Ello, Penantian 3 Tahun Berbuah Manis

Editor KapanLagi.com | 19 Juli 2011, 15:20 WIB
Ello, Penantian 3 Tahun Berbuah Manis
KapanLagi.com -
Oleh: Deni Mulyadi Merenung dengan menghilang dari ramainya permusikan tanah air sepertinya menjadi tolak ukur kesuksesan penyanyi Ello saat ini. Betapa tidak, lebih kurang tiga tahun dia mencoba mencari sesuatu yang memang diinginkan. Akhirnya hasil tersebut dapat dirasakan sekarang dan Ello pun mendulang ketenaran dari karya yang dihasilkan. Di sisi lain walau kemasyuran sudah digenggam dia masih merasa ada kekurangan sehingga memilih untuk down to earth. Padahal sejak kelas 5 sekolah dasar, laki-laki bernama lengkap Marcello Tahitoe ini bercita-cita menjadi musisi hingga akhir hayat. Berikut petikan obrolan dengan pacar Julie Estelle itu kala ditemui di kantor Sony Music belum lama berselang sekira jarum pendek jam menunjuk angka 2. Tetapi anak pasangan Minggus Tahitoe dan Diana Nasution tersebut enggan melepas kaca hitam saat difoto dengan alasan sedang ingin pakai.
  • Ceritain apa yang terbaru?
    Ada single yang terbaru dari saya Yang Ku Nanti. Saya bikin langsung, arrangementnya, yang saya rasakan juga. Jadi personal banget.
  • Prosesnya?
    Lagu ini sebenarnya dari tahun 2009, kebetulan tercipta saat tur Masih Ada, album Realistis Idealis, ketika saya nungguin sound cek di salah satu kota di Bali, saya bikin lagu. Saya bilang seru nih kalo dijadikan lagu. Tapi harus nunggu karena kala itu sedang keluar single-single dan proses yang banyak. Akhirnya tahun ini mau enggak mau.
  • Dari 2009 ke 2011 cukup lama. Alasan tertunda?
    Sebenarnya masih kampanye dengan album kemarin. Jadi kita enggak mungkin keluar lantaran respon yang masih baik. Setelah itu di endorce produk minuman lalu Atribut Rinto Harahap, Benci Tapi Rindu. Jadi ada beberapa single yang harus antri. Ya kalau sekarang 2011 mungkin waktu yang terbaik dan saya percaya itu.
  • Di single Yang Ku Nanti dan album yang akan keluar, semuanya dikerjakan sendiri?
    Sebenarnya dari Masih Ada, dari album Realistis Idealis itu pertama kali album hampir 50% saya kerjakan dan sekarang untuk Yang Ku Nanti dan album yang akan keluar lebih dari 80% saya kerjakan.
  • Kayaknya lebih puas sekarang ya?
    Sangat puas. Lebih apa ya. Saya suka hal-hal enerjik dan saya suka mengekspresikan diri di atas panggung secara enerjik. Misalnya urat, keringat dan lompat-lompat sudah jadi satu yang biasa buat saya. Mungkin orang capek liat saya tapi begitulah saya mengekspresikan. Saya pikir lebih baik lakukan apa yang saya merasa nyaman daripada jadi orang lain dan enggak nyaman. Jadi enerjiknya dapat juga di lagu Yang Ku Nanti.
  • Lagu Yang Ku Nanti itu bercerita apa?
    Menggambarkan perasaan jatuh cinta dan itu yang saya alami kemudian dituangkan dalam lagu itu. Ya lebih gampang banget bikin lagunya. Jadi ini pengalaman pribadi, prosesnya enggak ribet untuk penciptaannya tapi produksi lebih complicated.

