Karena Film, Guru Sejarah Kini Tersenyum Lega

Mahardi Eka Putra | 29 September 2014, 17:51 WIB
Karena Film, Guru Sejarah Kini Tersenyum Lega
Kapanlagi.com - Siapa sih Likas? Tentunya itu yang terbayang pertama saat tahu Rako Priyanto, Atiqah Hasiholan, dan Vino G Bastian sedang menggarap sebuah biopik tentang istri pejuang asal Sumatera Utara, bernama Likas. Penonton tanah air, kecuali mereka yang berasal dari Sumatera Utara niscaya tak banyak tahu tentang tokoh satu ini.

Lewat film 3 NAFAS LIKAS, barulah penonton sedikit demi sedikit tahu dan mengenal siapa itu Likas. Ia adalah perempuan asal Sumatera Utara yang memegang teguh janjinya kepada 3 orang terpenting dalam hidupnya. Perjalan hidupnya tersebut lantas menjadi sebuah kisah menarik tersendiri. Dari film yang notabene dianggap sebagai media hiburan, ternyata orang bisa tahu tentang sejarah Indonesia yang tersembunyi selama ini. Sebelumnya, siapa yang tahu tentang Likas?

Bicara tentang sejarah Indonesia, dengan mudah kita bisa menyimpulkan bahwa sejarah bangsa ini sangatlah panjang, unik, dan beragam. Kalau mau dipetakan, tentunya dari Sabang sampai Merauke punya sejarah dan tokohnya masing-masing. Bisa tokoh perjuangan, tokoh pendidikan, tokoh kemanusiaan, atau mungkin tokoh olahraga.

Film 3 NAFAS LIKAS mencobai mengurai setitik dari antara lautan sejarah tersebut. Ia mencoba memaparkan sejarah perjuangan dari kacamata seorang perempuan bernama Likas. Hal yang sama juga coba dilakukan CAHAYA DARI TIMUR, SOEKARNO, dan HIJRAH CINTA yang kesemuanya dirilis tahun ini. Film tak bisa dipungkiri menjadi sebuah media bagi sejarah bangsa untuk tetap hidup dan menyapa para generasi muda.

Sejarah di mata para generasi muda bukan topik yang paling mereka favoritkan. Ada banyak topik lainnya seperti sains, kesenian, otomotif, yang lebih laku dan kekinian dibanding sejarah. Maka tak heran bila banyak generasi muda yang tak tahu seluk beluk sejarah bangsa kita. Ada pun sejarah tersebut sejatinya sudah tersedia dalam bentuk beragam buku dengan berbagai sampul yang menarik. Masing-masing darinya menyuguhkan secuplik cerita dari para tokoh ternama (biografi) dan juga kejadian penting dalam sejarah bangsa.

Sayang, media buku bukan jadi pilihan bagi semua orang. Minat baca di negara ini belumlah tinggi. Maka dari itu, para sineas Indonesia mencoba mendukung pelestarian sejarah bangsa ini lewat media yang mereka anggap menarik, yakni film. Dan lihat saja dalam beberapa tahun terakhir ada banyak sekali biopik yang dibuat. Belum lagi di masa mendatang ada beberapa proyek biopik yang sudah menunggu, seperti GURU BANGSA HOS TJOKROAMINOTO, HATTA, serta 3 NAFAS LIKAS yang akan dirilis dalam waktu dekat.

HIJRAH CINTA jadi salah satu film biopik yang laris ditonton tahun ini.HIJRAH CINTA jadi salah satu film biopik yang laris ditonton tahun ini.

Film memang punya kelebihan tersendiri dalam memaparkan sejarah kepada para penontonnya. Tanpa bermaksud membatasi imajinasi pembaca akan sebuah setting, penampilan tokoh, dan situasi yang digambarkan dalam buku, film menyuguhkan ketiga aspek tersebut dengan sangat menarik. Ya, menarik adalah kata yang tepat untuk menggambarkannya. Oleh karenanya sebuah film sejarah dipandang tak membosankan oleh penonton. Meski mereka pun sebenarnya tahu, bahak wa dalam film selalu ada dramatisasi.

Karena faktor "menarik" tersebut, sebuah film sejarah memberi jaminan bahwa film tersebut bakal laris di pasaran. Kalau pun tak laris, paling tidak pendapatan film tersebut tak membuat rumah produksinya merugi. Intip saja pendapatan HIJRAH CINTA yang sukses menjadi film terlaris ketiga di tahun ini dengan pendapatan 711.205 penonton. Tak mengecewakan bukan?

Selain itu, film juga memberi kemudahan kepada para penonton dalam menikmati sebuah cuplikan sejarah. Alih-alih harus menyempatkan diri hingga berhari-hari untuk membaca sebuah buku sejarah, film bisa merangkumnya dalam satu sampai dua jam saja. Mereka tak perlu memaparkan hal yang trivial, akan tetapi langsung memberikan event-event penting dari sejarah tersebut.

Rumah produksi hingga kini masih menganggap film biopik sebagai pundi keuntungan bagi mereka. Penonton pun senada, film biopik adalah film yang menarik untuk ditonton. Namun dari semua yang tersenyum karena perilisan biopik di layar lebar, bisa jadi adalah guru sejarah. Topik yang mereka ajarkan tidak lagi dianggap topik membosankan.

(kpl/dka)

Editor:  

Mahardi Eka Putra