Sultan HB X Ajukan Alternatif Sensor Film

Yunita Rachmawati | 01 April 2008, 08:12 WIB
Kapanlagi.com - Menanggapi kontroversi penting atau tidaknya Lembaga Sensor Film (LSF) di Indonesia, Sri Sultan Hamengku Buwono X mengatakan bahwa keluarga atau orang tua bisa menjadi alternatif sensor yang punya peran signifikan untuk mendidik anak memilih film sesuai usia mereka.

Hal tersebut diungkapkan Sri Sultan saat menjadi pembicara kunci pada diskusi film dalam rangka Hari Film Nasional bertema 'Film Indonesia dan Jati Diri Bangsa' di Jakarta, Senin (31/3).

Dalam makalahnya berjudul 'Menggagas Alternatif Sensor Berbasis Budaya untuk Melindungi Hak anak Indonesia', Sri Sultan mengungkapkan dalam pelaksanaannya, sensor mengandung banyak masalah sehingga alternatif sensor perlu dicarikan jalan yang tepat untuk bisa diterapkan.

Diskusi tentang film dan sensor film tersebut menghadirkan Sri Sultan sebagai pemerhati budaya dan beberapa pembicara lain yakni Ketua Lembaga Sensor Film, Titi Said, perwakilan dari Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Zumrotin, rohaniawan Romo Beny Susetyo, serta para sineas Indonesia yakni Deddy Mizwar, Mira Lesmana, Tito Amanda, dan Garin Nugroho.

Diskusi yang dihadiri kalangan pecinta film Indonesia dan para artis ini membahas tentang relevansi LSF di Indonesia dan sikap Masyarakat Film Indonesia (MFI) yang menilai LSF hanya sebatas 'menggunting' film dan membuang bagian film yang dianggap tidak patut ditonton.

"Orang tua bertanggung jawab mendampingi anak-anak dalam menciptakan kebersamaan dan menanamkan nilai-nilai multikultural, sehingga anak mampu mengapresiasi film sebagai media hiburan sekaligus media pendidikan dalam kehidupan," ujarnya.

Ia mengungkapkan jika pendidikan di keluarga baik, maka dapat diharapkan ketahanan anak terhadap pengaruh negatif dari luar akan lebih kuat. "Saya menyadari tidak semua keluarga memiliki kepedulian tersebut. Maka bisa dimaklumi jika menggagas alternatif sensor berbasis budaya yang dimulai dari keluarga bukan kerja sesaat," tambahnya.

Sementara itu, sineas Mira Lesmana mengungkapkan peran LSF di Indonesia kini sudah tidak relevan lagi. Ia mengusulkan lembaga yang mengklasifikasikan film berdasarkan usia daripada harus melakukan sensor yang lebih bermakna pemotongan secara paksa.

"Menurut saya lembaga klasifikasi ini penting untuk melindungi anak-anak dari informasi yang tidak sesuai (untuk usia mereka) dan menghormati hak-hak orang dewasa yang boleh menonton tayangan untuk dewasa," ujarnya.

Setelah sensor dihapuskan, lanjutnya, maka peran orang tua sangat penting untuk mendidik anak-anak mendapatkan tontonan yang sesuai dengan usia anak. (*/boo)

Editor:  

Yunita Rachmawati