Menonton Kembali 'ADA MERTUA DI RUMAHKU', Keluarga Batih Ibarat Ruang Publik yang Pelik

Mahardi Eka Putra | 31 Agustus 2022, 16:06 WIB
Menonton Kembali 'ADA MERTUA DI RUMAHKU', Keluarga Batih Ibarat Ruang Publik yang Pelik

Kapanlagi.com - Penulis: Tantri Dwi Rahmawati & Mahardi Eka Putra

Siapa di antara kita yang langsung gelisah ketika melihat tokoh Bambang (Rano Karno) tiba-tiba datang ke rumah anaknya yang baru saja menikah. Padahal, ia tidak hadir sebagai wali nikah putrinya. Tidak hanya datang secara mendadak, tapi Bambang juga memaksa menginap dan tinggal menetap di rumah pengantin baru tersebut. Tanpa persetujuan terlebih dahulu.

Sementara pasangan baru tersebut, Nirmala (Cut Meyriska) dan Irfan (Roger Danuarta) hanya bisa bengong karena malam pertama yang dalam bayangan mereka akan mereka nikmati berdua saja, seketika sirna. Adegan yang bikin gelisah di atas bisa ditonton dalam film ADA MERTUA DI RUMAHKU (2022), film drama garapan Rully Manna produksi KlikFilm Productions serta Merpati Film. Tidak berhenti di situ saja, film drama keluarga satu ini kemudian menghadirkan relasi antara bapak, putrinya, dan menantu yang unik nan ajaib dalam film tersebut.

Tanpa basa-basi di awal film kita akan mendapat suguhan Nirmala dan saudara-saudaranya ngobrol di telepon, saling lempar siapa yang harus bertanggung jawab menampung bapaknya. Bapaknya diceritakan sudah menjual rumah warisan almarhumah istrinya. Sementara saudara-saudara Mala beralasan tidak ada ruangan untuk menampung bapaknya.

Mala dan Irfan hendak menikmati malam pertama.Mala dan Irfan hendak menikmati malam pertama.

Bayangkan betapa tak lazimnya obrolan itu dilakukan di kamar pengantin pada malam pertama. Namun, di situlah premis cerita dalam filmnya mulai dibangun. Apa jadinya ketika Bapak yang pada hari pernikahan tidak hadir menjadi wali, justru datang minta tinggal serumah?

Dari situ permintaan-permintaan 'ajaib' Bambang menjadi plot-plot penggerak cerita. Mulai dari minta ditemani main catur di malam pertama pernikahan, pinjam (baca:minta) uang saku, sampai pinjam motor dagangan yang mau diambil oleh pembeli. Semua permintaan 'ajaib' tersebut hanya ditanggapi Irfan dan Mala dengan melongo, tanpa ada argumen bantahan, teguran, bahkan penolakan.

Irfan (Roger Danuarta) dan Mala (Cut Meyriska) sepulang dari akad nikah. Irfan (Roger Danuarta) dan Mala (Cut Meyriska) sepulang dari akad nikah.

Keluarga Batih Jadi Ruang Publik yang Pelik

Bertitik tolak pada adegan Irfan dan Mala pulang dari akad nikah, ADA MERTUA DI RUMAHKU langsung dibingkai pada kehidupan pasutri baru ini. Kebahagiaan keduanya dalam membangun keluarga batih langsung menjadi suguhan penonton. Kami yakin penonton pun akan berekspektasi sama. Dengan memakai bungkus komedi dalam menyampaikan cerita, adegan klise semacam keduanya disoraki tetangga dalam perjalanan pulang, suami gendong istri memasuki rumah, hingga percakapan jelang malam pertama pun disajikan.

Irfan dan Mala baru saja memasuki babak baru dalam hidup mereka sebagai keluarga batih. Dalam benak keduanya mereka akan menikmati momen berdua yang menyenangkan dan privat. Akan tetapi hal tersebut langsung ditabrakkan dengan kehadiran Bambang pada malam pernikahan mereka. Apa yang seharusnya mereka jalani secara privat sebagai keluarga batih akhirnya menjadi ruang publik karena kehadiran Bambang. Meski dalam hal ini Bambang adalah ayah kandung dari Mala.

