EKSKLUSIF: Wawancara Iko Uwais & Joe Taslim, Dynamic Duo dalam 'TNCFU'

Guntur Merdekawan | 10 Desember 2018, 19:15 WIB
EKSKLUSIF: Wawancara Iko Uwais & Joe Taslim, Dynamic Duo dalam 'TNCFU'

Kapanlagi.com - Film laga garapan Timo Tjahjanto, THE NIGHT COMES FOR US sukses menorehkan prestasi positif yang membanggakan. Selain mendapatkan sambutan meriah kala diputar di ajang film internasional Fantastic Fest, film yang dibintangi Iko Uwais dan Joe Taslim ini juga jadi film orisinal Indonesia yang pertama kali diputar di Netflix.

KapanLagi.com® belum lama ini mendapatkan kesempatan emas untuk melakukan wawancara secara eksklusif dengan Joe dan juga Iko melalui email. Berbagai fakta-fakta unik mengenai Iko, Joe maupun film TNCFU pun akhirnya terungkap. Check this out!

1. Jika dalam Mission Impossible adegan laga di kamar mandi yang beberapa menit saja perlu persiapan dan syuting hingga berhari-hari. Bagaimana dengan adegan battle antara Ito dan Arian para bagian ending film ini? Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk syuting adegan tersebut?

Iko: Salah satu adegan yang paling rumit dari keseluruhan film adegan final fight antara Ito dan Arian. Proses shooting-nya sendiri berlangsung selama 8 hari.

Joe: Adegan final fight untuk Arian di ending film membutuhkan 8 hari untuk proses shooting, dan kita latihan sekitar 2-3 bulan untuk semua fight scene. Tapi untuk bagian tersebut, saya dan Iko intensif berlatih sekitar 1 bulanan.

Adegan fight terakhir Joe VS Iko / Credit: Instagram - timobrosAdegan fight terakhir Joe VS Iko / Credit: Instagram - timobros

2. Banyak review media mengatakan bahwa TNCFU adalah film martial arts terliar di 2018. Bagaimana perasaan kalian?

Iko: Bangga pastinya. Semua pihak yang terlibat di film ini bekerja dengan total dan maksimal. Semua karakter pun kuat dan unik. Senang rasanya ketika saya dan Uwais Team diberi kebebasan dalam menciptakan koreo yang sesuai dengan ciri khas kami untuk film ini. Dan ketika semua hasil itu bisa dinikmati oleh penonton, kami senang dan bangga.

Joe: Tersanjung, karena memang film ini menargetkan penonton dewasa yang suka action, sehingga kami bisa maksimal dalam memperlihatkan martial art yang berkualitas. Tentu saja kami merasa tersanjung bahwa film ini bisa diterima dengan baik.

3. Adegan apa yang paling sering re-take (ulang) di TNCFU?

Iko: Mungkin scene final fight karena sinkronisasi antara gerakan pemain dan pergerakan kamera itu butuh presisi yang tinggi banget. Jadi untuk bisa sempurna, prosesnya juga cukup panjang dan butuh diulang-ulang.

Joe: Untuk Ito sendiri mungkin adegan yang berhubungan dengan teknis, seperti efek ketika adegan tulang yang patah atau semburan darah. Hal-hal yang berhubungan dengan efek CG (Computer-Generated) juga biasanya memakan waktu yang lebih lama. Tapi di luar itu, semua adegan action berantem berjalan dengan mulus, karena persiapan kami juga matang.

4. Aspek apa dari tokoh yang kalian mainkan yang paling menyentil benak? Bagaimana pendapat kalian dengan masing-masing karakter yang dimainkan serta tantangan dalam memerankannya?

Iko: Ini adalah tantangan yang seru dan menyenangkan bagi saya, karena untuk pertama kalinya saya berperan antagonis. Saya menjadi seorang anak muda yang cool dan sebenarnya setia kawan, tapi juga ambisius. Berpakaian rapi tapi juga bengis. Semua hal yang baru bagi saya. Saya juga memiliki dialog dalam bahasa Mandarin, tentu ini menantang untuk bisa mempelajarinya dan mengucapkannya dengan cara dan gaya yang baik dan benar. Yang menyentil mungkin adalah sisi perseteruan emosi ketika terpaksa harus memilih antara 'keluarga' atau karir. Cukup emosional.

