Bioskop Jepang Tolak Putar Film 'YASUKUNI'

Anton | 01 April 2008, 22:41 WIB
Kapanlagi.com - Departemen Luar Negeri Jepang enggan berkomentar soal kebijakan jaringan operator bioskop di Negeri Sakura itu yang tidak mau memutar film YASUKUNI karena dikhawatirkan akan memicu sikap anti Jepang.

"Saya sendiri belum menontonnya, tetapi lebih baik tidak berkomentar soal itu," kata Deputi Press Secretary Deplu Jepang, Tomohiko Tanuguchi, di Tokyo, Selasa (1/4), dalam acara jumpa pers yang secara rutin digelar oleh kementrian luar negeri Jepang (Gaimusho).

Komentar singkat Tomohiko tersebut dilontarkan menjawab pertanyaan ANTARA seputar film dokumenter YASUKUNI karya sutradara film asal China, Li Ying, yang dilarang diputar.

Jaringan bioskop di kota-kota besar di Jepang memutuskan untuk tidak memutar film dokumenter YASUKUNI karena dinilai kontoversial dan dikhawatirkan memicu sikap anti Jepang.

Film dokumenter itu rencananya diputar pertengahan April mendatang, namun jaringan bioskop di Tokyo dan Osaka telah memutuskan tidak melakukan pemutaran film tersebut.

Sebagaimana dikutip Kyodo di Tokyo, kota-kota besar lainnya seperti Sapporo, Nagoya, Hiroshima dan Fukuoka nampaknya akan mengikuti langkah Tokyo, seperti yang disampaikan salah satu distributor film asing di Jepang, Argo Picture.

Salah seorang pimpinan serikat pekerja Jepang mengatakan, pihaknya mungkin bisa mengkompromikan soal kebebasan berekspresi yang berlangsung di Negeri Sakura.

Pihak Argo Pictures juga menyampaikan adanya permintaan dari sejumlah tokoh di partai yang berkuasa saat ini, Liberal Democratic Party (LDP) untuk tidak memutar film YASUKUNI. Pemutaran film YASUKUNI dikhawatirkan dapat memicu anti Jepang.

Film itu sendiri bercerita tentang sekelompok orang yang terlibat di Yasukuni, yang memiliki pandangan berbeda mengenai perang dan keberadaan dari kuil tersebut.

Film yang berdurasi 123 menit itu sebetulnya berfokus pada seseorang ahli pedang yang membuat sebuah pedang yang kemudian dikenal sebagai 'Pedang Yasukuni'.

YASUKUNI sendiri sudah dipertontonkan di sejumlah festival film mancanegara, seperti di Jerman, Amerika Serikat dan Korea Selatan, bahkan di Hong Kong International Film Festival ke-32 meraih penghargaan sebagai film dokumentar terbaik.

Kekejaman Jepang

Dalam kehidupan nyata, keberadaan Kuil Yasukuni memang kontroversial bagi hubungan Jepang dan China. Kuil Yasukuni yang berarti 'negeri damai' itu menyimpan luka lama bagi kedua bangsa.

Di kuil yang dibangun tahun 1869 itu dimakamkan sekitar 2,5 juta orang Jepang yang tewas selama perang. Mereka terdiri atas prajurit, perawat, dan pelajar yang maju ke medan perang.

Bagi sebagian besar orang Jepang, mereka yang dikuburkan di kuil itu adalah pahlawan sehingga patut didoakan dan dihormati. Namun, bagi rakyat China dan Korea Selatan, Kuil Yasukuni dipandang tak lebih sebagai simbol kekejaman Jepang.

Di kuil itu, dimakamkan juga 14 penjahat perang 'Kelas A', seperti Perdana Menteri Jenderal Hideki Tojo yang bertanggung jawab atas kekejaman Jepang selama Perang Dunia II.

Itu sebabnya, kunjungan para pejabat Jepang, termasuk mantan PM Koizumi seakan membangkitkan luka lama dan kenangan pahit bangsa China dan Korea Selatan. (*/bun)

Editor:  

Anton