Mereka berdua sama-sama manja. Nah, sementara Guntur nggak pernah pacaran, nggak tahu bagaimana caranya memperlakukan cewek, eh malah (maaf) memperkosa istrinya Aris. Sebagai sahabat kan Aris jelas marah. Inilah pertentangannya, di satu sisi jadi sahabat setia di sisi lain merusak kepercayaan sahabat sendiri.

  • Edo Borne
  • Pesan yang ingin disampaikan?
    Ini sebenarnya mengulas kejadian yang banyak terjadi di masyarakat, namun jarang diangkat. Nah, aku ngambilnya sih bagaimana kesetian dan kejujuran itu diuji. Kita harus bisa melewati ujian tersebut. Nilai moralnya yang bagus.
  • Adegan paling sulit?
    Saat marah, mesti maki-maki Aris. Dan juga menyetubuhi istri Aris, yang diperankan Fanny Fabriana. Pas marah itu saya harus benar-benar keras, karena tujuannya menyadarkan supaya Aris nggak manja terus-terusan. Saya harus jadi tokoh Guntur yang sangat berbeda saat marah.
  • Syuting kamu di mana saja?
    Jakarta dan Bogor. Syuting di Stockholm dan Raja Ampat, Papua, nggak ikut. Scene aku hampir semua sama Mario Lawalata dan Fanny. Nggak sempat bertemu om Alex Komang.
  • Kamu sendiri sudah baca novelnya?
    Ya, aku suka banget sama novelnya. Sebelum ditawari main film ini, aku sudah baca. Kalau baca itu sampai terenyuh terbawa perasaan. Tapi setiap pembaca tentu memiliki presepsi sendiri. Cuma kata-katanya cukup bagus.
  • Ada beban nggak memainkan tokoh di novel?
    Ya beban sih ada, sebelum syuting pas dikasih script aku ngerasa novelnya masih lebih bagus. Tapi sutradara kan membuat karya adaptasi, jadi nggak bisa disamain.
  • Trus cara mengatasinya?
    Mas Dedi sangat terbuka untuk berdiskusi. Jadi memang script-nya disesuaikan dengan pemerannya. Deskripsi tokohnya sama sekali berbeda. Kalau di novel kan Ari itu botak, lha ini Mario ganteng. Makanya untuk tokoh yang kubawakan aku juga banyak tanya ke sutradara. Dikasih kebebasan untuk lebih fleksibel, jadi aku menciptakan karakter Guntur versi baru.
    Agar tetap nyambung, aku sama pemain lain juga banyak ngobrol. Bahkan sampai proses dubbing, untuk scene yang sulit pengambilan gambarnya aku tetap bicarakan dengan Mario dan Fanny, enaknya bagaimana ya? Tujuannya biar nyambung gitu feel-nya. [initial]
(kpl/uji/nat)
BERI KOMENTAR▼
Komentar
↑