Pandji: Social Media = Warung Rokok

Editor KapanLagi.com | 13 Februari 2012, 13:03 WIB
Pandji: Social Media = Warung Rokok
KapanLagi.com -
Oleh: Daniel Ruben Social media kini sudah menjadi bagian kehidupan sehari-hari pengguna internet di Indonesia. Social medialah situs yang paling sering mereka kunjungi. Waktu terbanyak mereka di online dihabiskan untuk bercengkerama di media social, seperti Facebook, Blog, dan Twitter. Social Media adalah sebuah tempat untuk kebebasan berekspresi, menunjukkan kepada orang lain apa yang ada pada diri sendiri kepada orang lain. Kita melihat berbagai macam 'model' update status dipublikasikan melalui streamline social media, apakah itu Twitter, Facebook dan lainnya, mulai dari update status berbagi informasi, update status bernuansa iklan yang menawarkan produk atau jasa sampai dengan update status yang lebih bersifat pribadi atau 'keakuan', mempublikasikan informasi informasi yang terkait dengan apa yang sedang terjadi dalam kehidupan sehari-hari sang pelaku update status. Ini adalah jamannya kebebasan untuk berekspresi. Setiap orang memiliki hak untuk menunjukkan 'dirinya' kepada orang lain. Mengatakan apa pendapat, opini atau sekedar celoteh-celoteh ringan yang bisa dilihat dan dibaca oleh orang lain melalui social media. Tapi tentu saja, sebuah kebebasan di sini tidak berarti bisa benar-benar 'bebas' melakukan apa saja yang kita inginkan, tentu masih harus ada rambu-rambu yang harus kita patuhi. Sebuah kode etik yang harus diperhatikan agar apa yang kita publikasikan tidak merugikan orang lain atau malah merugikan diri sendiri. Berangkat dari tren inilah, artis Pandji Pragiwaksono turut serta ambil bagian dalam mengkampanyekan jejaring social, atau social media. Pria yang sudah menggunakan social media sejak tahun 2003 melalui blog pribadinya ini, sangat ingin mensosialisasikan kepada masyarakat luas betapa besar pengaruh social media saat ini, dan apa efeknya bagi kehidupan social. Bertempat di @America, Pacific Place, KapanLagi.com® berkesempatan untuk berbincang dengan Pandji, beberapa waktu lalu.
  • Apa yang bisa digali dari sebuah social media campaign?
    Banyak sih, memang di Indonesia bukan hanya social media yang kuat pengaruhnya, gerakan-gerakan social banyak sekali mengeluarkan social media sebagai salah satu poros utamanya, dan juga sebagai salah satu alat utamanya. Cuma bedanya adalah banyak orang berpikir bahwa kegiatannya adalah social medianya, tapi kenyataanya adalah social medianya adalah alat untuk menunjang kegiatannya. Banyak orang yang mikir kalau saya udah nge-like facebook page, gue udah menjadi sebagian dari sebuah gerakan. Padahal nggak, kita harus tetap melakukan sesuatu bersama gerakan tersebut, harus ada sesuatu gerakan offline. Jangan cuma merasa, oh gw udah ikut nge-tweet, kita anggap kita udah berpartisipasi. Sebetulnya masih banyak yang mesti harus dikerjakan, intinya sih itu.
  • Tapi sepertinya saat ini pada kenyataannya jejaring social digunakan untuk hal hal yang negative, artinya social media itu mengalami pergeseran?
    Nggak. Justru dia menjalankan fungsi yang sebenarnya. Gini deh, kan social media itu adalah media untuk bersosialisasi. Sebelum ada twitter, kita juga sudah bersosial media, medium bersosialisasi kita misalkan warung rokok depan kampus, tempat kita nongkrong untuk sama-sama sosialisasi, atau misalkan warung roti bakar anak-anak pada ngumpul di situ. Itulah mediumnya, si warung rokok atau roti bakar itu. Pada jaman dulu banget, social medianya itu adalah sumur, karena di desa-desa semua orang di desa itu berporosnya di sumur, tempat mereka ngambil air. Jadi kan pada dasarnya social media termasuk twitter adalah tempat orang bersosialisasi. Pertanyaannya adalah, ngapain mereka di wadah tersebut? Ada yang berantem, ada yang melakukan kebaikan, sama aja. Kalau dibilang mengalami penurunan fungsi, nggak juga. Fungsinya cuma untuk orang ngumpul kok, dan pertanyaannya adalah dengan ngumpulnya kan mau bikin apa? Apakah kemudian kita bilang kehidupan ini general menurun karena pada berantem? Ya nggak juga, karena memang begitulah orang bersosialisasi, orang sudah salah menangkap apa itu situs jejaring social. Sosial media hanya medium, cuma alat, nggak bisa disalahin, nggak bisa juga dipuji-puji.
  • Sosial media sekarang sebagai alat buat perang kata-kata?
