Bukan 'BUMI MANUSIA', Ini Novel Pramoedya Yang Awalnya Ingin Falcon Pictures Adaptasi

Natanael Sepaya  | 25 Mei 2018, 19:45 WIB
Bukan 'BUMI MANUSIA', Ini Novel Pramoedya Yang Awalnya Ingin Falcon Pictures Adaptasi

Kapanlagi.com - Rumah produksi Falcon Pictures memegang hak adaptasi novel BUMI MANUSIA karya Pramoedya Ananta Toer. Uniknya saat pertama kali berhubungan dengan penulis dan keluarganya, yang diajukan untuk adaptasi justru bukan novel yang sempat dilarang beredar ini.

"Awalnya kami ingin memfilmkan novel Pak Pram yang judulnya GADIS PANTAI. Tapi setelah bertemu, Ibu Astuti selaku anak malah menawarkan, 'apakah Bumi Manusia tertarik?' jawabannya jelas tertarik," tutur Frederica selaku produser ditemui di Desa Wisata Gamplong, Yogyakarta, Kamis (24/5/2018).

Bukan 'Bumi Manusia', awalnya Falcon Pictures ingin adaptasi novel 'Gadis Pantai' © Bintang.com/Bambang E. RosBukan 'Bumi Manusia', awalnya Falcon Pictures ingin adaptasi novel 'Gadis Pantai' © Bintang.com/Bambang E. Ros

Proses pembelian hak adaptasi ini berjalan sederhana dan tanpa masalah berarti. Justru tantangan datang begitu novel yang menjadi bagian pertama dari Tetralogi Buru tersebut harus berpindah ke bentuk audio visual.

"Jadi penuh syukur dan anugerah mendapat lisensi novel BUMI MANUSIA ini. Prosesnya kami dapatkan secara simpel tapi penuh makna dan ada tanggung jawab harus kami emban. Ibaratnya sekarang Falcon Pictures ada di titik nol dalam memproduksi film ini," sambung wanita yang akrab disapa Erica ini.

Astuti Ananta Toer selaku anak Pramoedya mengaku menyerahkan semua pada Falcon Pictures dan Hanung Bramantyo dalam hal adaptasi. Ia hanya berpesan agar filmnya nanti dibuat dengan sepenuh hati mengingat bagaimana proses sang ayah dalam menuliskannya.

Astuti Ananta Toer bersyukur 'Bumi Manusia' bisa diangkat ke layar lebar © Bintang.com/Bambang E. RosAstuti Ananta Toer bersyukur 'Bumi Manusia' bisa diangkat ke layar lebar © Bintang.com/Bambang E. Ros

"Saya bersyukur BUMI MANUSIA akhirnya bisa difilmkan karena ini suatu pengakuan untuk Pram sendiri, karena Pram sudah bergelut mendapatkan hak warga negara dengan cucuran darah," tuntas Astuti.

Seperti diketahui, draft awal BUMI MANUSIA ditulis saat Pramoedya menjadi tahanan politik tanpa proses pengadilan walau pada saat itu ia sebetulnya dilarang menulis. Laris manis di pasaran dan menarik minat penerbit asing untuk menterjemahkan, novel ini sempat dilarang beredar dikarenakan tudingan mempropagandakan ajaran Marxisme-Leninisme dan Komunisme.

(kpl/abs/ntn)

Reporter:  

Adi Abbas Nugroho