Sederet Keunikan Yang Membuat 'WIRO SABLENG' Berbeda Dengan Cerita Silat Lainnya

Sanjaya Ferryanto | Selasa, 28 Agustus 2018 17:52 WIB
Sederet Keunikan Yang Membuat 'WIRO SABLENG' Berbeda Dengan Cerita Silat Lainnya

Kapanlagi.com - Sebentar lagi film 'WIRO SABLENG' akan tayang di bioskop-bioskop tanah air. Film yang dibintangi oleh Vino G. Bastian ini seakan membangkitkan kenangan kita kala Wiro Sableng masih berupa cerita novel.

Cerita karya Bastian Tito ini sempat masuk televisi dan menjadi serial yang paling dinanti. Ada 3 pemeran Wiro Sableng dalam serial televisi, namun sosok Ken Ken yang paling dikenal.

Lantas, seperti apa sih keunikan Wiro Sableng hingga membuatnya berbeda dari cerita-cerita silat lainnya? Yuk simak selengkapnya di sini.

1 dari 5 halaman

1. Karya Lokal Bastian Tito

Karya Lokal Bastian Tito Wiro Sableng © Lifelike Pictures
Media 60 sampai 90-an, penikmat novel fiksi tanah air sedang tergila-gila dengan cerita-cerita berbau silat. Mulai dari cersil dari Kho Ping Hoo, Tujuh Manusia Harimau, Si Buta Dari Gua Hantu, Pangeran Jayakusuma hingga Satria Cimanuk.

Namun rupanya cersil Wiro Sableng-lah yang melekat di hati pembaca. Salah satu alasan cersil ini laris manis adalah karena penggarapannya yang tidak asal-asalan.

Bahkan demi cersilnya dekat dengan budaya tanah air, Bastian sampai melakukan riset dengan mengunjungi berbagai daerah. mendokumentasikan cerita mengenai kondisi alam, adat-istiadat, legenda, maupun mitos setempat untuk dimasukkan ke dalam novelnya.

2 dari 5 halaman

2. Senjatanya Nggak Hanya Kapak

Senjatanya Nggak Hanya Kapak
Nah, yang ini mungkin nggak kamu tahu. Yang berbeda dari pahlawan-pahlawan di cersil lainnya, senjata yang digunakan oleh Wiro nyatanya nggak hanya Kapak Naga Geni 212 aja loh.

Dirinya juga memiliki senjata seperti shuriken ala-ala ninja Jepang. Shuriken tersebut biasa digunakan olehnya untuk melumpuhkan musuh dari jarak jauh.

Selain Shuriken, Wiro juga memiliki batu hitam yang sangat sakti. batu yang berukirkan simbol 212 ini dapat menyemburkan api besar jika digunakan dengan Kapak Naga Geni, membuatnya sebagai senjata pamungkas yang hanya digunakan di saat akhir.

3 dari 5 halaman

3. Keunikan Kapak Naga Geni 212

Keunikan Kapak Naga Geni 212 Wiro Sableng © Lifelike Pictures
Kapak Naga Geni 212 rupanya bukanlah kapak biasa. Di dalam kapak tersebut terdapat 2 senjata rahasia yang bisa digunakan Wiro untuk melumpuhkan musuh-musuh besarnya.

Yang pertama adalah jarum beracun yang tersembunyi dalam gagang kapak. jarum tersebut bisa digunakan untuk menusuk secepat kilat tanpa musuh mengetahuinya.

Selain menyembunyikan jarum beracun, rupanya gagang kapak tersebut juga berfungsi sebagai seruling, yang mengeluarkan frekuensi suara yang dahsyat dan mematikan. Kamu tak akan mau dekat-dekat saat suling ini dimainkan.

4 dari 5 halaman

4. Makna Simbol 212

Makna Simbol 212 Wiro Sableng © Lifelike Pictures
Wiro Sableng cukup unik karena memiliki simbol 212 di dadanya, sesuatu yang tak dimiliki oleh karakter-karakter dalam cersil saat itu. Lantas, apa sih makna angka 212 tersebut?

Rupanya angka 212 memiliki makna filosofis tersendiri. Angka 212 berarti dua unsur dalam kehidupan yang selalu berlawanan namun tak bisa dipisahkan dan bersumber kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Adalah sang guru, Sinto Gendeng yang menorehkan angka tersebut di dadanya, supaya dekat dengan hati dan mengingatkan Wiro untuk selalu berbuat baik.

5 dari 5 halaman

5. Filmnya Menjadi Proyek Ambisius

Filmnya Menjadi Proyek Ambisius Wiro Sableng © Lifelike Pictures
Ya, WIRO SABLENG memang digadang-gadang menjadi proyek paling ambisius pada tahun ini. Nggak main-main, mereka bahkan sampai menggandeng 20th Century Fox untuk memproduksi dan memasarkan film ini.

Selain itu, beberapa nama yang sudah tak asing lagi pun juga berseliweran dalam film ini. Sebut saja Marsha Timothy, Lukman Sardi, Marcella Zalianty, Dwi Sasono bahkan Yayan Ruhian.

Tak hanya itu, film ini juga mengajak serta musisi untuk menjadi aktor di dalamnya. Sebut saja Sherina, Marcell dan Restu Triandy atau Andy /rif yang ikut hadir di film ini.

(kpl/frs)


Editor:  

Sanjaya Ferryanto

↑