Ruang privat yang seharusnya bisa mereka jalani dengan enak lewat obrolan berdua tak lagi ada. Yang ada, keluarga batih mereka menjadi ruang publik dengan kehadiran Bambang karena ia lebih banyak menyuruh Irfan dan Mala memenuhi permintaannya. Peran Irfan sebagai kepala keluarga terintervensi oleh Bambang.

Selain itu, kehadiran Bambang juga menghadirkan banyak permasalahan lain yang membuat keluarga batih Irfan dan Mala makin pelik keadaannya. Pertama dari sisi finansial, Bambang terus menerus bikin repot Irfan-Mala dengan meminjam uang atau meminjam motor dagangan Irfan untuk kebutuhan pribadi. Malah, dalam satu adegan dikisahkan motor tersebut hilang saat dipakai Bambang.

Bambang (Rano Karno), tamu tak diundang dalam malam pernikahan anak dan mertua. Bambang (Rano Karno), tamu tak diundang dalam malam pernikahan anak dan mertua.

Dari aspek emosional, Bambang tidak diperlihatkan merasa bersalah dan menyesal dengan kelakuannya tersebut. Dalam beberapa adegan diperlihatkan ia tak henti mengganggu keseharian Irfan dan Mala, mulai dari mengambil tangga saat Irfan sedang membetulkan genteng atau membuang sampah kulit kacang secara sembarangan ketika konsentrasi bermain catur.

Dampak yang paling terasa adalah ketika Irfan tahu bahwa Bambang diam-diam memberikan uang kepada perempuan yang bukan istrinya. Hal tersebut jelas mempengaruhi psikologi Irfan kepada bapak mertuanya. Apakah ia harus mengadukan pada Mala, diam saja, atau bertindak sesuatu tentangnya menjadi pikiran yang menghantui Irfan.

Makin menambah pelik kehidupan keluarga Irfan dan Mala, adalah kehadiran para tetangga yang menanyakan hal-hal privat dengan tanpa sungkan, semisal soal aktivitas malam pertama, pengalaman malam pertama, hingga sudah hamil atau belum. Keluarga batih Irfan dan Mala benar-benar layak disebut sebagai ruang publik di mana semua bisa turut campur dan menambah kepelikan.

Penggambaran Kolektivisme dalam Masyarakat Indonesia

Plot-plot dalam ADA MERTUA DI RUMAHKU menghadirkan premis yang menarik karena menggambarkan implementasi nilai-nilai kolektivisme yang begitu lekat dengan masyarakat Asia, khususnya Indonesia. Nampak dari pilihan Irfan dan Mala untuk pada akhirnya menerima Bambang tinggal satu rumah meski hal tersebut sangat bertentangan dengan keinginan mereka.

Di sisi lain, Bambang secara santai, dan tanpa beban apa pun numpang di rumah anaknya, dengan dalih untuk lebih mengenal menantu. Tidak nampak dari adegan atau plot apapun di awal film bahwa Bambang menyadari tindakannya ini sudah melanggar privasi anak dan menantunya.

Pilihan keduanya adalah bentuk mendahulukan kepentingan keluarga (kelompok) di atas kepentingan personal atau privat (keluarga Irfan dan Mala). At least dalam hal ini pilihan Irfan dan Mala. Sementara Bambang lebih tepatnya memaksimalkan kolektivisme dalam melancarkan kepentingannya.

Hofstede & Gert Jan Hofstede dalam bukunya Cultures & Organization: Software Of The Mind yang terbit pada 2005 silam menyebut kolektivisme menekankan pada kebutuhan dan tujuan kelompok secara keseluruhan di atas kebutuhan dan keinginan masing-masing individu. Dalam budaya seperti itu, hubungan dengan anggota lain dari kelompok dan keterkaitan antara orang-orang memainkan peran sentral dalam identitas setiap orang.

ADA MERTUA DI RUMAHKU menyorot problematika yang dialami Irfan dan Mala, antara harus menjadi anak yang pengertian tapi bergumul, atau menjadi anak yang mau mengutarakan keinginannya tapi harus rela dicap sebagai anak tak pengertian atau malah durhaka. Dalam perspektif budaya dan agama, orangtua adalah pihak yang harus dihormati, dituruti, dan diutamakan tanpa dapat ditawar. Sehingga dalam relasinya dengan anak, seperti orangtua berada di pihak superior sementara anak adalah inferior (marjinal).

