Bosan dengan berita itu-itu saja? Download Aplikasi Liputan6

Kisah Haru dan Pilu di Balik Kematian Para Tokoh 'Abad Kejayaan'

Wulan Noviarina Anggraini   | Kamis, 13 Agustus 2015 13:38 WIB
Kisah Haru dan Pilu di Balik Kematian Para Tokoh 'Abad Kejayaan'
Abad Kejayaan @istimewa

Kapanlagi.com - Dibuat berdasarkan kisah nyata Kerajaan Ottoman, banyak kisah kematian dari para karakter di serial Abad Kejayaan yang tidak terhindarkan. Tak peduli dengan betapa tenarnya para pemain itu, tidak membuat mereka bebas dari adegan kematian.

Ada beberapa kisah kematian para tokoh yang menarik untuk disimak. Tentu saja, semua berdasarkan cerita asli dari tokoh nyata yang tercatat di berbagai lembaran sejarah.

Beberapa kematian dianggap layak lantaran tokoh itu dianggap jahat dan merugikan kerajaan. Namun ada juga kisah pilu yang membuat semua orang tersedu.

Kisah kematian siapa saja yang dibahas kali ini? Simak selengkapnya di halaman berikut yuk... (kpl/phi)

1. Ibrahim Pasha

Gambar

Menjadi sosok yang sangat dipercaya oleh Sultan Suleiman ternyata tidak membuat Pargali Ibrahim Pasha puas. Mendapatkan jabatan sebagai Grand Vizier sejak tahun 1523 sampai 1536, tetap membuat Ibrahim tergoda untuk mendapatkan kekuasaan lebih luas dengan melakukan pemberontakan kepada Suleiman.

Tindakan Ibrahim membuat Suleiman marah dan memutuskan untuk mengeksekusi mantan orang kepercayaannya itu. Sebenarnya Suleiman sudah berjanji untuk tidak menghabisi nyawa Ibrahim saat ia masih berkuasa. Namun ia mendapatkan izin untuk mencabut sumpahnya dan sebagai gantinya Suleiman membangun masjid di Konstantinopel.

Pada masa berikutnya, Suleiman terlihat menyesal karena sudah menghukum Ibrahim. Dalam beberapa puisi yang ditulis sang sultan, ada topik persahabatan yang ditengarai merupakan persembahannya untuk Ibrahim Pasha.

2. Hatice Sultan - Khadijah

Gambar

Kematian Ibrahim Pasha membuat Hatice Sultan alias Khadijah merasakan duka yang sangat mendalam. Khadijah percaya bahwa keputusan kakaknya, Suleiman menghukum suaminya tak lepas dari pengaruh Hurrem yang sudah lama berseteru dengan Ibrahim.

Sejarah mencatat bahwa kematian Khadijah adalah karena ia melakukan bunuh diri. Namun sampai sekarang hal ini masih menjadi perdebatan di kalangan sejarawan meski sudah banyak bukti yang mengarah ke sana.

Khadijah ditengarai melakukan bunuh diri karena depresi setelah ditinggalkan oleh Ibrahim. Kalau menurut versi serial, ia takut ketahuan oleh kakaknya lantaran sudah bersekongkol menculik Hurrem.

Dari kedua versi ini, berujung pada satu kesimpulan yang sama, kematian Khadijah lantaran ia ditengarai bunuh diri. Apa penyebab yang sebenarnya? Hanya Khadijah yang tahu.

3. Mustafa

Gambar

Sejak kecil hubungan Mustafa dengan Suleiman tidak pernah baik. Lahir sebagai anak pertama yang seharusnya berhak atas mahkota kerajaan, namun ia menjadi korban dari kejamnya intrik di kerajaan Ottoman.

Pada masa dewasanya, Suleiman mengirimkan Mustafa ke Amasya untuk mempertahankan kekuasaannya di pesisir timur kerajaan Ottoman. Dan kematiannya datang ketika sang ayah sedang dalam perjalanan menuju Persia untuk berkampanye.

Adalah Rustem Pasha yang menjadi penyebab kematian Mustafa di tangan ayahnya sendiri. Kepada Mustafa, Rustem mengatakan kalau ada baiknya ia bergabung dengan prajurit ayahnya. Namun pada kesempatan yang sama, ia mengatakan kepada Suleiman bahwa Mustafa akan datang untuk membunuhnya.

Mustafa menerima tawaran dari Rustem Pasha dan datang ke perkemahan ayahnya. Suleiman menyangka ini adalah sebuah ancaman baginya dan memerintahkan kepada prajurit untuk membunuh Mustafa.

Begitu Mustafa tiba di tenda Suleiman, prajurit langsung menyerangnya. Putra sulung Suleiman ini sempat melawan, namun akhirnya meninggal setelah dijerat dengan tali.

Tidak hanya menghukum Mustafa, Suleiman juga menjatuhkan hukuman mati kepada anaknya, Mehmet. Kematian Mustafa menimbulkan kemarahan dari prajurit di Anatolia, terutama di Amasya. Tahu bahwa ia sudah melakukan kesalahan, Suleiman menghukum Rustem Pasha, mencabut jabatannya sebagai Grand Vizer dan mengirimnya kembali ke Istanbul.