Joe: Menurut pandangan saya, Timo sangat detail karena dalam film ini lumayan banyak karakter yang di build-up dan penonton akan dimanjakan dengan karakterkarakter yang keren. Untuk karakter Ito sendiri, aspek humanity-nya yang paling menonjol, bagaimana pada suatu hari sisi kemanusiaan seorang penjahat yang sudah terlalu lama hidup di dunia “hitam” memberontak keluar, dan dia berkata cukup. Mungkin seperti aspek kemanusiaan yang banyak kita lihat di film-film drama, tapi kali ini bisa kita lihat dari seorang tokoh antagonis, anti-hero, berusaha untuk melawan takdirnya sendiri. Bagi saya, aspek humanity yang rebellion tersebut yang terasa sangat keren dari film ini dan karakter Ito. Tantangannya lumayan, seperti research untuk sisi kehidupan gangster seperti apa. Bagaimana karakter yang jahat ingin menjadi baik, namun tidak pernah cukup karena karma yang harus dia bayar sebelumnya akan selalu menghantui. Tantangan tersebut secara psikologis tidak gampang, tapi tetap seru untuk dimainkan. Suatu karakter yang saya rasa semua aktor ingin memainkannya.

5. Untuk Joe, kegokilan apa yang pernah dilakukan Iko selama syuting? Sementara untuk Iko, apa yang paling bisa bikin Joe Taslim tertawa terbahak-bahak?

Iko: Biasanya setelah cut langsung bercanda dan ketawa bareng. Kadang-kadang hal sederhana dan receh bisa bikin kami tertawa, seperti bercanda dengan crew atau tim koreo.

Joe: Shooting saya sama Iko selalu fun karena dia tidak pernah tegang. Semua selalu dibawa fun, seru, dan ketawa. Pas kamera on, kita jadi karakter masing-masing, tapi pas kamera off atau setelah cut, kita kembali biasa. Tense-nya tidak berkelanjutan, jadi pengambilan gambar bareng Iko selalu seru, ketawa, dan gila. Tidak hanya untuk kita berdua, tapi ke crew dan pemain lain juga sering gila-gilaan. Suasana shooting seperti itu memang terbaik dan harus ada di semua shooting film.

Syuting selalu penuh canda dan santai / Credit: Instagram - timobrosSyuting selalu penuh canda dan santai / Credit: Instagram - timobros

6. Seperti apa kalian membayangkan diri kalian 20 tahun lagi. Masih greget baku hantam?

Iko: Inshallah, kita tidak pernah tahu apa yang bisa terjadi. Dulu saya bahkan tidak pernah membayangkan masa depan saya akan menjadi aktor film.

Joe: 20 tahun lagi mungkin saya sudah tidak bisa bergerak seperti sekarang. Sebagai seorang aktor, saya melihat diri saya masih bermain film. Bisa jadi juga menjadi directoractor-producer, tapi pastinya akan tetap di dalam dunia film karena it's part of my life!

7. Kira-kira ntar pada umur berapa anak-anak kalian dibolehin nonton TNFCU? Dan apa yang paling ingin kalian ceritakan ke mereka kelak?

Iko: Tentu saja ketika mereka sudah cukup umur. Ceritanya mungkin lebih ke bagaimana film ini tidak hanya sekadar action semata, namun juga menggambarkan suatu konflik batin dan garis tipis antara ambisi hidup namun melupakan pertemanan, dengan nyawa namun melakukan sesuatu yang benar.

Joe: Yang pasti di atas 20, minimal di atas 18 kalau menurut Netflix, di mana mereka sudah mempunyai penalaran logika yang baik dan tahu apa yang terjadi di film itu tidak real. Mereka juga bisa mengambil message yang positif dengan terlebih dahulu menyaring informasi yang mereka dapat dari film tersebut.

8. Netizen maupun pengamat film mancanegara takjub dan angkat topi dengan TNFCU, pesan apa yang ingin kalian sampaikan pada mereka?

Iko: Pesannya bahwa Indonesia saat ini memiliki sumber daya yang keren untuk film action, sehingga dapat mulai diakui oleh dunia internasional - terutama dengan peran Netflix yang dapat membuka pintu bagi para sineas lokal untuk memperlihatkan karyanya di audiens internasional. Selain itu, koreografi yang mereka lihat di layar banyak diambil dari style bela diri tradisional milik Indonesia yakni Pencak Silat, sehingga kita bisa berbangga dengan negara kita sendiri.

Joe: Pesan saya untuk netizen dan pengamat film, terima kasih banyak atas supportnya. Film ini melalui kerja keras yang luar biasa, di mana ada proses pembuatan yang sempat tertunda namun akhirnya tercapai dan sukses. Personally, dalam karir saya di dunia akting, ini merupakan film pertama di mana saya menjadi lead. Tidak hanya di dunia action, ini film pertama di mana sebagai seorang aktor, saya menjadi center cerita. For me it's very personal. Terima kasih banyak untuk love dan support-nya.

