'SANG PENARI' Apresiasi Keberanian Sutradara

Darmadi Sasongko | 30 November 2011, 16:36 WIB
'SANG PENARI' Apresiasi Keberanian Sutradara
Kapanlagi.com - Budayawan Ahmad Tohari memberikan apresiasi kepada Tentara Nasional Indonesia (TNI) atas izin terhadap film Sang Penari yang diangkat dari novelnya yang berjudul Ronggeng Dukuh Paruk.

"Filmnya lumayan bagus, penting bagi generasi muda untuk menonton film ini. Ini promosi ya," kata Ahmad Tohari di sela acara Gendu-Gendu Rasa: Nguri-uri Budaya Banyumasan yang diselenggarakan Pusat Penelitian Budaya Daerah dan Pariwisata Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, di Gedung LPPM Unsoed Purwokerto, Senin (28/11/2011).

Menurutnya, dalam film Sang Penari terdapat adegan dramatisasi politik, berupa adegan penembakan orang-orang yang dianggap terlibat Gerakan 30 September/Partai Komunis Indonesia (G30S/PKI). Padahal, adegan tersebut tidak ada di dalam novel karyanya itu.

"Ini merupakan keberanian dari sutradara untuk menampilkan adegan tersebut. Juga satu hal lagi, kok tentara (TNI) mengizinkan film ini beredar, jadi kemajuan pula yang dilakukan tentara karena membiarkan film ini lolos ke masyarakat," katanya.

Oleh karena itu, dia mengaku berterima kasih dan memberikan apresiasi pada sutradara yang berani mengungkap adegan pembunuhan terhadap orang yang dianggap anggota PKI, serta kepada TNI yang membiarkan film ini lolos.

"Itu merupakan perubahan yang luar biasa. Dan saya membiarkan sutradara untuk menafsirkan novel saya untuk dijadikan film karena yang akan difilmkan adalah tafsir sutradara, bukan teks saya," katanya

Seperti diketahui, film Sang Penari yang tayang perdana di bioskop mulai 10 November 2011 ini diangkat dari novel karya Ahmad Tohari yang berjudul Ronggeng Dukuh Paruk.

Film yang disutradai Ifa Isfansyah ini menggambarkan pertemuan sepasang kekasih bernama Rasus dan Srintil setelah lama berpisah.

Dalam hal ini, Rasus meninggalkan Dukuh Paruk karena menjadi seorang tentara, sedangkan Srintil menjadi seorang penari ronggeng. (antara/dar)

Editor:  

Darmadi Sasongko