Suleiman juga memerintahkan agar jenazah Mustafa dikirimkan ke Istanbul. Ia disemayamkan di Hagia Sophia selama satu pekan, lalu dimakamkan di Mausoleum besar di Bursa.

Kematian Mustafa dan Mehmet diterima dengan lapang dada oleh Mahidevran. Ia tetap hidup meski sangat menderita sepeninggal anak dan cucunya.

4. Beyezid

Gambar

Tamak dengan kekuasaan, itulah sosok Beyezid, salah satu putra Suleiman dan Hurrem. Meski sudah mendapatkan banyak hal dari sang ayah, namun tidak membuat Beyezid puas dengan apa yang sudah didapatkannya.

Beyezid kerap bermusuhan dengan Selim, kakaknya. Bahkan pada akhirnya ia melakukan pemberontakan demi mendapatkan tahta yang masih dipegang oleh Suleiman.

Bersama empat orang anaknya, Beyezid dieksekusi oleh para eksekutor kerajaan Ottoman. Ia meninggal pada tahun 1561 setelah Suleiman dan Selim memutuskan bahwa kejahatan yang dilakukan oleh Beyezid sudah tidak bisa dimaafkan.

5. Mihrunisa

Gambar

Kalau ada salah satu kematian yang paling tragis di masa kerajaan Ottoman adalah meninggalnya Mihrunisa. Istri Mustafa ini sangat depresi lantaran anak dan suaminya dieksekusi oleh Suleiman.

Tak tahan dengan penderitaan yang ia alami, Mihrunisa mendatangi Hurrem yang ia tuding sebagai dalang di balik meninggalnya suami dan anaknya. Di hadapan Hurrem, ia menggorok lehernya sendiri dan tidak bisa diselamatkan.

Catatan sejarah menulis hal yang berbeda soal kehidupan Mihrunisa yang juga dikenal dengan nama Rumeysa Sultan. Sepeninggal Mustafa, ia pindah ke Izmir dan menjadi sosok panutan di sana. Ia menghabiskan sisa hidupnya di sana, namun tidak dijelaskan soal penyebab kematiannya.

6. Cihangir

Gambar

Dari semua anak Suleiman dan Hurrem, pangeran Cihangir adalah yang paling cerdas. Ia juga dikenal dekat dengan semua saudaranya, termasuk dengan Mustafa, kakak tirinya.

Sejak kecil Cihangir bermasalah dengan kesehatannya, dan memiliki beberapa kelainan. Namun sang bunda sangat menyayanginya, meski ia tidak sekuat saudaranya yang lain.

Catatan sejarah menuliskan kematian Cihangir terjadi tak lama setelah Mustafa meninggal dunia. Konon ia sangat sedih karena kakak tirinya dieksekusi, dan lantaran duka yang sangat mendalam ini ia merasa depresi yang pada akhirnya mengatarkan ke kematian.

Pangeran Cihangir meninggal pada usia 21 tahun. Ia dimakamkan di Masjid Sehzade, Istanbul dan untuk mengenang kematiannya sang ayah mendirikan masjid dari kayu yang dibangun menghadap Bosporus.

7. Hurrem

Gambar

Dari semua kematian yang ada di serial Abad Kejayaan, satu yang paling menyedihkan adalah wafatnya Hurrem. Ia meninggal tak lama setelah pangeran Cihangir menghadap sang Maha Kuasa.

Sebelum meninggal, Hurrem mengunjungi makam Ibrahim dan meminta maaf atas semua sikapnya dulu. Hurrem juga mendatangi Mahidevran dan minta maaf atas semua perlakuannya kepada permaisuri sultan tersebut.

Hurrem meninggal pada 15 April 1558 di usia 56 tahun. Dalam pelukan Sultan Suleiman, sang suami tercinta, ia memejamkan mata untuk selama-lamanya.

Sebelum meninggal, Hurrem meminta kepada Suleiman untuk membacakan puisi cinta yang pernah dibuat untuknya. Dengan terbata, sang Sultan membacakan puisi indah itu dan memeluk Hurrem untuk yang terakhir kalinya.

Hurrem dimakamkan di sebuah makam berkubah dengan dekorasi indah yang menggambarkan taman surga. Makamnya terletak tak jauh dari makam Suleiman di halaman Masjid Raya Sulaimaniah.

8. Sultan Suleiman

Gambar

Sepeninggal Hurrem, Sultan Suleiman mengalami duka yang sangat mendalam. Meski demikian, ia masih tegar menjalani hari tuanya dan memerintah kerajaan Ottoman dengan gagah berani.

Delapan tahun setelah kematian Hurrem, Suleiman menghembuskan napas terakhirnya. Ia meninggal pada 7 September 1566 di usia 71 tahun, namun tak disebutkan sebab kematian sang sultan yang paling lama berkuasa di kerajaan Ottoman ini.

Suleiman dimakamkan di dekat pembaringan terakhir istri tercintanya, Hurrem. Makamnya pun dihiasi dengan kubah, namun dengan hiasan yang lebih serius, di kawasan Masjid Suleimaniah, Turki.

Sepeninggal Suleiman, tahta kerajaan dipegang oleh Selim II. Namun Selim II gagal meneruskan kesuksesan sang ayah yang sanggup menaklukkan banyak kawasan di sekitar Turki.

Editor:   Wulan Noviarina Anggraini