MUI Ingatkan Produser Film 'KCB' Hindari Isu SARA

Anton | 01 April 2008, 21:40 WIB
Kapanlagi.com - Majelis Ulama Indonesia (MUI) minta SinemArt Pictures dan tim produksi film layar lebar KETIKA CINTA BERTASBIH agar menghindari isu SARA dalam membuat film tersebut.

"Kami menyambut baik rencana pembuatan film ini. Kami hanya berharap film tersebut dihindari dari hal-hal yang dapat menimbulkan gesekan dengan golongan, bangsa, apalagi umat agama lain," kata Ketua Umum MUI, Umar Shihab, ketika bertemu dengan tim produksi film tersebut, di antaranya produser Heru Hendriyanto dan sutradara Chaerul Umam, di kantor Pusat MUI, Masjid Istiqlal, Jakarta, Selasa (1/4).

Menurut Umar, film Islami sangat baik bila dapat memberikan pencerahan bagi kehidupan bangsa, secara khusus umat Islam. Ia mengatakan, MUI selama ini memang menerima baik kunjungan para pembuat film yang bermaksud untuk berkonsultasi, khususnya terkait materi tontonan yang Islami.

"Pertemuan konsultasi ini sudah sering, bukan hanya film tetapi juga sinetron televisi," katanya.

Sementara itu, Heru Hendriyanto mengatakan, pihaknya memang berencana menemui semua organisasi Islam untuk meminta masukkan sebanyak-banyaknya.

"Sedapatnya, kami ingin mengunjungi semua organisasi terkait," katanya, serta menyatakan pihaknya sudah bertemu dengan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsudin, dan mendapatkan dukungan penuh.

Belajar dari AAC

Pertemuan antara SinemArt Pictures dan MUI berlangsung hampir dua jam, mulai pukul 11.20 WIB. Selain Umar Sihab, MUI diwakili pula oleh sejumlah anggota pengurusnya.

Menanggapi rencana pembuatan film KETIKA CINTA BERTASBIH yang diangkat dari novel karya Habiburrahman El Shirazy (Kang Abib), Sekretaris MUI, Anwar Abbas, meminta agar tim produksi belajar dari AYAT-AYAT CINTA yang juga diangkat dari novel berjudul sama karya Kang Abib.

"Dalam AYAT-AYAT CINTA ada adegan ber-syahadat yang tidak diperlihatkan. Itu bagus, supaya tidak menyinggung umat lain," katanya. Sebaliknya, ia menyayangkan penggambaran tokoh suami yang berkebangsaan Mesir, yang diperlihatkan kejam dalam film tersebut.

"Kalau anak gadis saya mau nikah sama orang Mesir, pasti saya tolak," katanya berkelakar, kemudian menjelaskan bahwa maksudnya adalah agar film KETIKA CINTA BERTASBIH jangan sampai menimbulkan isu yang bisa menyinggung bangsa lain.

Menanggapi permintaan itu, sutradara Chaerul Umam, menyatakan, dirinya pasti berkonsultasi dengan si penulis novel jika sudah menyangkut hal-hal yang sensitif sifatnya.

"Soalnya, Kang Abib juga mengeluhkan film AYAT-AYAT CINTA, yang katanya dibuat berbeda dari cerita dalam novelnya. Ini kan menyangkut hak si penulis," katanya.

Sementara Yunahar Ilyas, salah seorang ketua, menyatakan harapannya agar film-film dakwah Islami bisa terus dibuat. "Setelah AYAT-AYAT CINTA, sekarang KETIKA CINTA BERTASBIH. Sehabis itu harus sudah dipikirkan film berikutnya, jangan sampai kosong," katanya.

KETIKA CINTA BERTASBIH berkisah tentang pengalaman hidup seorang pemuda muslim yang pandai dan tampan, yang kuliah di Mesir sambil berwirausaha membuat dan menjual bakso dan tempe.

Ia disukai banyak wanita, bahkan putri duta besar Indonesia di Kairo jatuh cinta kepadanya.

"Cinta yang diperlihatkan di sini adalah yang Islami," kata Chaerul Umam, ditimpali secara kelakar oleh Yunahar dengan bertanya, "Bukan pacaran sambil bawa-bawa tasbih kan?" (*/bun)

Editor:  

Anton