Garap 'DREADOUT' Sendiri, Ini yang Dirindukan Kimo Stamboel Saat Tanpa Timo Tjahjanto

Rezka Aulia | Kamis, 03 Januari 2019 10:15 WIB
Garap 'DREADOUT' Sendiri, Ini yang Dirindukan Kimo Stamboel Saat Tanpa Timo Tjahjanto

Kapanlagi.com - Bagi penikmat film action maupun horor, nama Mo Brothers yang digawangi Kimo Stamboel dan Timo Tjahjanto pasti sudah tidak asing lagi. Namun sejak tahun 2018 keduanya mencoba untuk jalan sendiri-diri. Hasilnya, Timo dengan SEBELUM IBLIS MENJEMPUT, sementara Kimo dengan DREADOUT.

Terbiasa bekerja berdua, ketika menahkodai sebuah film seorang diri Kimo mengakui adanya perbedaan besar. Hal yang dirindukan ialah momen bertukar pikiran serta debat kreatif untuk kepentingan proyek yang tengah ditangani.

"Seru sendiri, tapi berdua juga seru. Maksudnya, plus minusnya ada. Kalau sendiri nggak enaknya itu nggak ada teman diskusi kreatif, kehilangan teman diskusi sekaligus teman debat membangun. Karena gue di sini bener-bener solo, akhirnya coba mengintrepetasikan sendiri," ucap Kimo ditemui di CGV Grand Indonesia, kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (2/1/2019).

1 dari 2 halaman

1. Proyek Impian

Proyek Impian KapanLagi.com/Bayu Herdianto
Film DREADOUT sendiri merupakan live action dari game PC berjudul sama yang dikembangkan oleh developer asal Bandung bernama Digital Happiness. Game ini menjadi proyek impian Kimo Stamboel tak lama setelah menonton ulasan Youtuber kenamaan asal Swedia yaitu PewDiePie.

"Pas pertama nonton review di PewDiePie, gue ngebatin 'Ah mantep nih, kayaknya kalau gue mau bikin horor, gue mau start sama cerita ini'. Akhirnya gue cari kreatornya, kebetulan temen gue ada yang mengenali. Terus gue e-mail, gue jelasin maksud gue dan visi mereka ternyata memang ke sana: mau mengembangkan IP DreadOut menjadi sebuah film. Jadi pas, pada saat itu gue datang, dan mereka orangnya asyik diajak kerjasama," cerita pria berkacamata ini.

2 dari 2 halaman

2. Menunggu Empat Tahun

Kimo Stamboel mulai membicarakan proses adaptasi live action DreadOut sekitar 2015. Namun proyek itu baru benar-benar berjalan pada pertengahan tahun 2018 dan rilis awal tahun 2019 memasang bintang-bintang muda seperti Jefri Nichol, Susan Sameh, hingga Marsha Aruan.

"Gue approach film ini 2015 awal, 2016 gue bikin HEADSHOT, 2017 THE NIGHT COMES FOR US, baru 2018 gue bisa konsentrasi nulis skrip dan enam bulan kemudian syuting. Kalau dihitung dari proses awal ke syutingnya butuh empat tahun," tandasnya.

 

 

(kpl/abs/rna)


Reporter:  

Adi Abbas Nugroho

↑