Pemutaran KUCUMBU TUBUH INDAHKU Dihentikan oleh FPI, Garin Harap Aksi Pemerintah

Mahardi Eka Putra | Rabu, 13 November 2019 13:37 WIB
Pemutaran KUCUMBU TUBUH INDAHKU Dihentikan oleh FPI, Garin Harap Aksi Pemerintah

Kapanlagi.com - Pemutaran Film KUCUMBU TUBUH INDAHKU di Bandar Lampung, Selasa (12/11) terpaksa dihentikan karena FPI protes Front Pembela Islam (FPI). Dilansir dari Tribunnews, pemutaran film yang berlangsung di lantai dua Dewan Kesenian Lampung (DKL) ini telah berjalan setengah jam hingga kemudian terdengar teriakan dari lantai bawah. Tak lama kemudian, panitia secara mendadak memberikan pengumuman melalui pengeras suara bahwa pemutaran film Kucumbu Tubuh Indahku tidak bisa dilanjutkan.

FPI yang datang ke lokasi Mereka memaksa agar film karya Garin Nugroho tersebut tidak lagi diputar. Sementara di dalam ruangan telah ada 100 orang penonton. Hal ini sangat disayangkan DKL. Hermanasyah selaku pengurusnya mengatakan bahwa sebetulnya FPI tidak harus mengambil sikap frontal, dengan membubarkan film yang tengah diputar.

"FPI jangan langsung mengambil sikap. Dia harus tahu dulu, harus pelajari dulu, kenapa film ini dilarang?" kata Hermansyah. Hermansyah menegaskan, ketika FPI menuduh sebuah film mengandung unsur pornografi atau LGBT dan sebagainya, pihak FPI seharusnya melihat terlebih dahulu filmnya. "DKL ini punya gedung pertunjukan, siapapun bisa pakai."

Diungkap Hermansyah, mereka yang datang menonton saat itu datang dari komunitas penonton film. Mereka menilai bahwa film Garin ini punya keunikan dari sisi cerita maupun pemilihan judulnya. "Kalau melihat dari sisi judul, film Garin ini memang sedikit nyeleneh. Tetapi maksudnya menikmati tubuhku itu adalah menikmati gerakan dia menari. Seluruh gerakan tari saya keluar dari tubuh saya. Bahkan, film ini sampai masuk nominasi Oscar," jelas Hermansyah.

 

 

1 dari 2 halaman

1. Garin Nugroho Harap Pemerintah Turun Tangan

Menanggapi kejadian ini, Garin Nugroho mengharap pemerintah bisa turun tangan. "Radikalisme dan anti kekerasan jalanan. Kalau itu hanya jadi jargon politik yang mau dijual untuk popularitas, tapi sehari-hari tindakan kekerasan itu berjalan, maka radikalisme akan tumbuh," tegas Garin yang dihubungi KapanLagi via telepon, Rabu (13/11).   

Ia menyebut bahwa filmnya sudah lolos sensor, sudah sesuai prosedur hukum. Jadi ketika pemutaran filmnya dihentikan, ia perlu melawan. Tidak sekali ini KUCUMBU TUBUH INDAHKU dihentikan pemutarannya. April lalu, Pemerintah Kota Depok menerbitkan surat keberatan dan meminta penayangan film ini dihentikan di bioskop yang ada di Kota Depok.

Ditambahkan Garin, penghakiman massa skala kecil seperti ini terhadap kesenian atau hal lainnya bisa menyuburkan radikalisme di Indonesia. "Kalau saya yang di Semarang saya lawan. Kalau di Lampung nggak ada saya, saya mau ngapain?

Film itu telah lulus sensor, jadi sebenarnya penutupan itu memalukan pemerintah, karena saya telah melakukan pekerjaan sesuai prosedur hukum kan," tuturnya. Garin mengharap pemerintah bisa lebih tegas menindak kelompok atau individu yang melakukan pelanggaran hukum. 

"Semua organisasi radikal ditutup tapi mereka bebas berkeliaran tidak diberi tindakan hukum, menutup kesenian, menutup yang lain," tambahnya.



 

2 dari 2 halaman

2. KUCUMBU TUBUH INDAHKU Dapat 11 Nominasi

Terkait dengan 11 nominasi yang didapat film ini di Festival Film Indonesia 2019, Garin menilai bahwa film tersebut diapresiasi positif oleh anak-anak muda. Namun, hal tersebut tercoreng oleh aksi yang disebutnya radikalisme ini.

"Walaupun dapat penghargaan dari beberapa negara, ini udah dapat penghargaan banyak kan, termasuk FFI nominasi. Tapi prestasi itu tenggelam nanti kalau pembiaran terhadap radikalisme, penghakiman sehari-hari. Sudah saatnya tidak hanya jargon saja. Tanpa tindakan keras dari penegak hukum maka radikalisme akan langgeng," pungkas Garin.

Dari sebelas kategori FFI 2019 yang didapat KUCUMBU TUBUH INDAHKU, di antaranya adalah Cerita Film Panjang Terbaik, Sutradara Terbaik, Pemeran Utama Pria Terbaik, dan Pemeran Pendukung Pria Terbaik. Sebelumnya film ini telah mendapat penghargaan dengan dipilih oleh Komita Oscar 2020, mendapat penghargaan Bisato D'oro Award Venice Independent Film Critic (Italia, 2018), Best Film pada Festival Des 3 Continents (Perancis, 2018), Cultural Diversity Award under The Patronage of UNESCO pada Asia Pasific Screen Awards (Australia, 2018) ,Film Pilihan Tempo di Festival Film Tempo 2018, dan Sutradara pilihan Tempo Festival Film Tempo 2018.

(kpl/abs/dka)


Reporter:  

Adi Abbas Nugroho

↑