    Kalau saya sih dari pertama kali main twitter dari tahun 2008 itu sudah terjadi, mungkin kerasa sekarang karena baru mulai orang lebih banyak yang main twitter, jadi makin keliatan. Itu hanya masalah skala aja sekarang. Jadi ya sama aja sih kalau ditanya kenapa sekarang lebih banyak orang yang menggunakan twiiter untuk negative, ya nggak juga. Dari dulu sudah terjadi kok, cuma aja memang skalanya yang berubah.
  • Pandji sendiri ikut serta juga dalam mengkampanyekan dan mensosialisasikan social media?
    Iya ikut. Saya selalu mendukung kegiatan social yang melibatkan social media.
  • Contohnya apa?
    Dulu waktu ledakan bom di JW Marriot sama Ritz Carlton. Yayasan kanker anak yang saya pimpin di Yayasan Pita Kuning Anak Indonesia juga menggunakan social media sebagai salah satu alat yang penting untuk bersosialisasi, dan efektivitasnya tergantung cara penggunaannya. Gimana caranya kampanye social efektif dalam pemanfaatannya sangat tergantung juga dengan pesan yang disampaikan. Kampanye social itu sangat kompleks, pertama, pesannya apa, kemudian cari satu slogan yang mewakili kampanye tersebut sehingga mudah untuk orang omongin. Jadi tergantung kalimat utama yang kita ingin sampaikan, dan kita tidak perlu memaksa orang untuk ikutan. Tanggung jawab utamanya adalah menyebarkan slogan dengan harapan menarik orang-orang yang sudah mendekat karena sosialisasi kita. Intinya sih seperti itu.
  • Ke depannya lebih berhasil ke social media atau media komunikasi konvensional?
    Balik lagi tergantung dengan pemanfaatannya. Kalau misalkan kita mau pake tv harus punya duit, gak punya duit, gak ngaruh dong atau lu gak punya duit tapi punya banyak teman yang artis misalnya. Misalnya saya pingin bikin kampanye kanker anak, terus saya kenal Gading Marten, saya bilang kalau misalkan nanti ada wartawan cerita deh tentang kanker anak misalnya, ya udah dia ketika lagi disamperin infotainment, tentunya sukarela itu nyamperin dia, dia tinggal ngomong aja, gratis tuh masuk, ya kan. Jadi artinya pakai media konvensional atau mau pakai media jejaring social sama, tergantung dengan bagaimananya dua-duanya cuma alat.
  • Jadi selama ini social media udah dianggap sebagai alat untuk sebuah revolusi?
    Itu jadi seperti itu karena sekarang rakyat punya akses akan mempublish informasi. Dulu kan akses untuk menerbitkan informasi hanya ada di tangan orang-orang kalangan atas, pemilik tv, koran, atau yang punya media-media lain. Tapi sekarang kita bisa menerbitkan informasi lewat social media. Misalnya, saya cuma punya 10 followers di twitter, namun ketika saya menerbitkan sesuatu, sepuluh orang itu pasti baca. Nah, tinggal kita balik lagi, kita bicara soal skala. Jadi memang kenapa itu jadi lebih penting karena sekarang rakyat punya alat yang untuk menyebarkan tentang sesuatu, dan itu sangat penting.
  • Sejauh ini, Pandji sendiri menggunakan social media sudah berapa lama?
    Dari tahun 2008 untuk twitter, facebook dari tahun sebelumnya, dan menggunakan blog dari tahun 2003.
  • Jadi artinya sudah berhasil daripada menggunakan yang konvensional yah?
    Iya, karena saya nggak punya duit untuk memanfaatkan media konvensional, hahaha.
  • Tapi tanggapan Pandji sendiri melihat anak muda sekarang banyak menggunakan social media untuk menyampaikan sesuatu yang bisa dibilang nggak penting. Gimana?
    Itu bagian dari bertumbuh. Kelak kita akan sadar bahwa omongan kita ngaco. Dulu waktu kita kecil, pasti sering ngomong sembarangan kan. Dan ketika makin dewasa, kita jadi lebih pintar dong dalam mengambil sikap. Jadi biarin aja, biarkan bebas, tapi dia harus tanggung jawab, karena kalau nggak dia dimintain pertanggungjawaban. Gue selalu bilang, terserah kalau mau nge-tweet, mau ngapa-ngapain, mau ngomong di dunia apapun, itu bebas, selama kita tanggung jawab.
  • Tujuan kampanye social media sendiri apa?
    Apapun kampanye social media yang saya lakukan adalah social media yang tujuannya adalah untuk mendapatkan perhatian sebanyak mungkin dari masyarakat, supaya mendapatkan bantuan sebanyak mungkin ketika berkaitan dengan kegiatan-kegiatan social yang sedang dijalankan. Kalau kegiatan socialnya berkaitan dengan kanker, ingin menyampaikan informasi sebanyak mungkin supaya banyak orang yang bisa ikut menyumbangkan waktunya, tenaga atau uang. Itu yang penting menurut saya. [initial]
Pandji Pragiwaksono Bicara Media Sosial:

PandjiPandji PandjiPandji PandjiPandji
(kpl/ben/nat)
BERI KOMENTAR▼
Komentar
↑