Jodie Foster Transformasi Lewat 'THE BRAVE ONE'

Yunita Rachmawati | 18 September 2007, 23:39 WIB
Jodie Foster Transformasi Lewat 'THE BRAVE ONE'

Kapanlagi.com - Ketika seorang warga biasa pertama kali membunuh, apa yang dia rasakan? Akankah rasa takut berangsur hilang, lalu akan seperti orang yang telah menjadikan senjata sebagai bagian dari dirinya? Film THE BRAVE ONE - yang diperankan Jodie Foster - mencoba menawarkan pertanyaan berkonsekuensi hidup-mati tersebut, tanpa meninggalkan sisi tontonan yang menegangkan.

Erica Bain (Jodie Foster) adalah seorang kolumnis radio yang mencintai setiap denyut dan detik Kota New York. Lewat siaran Street Walk, Bain menggugah orang bahwa New York adalah anugerah; kota dengan kumpulan kisah memikat yang tergerus masa.

"... Kota yang menghilang persis di depan mataku," ucapnya saat siaran, lalu mencontohkan pudarnya legenda tentang kejadian-kejadian di balik kamar hotel The Plaza yang legendaris.

Bain tidak pernah menduga kota yang dia personifikasikan itu justru mencengkeramnya secara sangat pilu, lewat kekerasan yang dialaminya bersama sang pacar, David Kirmani (Naveen Andrews). Dia menghadapi sendiri segalanya, tanpa teman, karena di kota besar orang terbiasa hidup mandiri, seperti tetangganya, Josai (Ene Oloja) yang akrab bertegur sapa tanpa pernah menyebut nama.

Sapaan 'kota teraman di dunia' untuk para pendengarnya, digunakan Bain ketika mencoba bangkit, namun ucapan itu memiliki arti berbeda, khususnya setelah dia menggunakan pistol otomatis. Dengan benda itu, dia kembali berkeliling kota dengan mic untuk merekam suara-suara New York, yang membawanya berkenalan dengan seorang penggemar acaranya, detektif Sean Mercer (Terrence Howard).

Foster (44), masih sangat kental dengan sosok perempuan biasa yang menjadi perkasa, seperti dalam PANIC ROOM dan FLIGHTPLAN. Tantangannya, dalam film terbaru ini adalah dia berubah total menjadi orang lain, dan bukan sekedar muncul sebagai pahlawan saat krisis.

Film ini digarap para pekerja seni peraih Oscar. Selain Jodie yang meraih Oscar lewat peran dalam film SILENCE OF THE LAMBS dan ACCUSED, terdapat sutradara Neil Jordan, sutradara terbaik Oscar untuk film CRYING GAME, serta juru kamera, Philippe Rousselot, yang memenangi Oscar lewat A RIVER RUNS THROUGH IT, dan Mercer yang dua kali menjadi calon peraih Oscar untuk peran HUSTLE & FLOW dan CRASH.

Kolaborasi mereka sangat bagus dalam mempersembahkan transformasi diri Bain; kamera berada di belakang Bain yang berjalan dengan panik, kemudian berputar mendahului langkah Bain dan dalam beberapa langkah, terlihat sosok yang sudah menjadi 'the brave one'.

Dalam wawancara dengan majalah MORE, Jordan, mengatakan film yang dia arahkan itu kisahnya sangat 'Amerika', yaitu mengenai kekerasan. Amerika sepertinya suatu negeri anarkis terencana.

Sutradara asal Inggris itu seolah meneguhkan AS sebagai bangsa yang haus darah. Survei dari Harris Interactive pada 2004 menyebutkan bahwa 36,5 persen warga Amerika memiliki senjata dan menurut Coalition to Stop Gun Violence, rata-rata setiap hari 80 orang Amerika tewas ditembak.

Sementara itu, Foster, dalam wawancara dengan Entertaiment Weekly, mengakui bahwa niat balas dendam adalah salah satu sifat manusia yang memalukan, namun hal itu tidak dapat dipungkiri itulah yang membentuk manusia.

Mengenai kritik bahwa filmnya tidak beda dengan film main tembak seperti DIRTY HARRY, dia mengatakan, "Saya tidak percaya bahwa senjata seharusnya ada dalam pikiran, perasaan dan nafas manusia."

"Bangsa Amerika sifatnya dipenuhi dengan kemarahan yang mengalahkan rasa takut. Senjata api adalah bagian besar dari sejarah Amerika, dan kekerasan sudah mutlak menyeleweng," katanya.

Mengenai judul THE BRAVE ONE (Si Pemberani), yang dikecam karena seolah merupakan provokasi, dia mengatakan, "Setiap waktu (di saat pembuatan) kami seolah mengatakan 'Teman-teman, judulnya salah, ini menyesatkan'. Dan satu-satunya penjelasan mengapa judulnya begini, soalnya terdengar bagus," ujarnya.

Menurut pihak studio, film tersebut, seperti film-film Foster sebelumnya, 55 persen penontonnya adalah perempuan dan tiga perempatnya berusia lebih dari 30 tahun. Warga AS penggemar Foster, yang trauma dengan serangan teroris atau kriminal dan geram balas dendam, agaknya menjadi kombinasi yang tepat untuk penonton film.

THE BRAVE ONE yang diputar di seluruh AS mulai 14 September, dalam beberapa hari saja telah menghasilkan pemasukan 14 juta dolar AS dan berada di posisi teratas peringkat film Hollywood paling laku. (*/boo)

Editor:   Yunita Rachmawati