Alfred Molina Sebelumnya Sering Bermasalah dengan Laba-Laba

Darmadi Sasongko | 01 Juli 2004, 07:14 WIB
Kapanlagi.com - Aktor Alfred Molina (51), yang mencuat lewat SPIDER-MAN 2 mengaku sering bermasalah dengan laba-laba. Ia dikenal pertama kali sebagai tokoh pemandu hutan Satipo yang mengkhianati Indiana Jones pada prolog film RAIDERS OF THE LOST ARK (1981).

Sebelum Satipo mengungkap dialog terkenal "Lemparkan aku patungnya, saya akan memberimu cambukmu," ia berdiri tegang di tengah lorong penuh sarang laba-laba sembari Indiana Jones (diperani Harrison Ford) dengan tenang mengusir laba-laba dari punggung dan bahu Satipo. "Ada laba-laba hidup, ular hidup … Semua itu bisa dihasilkan dengan efek digital sekarang," kenang Molina sambil menggaruk jenggot lebatnya menjelang persiapan memerani tokoh Tevye dalam pentas teater musikal Fiddler on the Roof di Broadway. "Teknologi efek digital yang dipamerkan dalam film itu nampak sangat biasa sekarang," tambahnya kepada reporter kantor berita AP (Associated Press).

Sebagai pemeran tokoh antagonis Doctor Octopus alias Doc Ock, aktor kelahiran London ini ingin membalas dendam pada superhero SPIDER-MAN hingga berulang-kali bertarung. Kelebihannya adalah empat lengan metalik yang terpasang di punggungnya selama percobaan ilmiah nuklir yang gagal. Molina memberi nama Harry, Larry, Flo dan Moe pada ke-empat lengan besinya yang mirip belalai robot ini.

Harry dan Larry adalah lengan besi bagian bawah yang membantunya tetap berdiri selagi adu kekuatan seperti melempar mobil pada jendela kafe, "Lengan-lengan itu lebih besar dan lebih berat," jelasnya.

"Dua lengan di bagian atas sedikit lebih kecil tetapi sangat kuat. Flo memiliki segala gerakan rumit dan halus, seperti melepaskan kacamata (Doctor Ock) dan menyalakan rokok cerutu" kata Molina dengan menunjuk bahu kanannya.

Meskipun tokoh Doct Ock seringkali merupakan paduan laga hidup dan efek digital, setiap adegan dengan empat lengan tersebut dimainkan berkat bantuan sekitar 16 pemain marionet yang terbagi empat orang bagi setiap lengan metalik.

Molina, yang sedang melakukan persiapan gladi resik untuk pentas musikal Fiddler on the Roof sempat menyisipkan sebuah lagu dalam salah satu adegan SPIDER-MAN 2.

"Sudah akhir dari hari yang sangat panjang dan kami melakukan adegan Doc Ock terbaring di tempat tidur roda, ia terbangun. Saya rasa pada hari terakhir saya menyanyikan empat baris lagu If I Was a Rich Man," kata Molina.

Selama Molina beraksi, para pemain marionet yang memanipulasi lengan besi membuat lengan ini menari. "Seperti terlihat dalam filmnya. Saya rasa mereka menyimpan dokumenternya untuk bonus dalam format DVD, sebagai salah satu fitur khusus," tambahnya.

Meskipun telah berpengalaman banyak di dunia teater dengan pentas teater Art dan memerani tokoh seniman Diego Rivera yang simpatik dalam Frida, Molina cenderung menjadi tokoh antagonis dalam sembilan dari sepuluh perannya di layar lebar.

Ia memerani tokoh politik kaku dalam Chocolat, pengedar narkoba yang pecandu kokain dalam Boogie Nights, bahkan tokoh antagonis konyol Snidely Whiplash dalam film DUDLEY DO-RIGHT.

"Memainkan tokoh antagonis selalu menyenangkan, tak ada bandingnya," kata Molina, "Selalu ada banyak kebebasan dan peluang bersikap kreatif. Saya bisa dikubur dengan memerani tokoh antagonis. Saya menyukainya," tambahnya.

Sebagai tokoh Dr. Otto Octavius, ia berawal sebagai mentor ilmiah yang ramah bagi mahasiswa Peter Parker, jatidiri SPIDER-MAN. Sampai suatu percobaan dengan kekuatan tenaga baru menewaskan isterinya sendiri dan melekatkan empat lengan besi pada punggungnya, ia menggunakan kekuatan barunya untuk mengejar SPIDER-MAN.

Secara pribadi, Doc Ock tak bermaksud jahat. "Anda tak bisa langsung memeraninya sebagai tokoh jahat dari awal hingga akhir. Akan sangat membosankan. Para penonton akan cepat lelah, maka kami berusaha menjadikannya semenarik mungkin," kata Molina.

Tetapi mengapa seorang aktor dengan wajah asli nampak ramah selalu memainkan peran antagonis? "Saya tak tahu. Mungkin memang saya dicap jahat di mata para sineas?!" jawabnya. (kmp/dar)

Editor:  

Darmadi Sasongko