  • Ello di Kantor Sony Johar Jaksel
  • Tema tetap cinta, adakah beda dengan lagu sebelumnya?
    Kalau bicara lagu sebelumnya, di sini lebih nuansa alternative rocknya. Jadi lebih tekankan Ello enggak main di pop urban lagi. Jadi lebih main di pop alternative dan itu yang lagi saya kampanyekan untuk sekarang ini.
  • Berarti jalur musik akan berpindah?
    Udah berpindah dari tahun 2009, album Realistis Idealis, Masih Ada, itu sudah bukan pop urban seperti R&B atau apa tapi lebih gitar music, dominan gitar, alternative, rock.
  • Ini salah satu strategi atau emang keinginan Ello?
    Ini keinginan gue. Jadi memang cita-cita dari dulu, saya mau jadi salah satu anak band tapi saya enggak bisa. Akhirnya solo. Saya harus terima dan saya syukuri itu. Jadi semua seperti cita-cita yang diterapkan pada konsep solo walau solo nuansa 90-an terasa. Misalnya lagu Andai (Selamanya), Joni Rock n Roll. Sekarang Yang Ku Nanti lebih kental distorsinya, beat street, drum juga. Nuansa alternative cukup kental menurut saya.
  • Lho emangnya pingin jadi anak band?
    Saya kelas 5 SD pegang gitar dan putuskan jadi musisi. Karena saat main gitar kala itu bawain Nirvana, Radiohead dan lain-lain. Saya diajakin ngeband dan saya pegang keyboard lalu nyanyi, dari situ saya kenal sehingga peralihan ke pop urban. Namun di album pertama dengan music itu saya merasa bukan saya, ada yang salah dalam diri, seperti perang. Saya putuskan enggak main music lagi dari 2006 sampai 2009 lalu keluar lagi. Saya harus temukan cinta pertama dan sampai sekarang gue bawa.
  • Untuk penampilan ada perubahan?
    Jaga makan. Saya sempat naik berat badan. Di album pertama 90 kg, kedua jadi 70 kg dan kemarin karena kemarin enggak ngapa-ngapain naik 75-76 kg. Akhirnya turun lagi ke 69 kg, jadi kalo tampilan gitu-gitu aja, rambut pendek. Jaga makan terus capek juga lama-lama, jadi tergantung kebutuhan. Harus nikmati hidup.
  • Sorry, masih penasaran. Sebenarnya lama enggak muncul ngapain?
    Album dah jadi sebenarnya tinggal nunggu, selain itu saya juga produseri band rock, karena enggak kesampaian ya itu saya akhirnya produseri, biar enggak jadi jerawat. REAL, itu band rock dan cukup menyita waktu saya setelah album solo. Kita kerjain bersama dan fun banget. Itu proses yang sebelumnya enggak pernah saya temui, dimana lebih dari satu kepala dijadikan satu. Karena selama ini saya kerja sendirian di kamar dan studio.
  • Untuk band REAL Ello ngasih lagu juga?
    Mengaransemen aja, lagunya mereka. Tapi itu pengalaman sangat berharga.
  • Jenis musik ganti, gimana Ello melihat pasar sekarang? Apakah udah itung-itungan juga?
    Of course, selalu. Saya selalu percaya rejeki Tuhan yang kasih dan sebagai manusia melakukan yang terbaik dan saya sudah lakuin itu. Sementara kalo bicara soal laku atau apa, saya serahkan pada Tuhan. Sebab indahnya musik di dunia ini enggak ada rumusnya. Kita enggak pernah tahu yang misalnya model gitu tiba-tiba bom dan enggak kita sangka. Itu indahnya seni apalagi di Indonesia pasar enggak bisa ditebak namun yang pasti jangan menghilangkan karakter kita, lakukan dengan nyaman dan terbaik. Saya tetap praktekan itu dan saya enggak termasuk orang yang ikut-ikutan. Soalnya ada bahayanya trend itu, kalo trend itu selesai, selesai kita. Tapi kalo bikin lagu yang sepanjang masa, ever lasting saya pilih yang seperti itu.
  • Akankah di dunia tarik suara sampai tua?
    Gue sampai mati kayaknya. Itu akan jadi prioritas gue. Memang itu sudah jadi pilihan hidup. Gue rasa enggak ada yang nikmat melakukan apa yang Ello suka. Kadang gue suka liat Cristiano Ronaldo atau David Beckham, mereka menghasilkan banyak uang dengan melakukan apa yang mereka suka. Itu salah satu hal yang patut disyukuri dan saya temukan itu di musik. Gue enggak akan pernah gue sesali.
  • Merasa jadi idola enggak?
    Jujur, kadang-kadang enggak karena ada kurangnya. Gue enggak tahu karena bisa dibilang minderan juga tapi kepedean dan wajar namanya juga manusia. Yang menilai kan orang lain, jadi ya kalo ditanya gue merasa jadi idola, kadang gue merasa siapa gue juga. Misalnya gue dijagain bodyguard, kayaknya gue bukan Justin Bieber deh. Malah kadang gue merasa biasa aja. Menurut gue ada bagusnya ada enggaknya, bagusnya gue masih membumi, masih napak kaki dan rendah hati. Namun kadang di dunia seperti ini selfestim itu perlu, jiwa, aura tinggi itu butuh apalagi untuk hadapi crowed. Jadi selfetim itu di atas panggung aja, kalau di bawah kalem-kalem.
  • Potongan rambut akan terus pendek?
    Enggak tahu ya, kayaknya gue pingin gondrong. Nah, 2006 waktu gue merasa capek main musik sampai sekarang potongan seperti sekarang. Namun kalau lihat rambut gondrong enak ya. Pingin numbuhin lagi tapi kita lihat dari masyarakat, kayaknya segini-gini aja. Saya harus mengalah. Hahahaha. [initial]
Ngobrol Bareng Ello:

ElloEllo ElloEllo ElloEllo
(kpl/dis/nat)
BERI KOMENTAR▼
Komentar
↑