Lunch With Olga Lydia: Banyak Cerita

Editor KapanLagi.com | 18 Juni 2011, 11:03 WIB
Lunch With Olga Lydia: Banyak Cerita
KapanLagi.com -
Oleh: Daniel Ruben Dari pagi saya sudah siap-siap untuk mengosongkan perut, bahkan saya rela untuk tidak sarapan pagi seperti biasanya. Diet? Bukan. Justru sebaliknya. Saya sengaja memberi space yang luas di perut saya, untuk menikmati makanan di Poke Sushi. Siang itu (16/06/2011), saya memang ada appointment lunch bareng Olga Lydia. Saya sengaja mengajak model dan presenter yang satu ini untuk sekedar ngobrol sambil makan siang. Sekitar pukul 12.30, saya tiba di Crowne Plaza Hotel, di kawasan Jl. Jend Gatot Subroto, dan langsung disambut oleh petugas hotel. Dengan santai, saya pun memasuki loby hotel dan langsung menuju ke lantai 3, tepatnya ke Poke Sushi Restaurant, tempat saya dan Olga janjian untuk makan siang. "Ga, lo di mana? Gue udah sampe," tanya saya melalui blackberry messenger. Mendapat balasan bahwa Olga sudah berada di dalam, saya pun bergegas masuk. "Gue baru sampe juga kok, please have a seat Ben," sambut Olga dengan ramah.

Olga Lydia di Poke Sushi
Sebagai awalan, saya memesan ice tea dan Olga memilih green tea, atau kalau di restoran Jepang dikenal dengan nama ocha. "Gue hampir nggak punya waktu kosong nih. Banyak banget kerjaan akhir-akhir ini. Show juga, presenter F1 juga, sama gue kan sekarang jadi duta Kiwi," cerita Olga tentang kesibukannya. Kenapa bisa Olga yang jadi duta Kiwi? "Gue orang yang mengapresiasi makanan. Tapi kalau bisa, gue selalu memilih makanan yang baik untuk kesehatan tubuh," jelasnya. Temasuk kiwi? "Ya, apalagi sekarang kan udah ada varian baru yang warna kuning. Wah, gue bisa makan sampe tiga buah tiap hari, hehehe... Padahal idealnya dua udah cukup," lanjutnya. Oh iya, mungkin perlu saya infokan di sini, pemilik dari Poke Sushi ini adalah Olga sendiri. Wah, hebat juga si Olga, ternyata dia jago bisnis juga. "Kok kamu tertarik untuk buka usaha F n B kayak gini?" Tanya saya ke Olga. "Alasan yang simple sebenernya. Dalam keadaan krisis atau dalam keadaan apapun, biasanya usaha makanan itu tetep survive, karena orang kan selalu butuh makan. Bahkan kalo di dunia perbukuan aja, konon katanya buku masak tuh selalu laku kan ya, hahahaha. Apalagi kalo buat orang kantoran, melihat situasi Jakarta yang macet, kayaknya nggak mungkin deh kalo orang tuh makannya tiga kali sehari di rumah. Alasan kedua, orang kalo melihat badan gue (tidak gemuk, red.) tuh pasti nuduhnya gue nggak suka makan, padahal...Saya suka sekali makan, hahahaha. Makanya saya buka resto," ujarnya berkelakar. "Eh, mau pesen makan apa Ben? Masa kita minum doang nih, ampe kelupaan pesen makan," tanya Olga. Berhubung saya adalah orang yang termasuk jarang makan masakan Jepang khususnya sushi, saya mempercayakan Olga untuk memilih makanan untuk kami. "Ya udah, gue pilihin ya, dijamin lo pasti suka deh," ujarnya. Olga ternyata orang yang sangat menyukai adventure. Siapa yang menyangka, pemilik tinggi badan 171 cm ini tak jarang melakukan traveling ke pelosok-pelosok daerah, yang memiliki alam yang natural. "Gue suka banget berpetualang, termasuk petualangan makan, hahaha. Eh, jangan salah, makan itu juga petualangan, kita harus mencari tahu pengalaman-pengalaman baru soal makanan kan, trus suasana makan juga harus ditentukan dong. Jadi makan tuh buat gue adalah petualangan, hahaha." Jenis makanan apa sih yang paling disukai Olga? "Balik lagi, gue tuh petualang di dunia kuliner, dan gue suka makan yang macem-macem, kecuali hewan-hewan yang sudah mau punah gue nggak makan, kaya shark fin (sirip ikan hiu), karena menurut gue nggak ada gunanya, dan juga, terus octopus (gurita) juga gue nggak makan, karena octopus menurut gue adalah hewan yang cerdas," tutur Olga. Wah, sepertinya kedua hewan itu juga makanan yang tidak terlalu banyak dikonsumsi untungnya, terutama gurita.

Olga Lydia di Poke Sushi
Yess..akhirnya makanan kami pun tiba. Olga ternyata memesan 3 jenis makanan, yang di mata saya bentuknya serupa semua, hahaha. Di meja kami tersaji Crocodile Roll, Phoenix Roll, dan juga Black Dragon Roll. Tanpa berpikir panjang, saya pun langsung mengambil sumpit dan mengambil beberapa pieces dari 3 menu tersebut. Supaya lebih terasa enak, saya celupkan ke dalam kikoman (semacam kecap asin), yang sudah diberi sedikit wasabi. Hmmm...sungguh lezat memang makan siang saya saat itu. Ada satu cerita menarik dari Olga tentang terasi. Sebagaimana umumnya, yang namanya terasi memang enak dijadikan bumbu makanan, namun sangat meninggalkan amis di tangan. Namun, Olga pernah menemukan sebuah terasi yang jauh berbeda. "Kalo ngomongin terasi, terasi paling enak tuh dari Toboali menurut gue. Warnanya juga beda, ini nih warnanya abu-abu. Udah gitu, rasanya dan aromanya tuh lembu banget, nggak nyengat kaya terasi lain. Sampe-sampe itu terasi bisa gue gado lho, hahahaha...bingung kan lo?" cerita Olga sambil tertawa. Wah, baru kali ini saya denger ada orang ngemil terasi. Dasar Olga! Tak butuh waktu lama untuk saya dan Olga menghabiskan semua makanan yang ada di meja, dan hasilnya saya kekenyangan plus terhipnotis rasa kantuk. Tidak terasa, saya dan Olga hampir 2 jam ngobrol-ngobrol, dan Olga pun harus pamit karena ia harus shooting sebuah program acara di TVRI, dan saya pun harus kembali ke kantor, dan kami pun berpisah di lobby hotel. "Ok Ben, thank you ya waktunya, kapan-kapan kita lunch bareng lagi ya," kata Olga seraya menyalami saya. Banyak sekali cerita yang bisa didapat dari Olga selama makan siang kami. Mulai dari dia yang sangat doyan makan, ngemil terasi, senang berpetualang, sampai pengalaman-pengalaman Olga sewaktu kecil. Impressing lunch with you Olga J [initial]
Olga Lydia Lunch With KapanLagi.com®:

Raditya DikaRaditya Dika Raditya DikaRaditya Dika Raditya DikaRaditya Dika
(kpl/ben/nat)
BERI KOMENTAR▼
Komentar
↑