Marcella Zalianty Makin Akrab Dengan Isu Nasionalisme

Darmadi Sasongko | 25 November 2011, 17:13 WIB
Marcella Zalianty Makin Akrab Dengan Isu Nasionalisme
Kapanlagi.com - Karir Marcella Zalianty di dunia hiburan terbilang mulus. Sebagai aktris, kapabilitas aktingnya diakui dengan sejumlah penghargaan, di antaranya dengan meraih Piala Citra. Ia pun akhirnya bermetamorfosa menjadi produser dengan mendirikan Keana Production & Communication. Karya perdananya berupa film layar lebar berjudul BATAS disambut cukup hangat ketika beredar pertengahan Mei lalu.

BATAS banyak dibicarakan terutama karena isunya yang cenderung tak populer. Marcella dengan berani menyoroti kisah perbenturan antara penduduk di perbatasan Indonesia – Malaysia dan nasionalisme.

Kini putri aktris Tetty Liz Indriaty itu dinilai makin akrab dengan isu nasionalisme. Pasalnya setelah film BATAS, ia merilis film dokumenter panjang berjudul CERITA DARI TAPAL BATAS. Di sini ia menyerahkan tanggung jawab sebagai produser pada Ichwan Persada, yang juga mendampingi Marcella sebagai associate producer di film BATAS.

“Saya rasa isu nasionalisme dengan segala aspeknya sangat menarik untuk dibicarakan. Dan isu ini jika digodok dengan manis tetap bisa menjadi tontonan yang menarik,“ jelas Marcella Zalianty

CERITA DARI TAPAL BATAS menggulirkan kisahnya dari sosok Ibu Martini. Ia telah mengabdi selama 8 tahun di dusun terluar dan terjauh Indonesia yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Menggunakan sampan dengan menempuh 8 –

12 jam mengarungi sungai dengan 12 riam dilaluinya menuju tempatnya bertugas. Martini tak pernah mengeluh hingga suatu ketika pemerintah memutuskan membangun perpustakaan di sana. Padahal ia sendirian dan merangkap-rangkap tugas dari kepala sekolah hingga pesuruh. Dan menempati fasilitas rumah dinas yang kurang layak huni.

Dari Ibu Martini, CERITA DARI TAPAL BATAS menggulirkan kisahnya pada sosok Pak Kusnadi. Ia berprofesi sebagai mantri kesehatan dan berstatus sebagai pegawai negeri. Jika sebagian besar pegawai negeri melalui hidupnya dengan nyaman bekerja di kantor, maka Kusnadi mendedikasikan dirinya dengan keluar masuk gunung dan pedesaan.

Ia harus menjelajahi 5 desa sekaligus setiap 2 minggu sekali demi memberikan pengobatan bagi masyarakat di beranda terdepan tanah air. Jarak tempuh antara satu desa dengan desa lainnya yang harus dilalui selama 2 – 5 jam tak membuat Kusnadi menyerah. Berkatnya pulalah, ada secercah harapan bagi masyarakat di sana.

Dan CERITA DARI TAPAL BATAS mengakhiri kisahnya dengan menyoroti sosok Elly, seorang gadis belia yang menjadi korban perdagangan manusia. Ia tergiur janji-janji untuk hidup enak di Taiwan. Maka bersama beberapa temannya ia pun nekat mengambil jalan pintas. Tapi kenyataan tak seindah yang dibayangkan. Elly harus menelan pil pahit dan akhirnya memilih pulang ke tanah air.

Setelah CERITA DARI TAPAL BATAS, kini istri dari Ananda Mikola itu tengah bersiap menggodok produksi layar lebar berikutnya. Kali ini ia akan mengangkat isu nasionalisme dari lapangan hijau. Kita tunggu saja. (kpl/prl/dar)

Editor:  

Darmadi Sasongko