9. Kalau tidak main film aksi, peran seperti apa yang bikin kalian tertantang?

Iko: Setiap peran pasti ada tantangannya masing-masing, tapi saya selalu tertantang dengan peran yang cukup banyak membutuhkan kemampuan akting, jadi mungkin tidak semuanya berisi adegan perkelahian.

Joe: Saya tertarik dengan peran komedi atau drama romance-comedy. Sesuatu yang bertolak belakang dengan apa yang orang kenal dari karakter saya di film. Apalagi orang melihat saya semakin “buas” setelah main di TNCFU, sehingga harus balance dengan main film yang benar-benar bertolak belakang dari karakter Ito, itu tantangannya untuk saat ini.

Dynamic Duo 'TNFCU' / Credit: Instagram - timobrosDynamic Duo 'TNFCU' / Credit: Instagram - timobros

10. Siapa di antara cast yang paling sering minta diajari koreografi fighting?

Iko: Semua cast yang memiliki adegan fighting dalam film ini pasti harus bersama-sama latihan secara intense untuk bisa menyelesaikan adegan dengan perfect.

Joe: Biasanya cast yang tidak dapat scene berantem, karena kebanyakan mereka hanya duduk dan menyaksikan. Jika sudah seperti itu, semua cast yang hanya memiliki scene drama seperti 'gatel' untuk meminta adegan berantem juga. Nah mereka itu yang biasanya ingin belajar. Tapi bagi semua yang kedapatan scene berantem, karena udah penuh dengan schedule latihan, jadi mungkin sudah cukup kali ya… hahaha.

11. Film kalian ada di Netflix sekarang, yang bisa ditonton semua orang di dunia, bagaimana rasanya?

Iko: Senang. Mudah-mudahan banyak hal baik terjadi ke banyak orang yang sudah terlibat di project ini. Saya juga berterima kasih dengan Netflix yang telah memberikan kesempatan TNCFU untuk disaksikan penonton yang lebih luas.

Joe: Tersanjung pastinya, bangga hasil kerja keras kita ditonton tanpa batas dan bisa kapan aja. Bayangkan, film ini sedang ditonton orang-orang di Jakarta, namun pada saat yang bersamaan sedang ditonton juga dengan yang di Afrika melalui Netflix. Ini merupakan salah satu kelebihan Netflix. Tujuan kita bekerja keras adalah untuk ditonton orang banyak dan hal tersebut tercapai melalui kerja sama dengan Netflix.

12. Di luar film, hubungan kalian seperti apa sih? Sering hangout bareng gitu?

Iko: Saya dan Joe sudah seperti saudara sendiri. Dia sering ada di rumah saya untuk hangout atau acara keluarga. Begitu juga sebaliknya. Kami sama-sama atlet bela diri yang memulai karir ini bersama-sama. Keluarga kami sangat dekat.

Joe: Saya dan Iko sudah seperti saudara. Keluarga saya dan keluarga dia juga sangat dekat. Karir kami berawal dari The Raid 1, di mana kami mulai lebih dikenal dan membuka pintu Hollywood bagi karir kami. Jadi kami lahir dari satu keluarga, keluarga 'Raid'. Sampai sekarang kami masih sering dukung, selalu sharing. Kami selalu berkomunikasi, tidak hanya tentang kerjaan namun juga di luar itu, tentang hidup, dalam hal gossip dan sebagainya. We're like brothers, jadi sudah bukan orang asing lagi. Tidak hanya hubungan sesama aktor, tapi kami seperti kakak-adik and always be like that.

13. Satu kalimat paling pas untuk menggambarkan sosok sahabatmu! (Iko memberi testimoni untuk Joe, dan sebaliknya)

Iko: Joe lebih dari sahabat. Dia sudah saya anggap sebagai abang tertua saya, walaupun kami tidak sedarah.

Joe: Super talented, very funny, I look up to him very high. I see him as a person who inspire me. Dia selalu kerja keras menjadi diri sendiri. Very humble meskipun posisinya sudah menjadi super star kelas dunia, tidak ada yang berubah. Dia sangat lucu dan saya belajar banyak dari dia, tidak cuma di action tapi juga dalam segala hal. Intinya dia adalah a good brother, a good father, a good actor, and he is my inspiration.

(kpl/gtr)

Editor:  

Guntur Merdekawan