Irfan dan Bambang dengan dinamika relasi tinggal seatap. Irfan dan Bambang dengan dinamika relasi tinggal seatap.

Dalam buku Geertz berjudul Keluarga Jawa yang terbit pada 1983 disebutkan betapa nilai anak-anak dalam keluarga Jawa dapat ditunjukan pada ungkapan berikut: “Bilamana kau menjadi tua, anak-anakmulah yang akan mengurusimu. Bahkan pun bilamana engkau sangat kaya, bagaimana anak-anakmu akan mengurusimu takkan tertebus dengan uangmu." Dari ungkapan tersebut bisa disimpulkan betapa anak dianggap berkewajiban mengurus orangtua ketika sudah dewasa.

Selain itu, ada juga pemaknaan tentang anak yang diungkap oleh Widyartanti dalam penelitian berjudul Aktualisasi Nilai Hormat Anak Pada Orangtua Dalam Keluarga Jawa yang terbit pada 2012 silam. Ditemukan betapa anak diartikan sebagai aset orang tua untuk masa depannya sehingga, anak mempunyai tanggung jawab untuk selalu berbakti pada orang tuanya.

Sementara perpektif budaya lain yang sejalan dengan kolektivisme adalah budaya extended family. Menurut Lui dalam penelitannya berjudul Family Involvement in and Satisfaction with Long Term Care Facilities in Taiwan pada 2009 silam, budaya extended family ini masih marak diterapkan oleh keluarga-keluarga Asia (Indonesia, Filipina, Jepang, Thailand, Cina, dan Malaysia). Extended family sendiri adalah orangtua (lansia) tinggal bersama keluarga inti.

Selama ini, pemaknaan tentang orangtua begitu didominasi oleh perspektif budaya dan agama ketimbang perspektif yang lebih manusiawi. ADA MERTUA DI RUMAHKU juga makin menguatkan hal tersebut, alih-alih memberi alternatif pemaknaan tentang relasi orang tua dan anak. Dengan premis yang diusung, film yang memang menonjolkan sosok Rano Karno ini punya potensi untuk digarap secara berbeda.

Irfan dan Mala bisa saja digambarkan sebagai sosok anak yang membuka ruang diskusi dalam mencari pemecahan masalah keluarga. Bisa juga sebaliknya, sosok Bambang lah yang membuka ruang diskusi. Namun, hal tersebut kurang dimunculkan dalam skenario garapan Puguh P.S. Admaja ini.

Irfan dan Mala terus digambarkan sebagai sosok apologetis. Sesekali mereka teringat bahwa ruang privat mereka sudah terusik oleh Bambang tapi sekali lagi mereka kembali apologetis. Mereka lebih memilih untuk membahas soal malam pertama, romantisme pasutri, alih-alih membahas keberadaan Bambang yang mengusik kedamaian di rumah.

Selain itu, dinamika kognisi Irfan tidak banyak disorot. Irfan tidak hanya apologetis tapi juga digambarkan sebagai menantu tak berdaya dan pasrah saja. Padahal, sebagai individu, Irfan pasti memiliki pergolakan batin sendiri dimana dialog antara ego serta pikiran terjadi dalam dirinya. Apalagi, sebagai seorang kepala keluarga, ruang-ruang otoritas Irfan terusik dengan kehadiran Bambang. Setidaknya, ia bisa saja digambarkan berkonflik dengan Mala ataupun Bambang, menyalahkan keadaan, atau bahkan menyalahkan keluarga besar Mala. Namun, penerimaan Irfan atas kehadiran Bambang tampak terlalu mulus.

Komedi dan Topik Populer dalam Membawa Perspektif Baru

ADA MERTUA DI RUMAHKU tidak sepenuhnya hadir dengan kekurangan. Salah satu yang patut diapresiasi adalah penyajian kisah Irfan Mala dan Bambang dengan bungkus komedi yang ringan dan bahkan cenderung komikal di beberapa adegan. Beberapa kali komedi menjadi medium yang efektif dalam menghadirkan isu sosial seperti misalnya soal pernikahan dalam KAPAN KAWIN, soal karir individu dan harapan orangtua dalam CEK TOKO SEBELAH atau NGERI NGERI SEDAP.

