Hanung Tantang Roy Suryo Kritik Film Lain

Ellyana Mayasari | 20 September 2010, 14:09 WIB
Hanung Tantang Roy Suryo Kritik Film Lain
Kapanlagi.com - Film SANG PENCERAH dikritik karena dianggap tidak detil. Sang sutradara, Hanung Bramantyo pun meminta sang pengkritik, Roy Suryo untuk fair dengan mengkritik film lainnya yang terkadang tidak sesuai dengan realita yang ada.

"Saya menerima sekali kritikannya, tak hanya Roy Suryo, tapi semua kalangan untuk mengkritik film ini, saya senang sekali. Cuma yang fair dong, berapa kali liat film nasional, yang judulnya seperti contoh HANTU CASSABLANCA. Nonton nggak film-film horror lainnya? Mereka nggak mengkritisi kok. Terus jangan mentang-mentang film SANG PENCERAH penontonnya banyak lalu dikritik, menjadi menutup mata terhadap situasi yang sifatnya realistis," ujar Hanung saat ditemui usai nonton bareng bersama Menko Perekonomian Hatta Rajasa dan organisasi Generasi Amanat, di XXI Plaza Senayan, Jakarta, Minggu (19/9) malam.

Suami Zaskia Adya Mecca ini pun belum mau berkomunikasi dengan Roy Suryo mengenai kekurangan-kekurangan lainnya yang ada di dalam filmnya. Menurutnya, perbedaan yang ada di jaman ini dengan 100 tahun yang lalu memang sudah sangat berbeda. Hanung pun mengakui hal tersebut.

"Bisa saja sih. Tapi saya nggak paksa, saya juga orang Yogya kok, saya tinggal di Kauman, nggak usah mas Roy Suryo, saya sendiri melihat Kauman itu bukan yang 100 tahun yang lalu, mengalami reformasi, reformasi arsitektur dan bahasa. Coba sekarang saya kalau ketemu orang Kauman, bahasanya kok 'Lu, Gue" loh, kok piye (bagaimana). Maksud saya itu tadi, kalau kita harus menunggu tempat situasi yang kondusif, ini tak akan pernah tercapai, butuh kenekadan," ujar Hanung.

Lalu, apakah kritikan Roy Suryo yang beberapa di antaranya menyebut tugu Yogya terlalu kecil dan juga jalan Malioboro merupakan sesuatu yang besar bagi filmnya?

"Jangankan tugu Yogya, jalanan itu memang lebih kecil dari aslinya kok. Buat saya film itu sebuah reproduksi, semuanya kalau mau dibikin satu berbanding satu, butuh tempat yang lebih besar, masjid itu memang satu banding satu, tapi kalau jalan itu lokasinya nggak mencukupi, buat saya nggak sekedar Tugu tapi semuanya itu miniatur. Kalau penonton melakukan napak tilas pergi ke Kauman, itu lebih besar tiga kali lipat dari film, saya sadar betul," ujar Hanung.  (kpl/adt/mae)

Editor:  

Ellyana Mayasari