KAPAN KAWIN membungkus isu ramai soal pernikahan dengan komedi yang menghibur.KAPAN KAWIN membungkus isu ramai soal pernikahan dengan komedi yang menghibur.

Kisah Irfan, Mala dan Bambang bisa jadi akan ditangkap berbeda ketika disajikan dalam medium drama realis. Meski memang di beberapa part terlihat sangat absurd, semisal saat kejadian motor hilang yang seakan tidak fatal atau ketika (spoiler alert) orang-orang yang pernah ditolong Bambang tiba-tiba bertemu Irfan di tengah jalan. Lawakan dan juga gestur-gestur komikal menjaga Bambang tetap memorable dan loveable tanpa menyurutkan kejengkelan para penonton.

Mengamini opini peneliti Institut Humor Indonesia Kini (IHIK3), Ulwan Fakhri bahwa humor bisa menggaungkan suara sineas kepada penonton dengan konsep yang mudah dipahami, secara menyenangkan, dan menghibur, film ADA MERTUA DI RUMAHKU pun bisa dibuat seperti itu. Bayangkan berapa banyak pasutri-pasutri di Indonesia yang bisa relate dengan apa yang dialami Irfan dan Mala.

Film ini bisa dengan asyik membawa alternatif-alternatif implementasi nilai-nilai kolektivisme yang bisa diterapkan pada keluarga muda saat ini. Dengan misalnya menghadirkan dialog-dialog yang egaliter antara Irfan, Mala, dan Bambang. Irfan tidak perlu jadi 'yes man' atau sosok yang sempurna di mata Bambang. Ada dialog antara Irfan dan Mala yang lebih solutif alih-alih apologetis.

Penggambaran alternatif kolektivisme lainnya juga bisa datang dari pergolakan batin dari Bambang sendiri sebagai sosok ketiga dalam keluarga kecil anaknya tapi di saat yang sama juga sebagai 'keluarga baru' dari orang-orang yang ditolongnya. Rully Manna justru memilih untuk menyimpan itu semua demi plot kejutan dan juga babak pengungkapan menjelang endingnya.

Perspektif tentang beda generasi pun juga bisa disisipkan dalam film ini semisal tentang hobi Bambang bermain catur dari sisi Irfan, ataupun juga tentang pandangan tentang hustle life yang dijalani oleh Irfan dan Mala di mata Bambang yang cenderung life of the fullest. Bahkan dari yang sekedar remeh macam konflik finansial bisa sekali dibahas dalam film ini karena topiknya sangat terkait dengan kondisi beberapa kalangan masyarakat Indonesia, khususnya menengah seperti yang digambarkan dalam film.

ADA MERTUA DI RUMAHKU punya segudang potensi yang bisa dimainkan, terlebih dengan kehadiran Rano Karno yang sedang berupaya lepas dari imej Si Doel. Rano Karno menjadi nyawa dan penggerak dalam film ini. Akan tetapi plot-plot yang dihadirkan serta detail-detail dalam adegannya belum bisa dikatakan memorable. Lebih jauh lagi, potensi besar dari topik kolektivisme dan individualismenya belum dijadikan amunisi dalam menggelitik benak penonton.

Barangkali ada banyak penonton yang baru menikah, khususnya para menantu yang kemudian tidak terjawab rasa penasarannya ketika dalam kehidupan keluarga batih mereka sehari-hari masih harus berkutat menjadi ruang publik yang pelik.

Daftar Pustaka

  1. Dwiastono, R. (29 Juni 2022). Komedi Buat Mengkritik Isu Sosial Sampai Politik, Memang Ada Batasannya?. https://www.voaindonesia.com/a/komedi-buat-mengkritik-isu-sosial-sampai-politik-memang-ada-batasannya-/6636534.html
  2. Geertz, H. (1983). Keluarga Jawa, terj. Hersri. Jakarta: Grafiti Pers.
  3. Liu, L. F. (2009). Family involvement in and satisfaction with long-term care facilities in Taiwan. Asian Journal of Gerontology and Geriatrics, 4(1), 30-35.
  4. Widyartanti, R. K. (2012). Aktualisasi Nilai Hormat Anak Pada Orangtua Dalam Keluarga Jawa (Doctoral dissertation, Universitas Muhammadiyah Surakarta).

(kpl/dka/tdr)

Editor:   Mahardi Eka Putra