[Catatan Editorial] Ke Hong Kong Demi Mengira-Ngira Besar Otot Lengan John Cena

Mahardi Eka | 07 Januari 2019, 17:11 WIB
[Catatan Editorial] Ke Hong Kong Demi Mengira-Ngira Besar Otot Lengan John Cena

Kapanlagi.com - Hai KLovers, siapa nih yang sudah menonton BUMBLEBEE? Bagaimana menurut kalian? Kalau dari tim redaksi KapanLagi.com nih sudah pasti kepincut dengan sosok Autobots kuning yang dibikin makin unyu menggemaskan tanpa meninggalkan kesan kuat dan juga mutakhirnya.

Pertengahan Desember lalu, KapanLagi diundang Paramount Pictures via Omega Film ke Hong Kong untuk 'mengobrol' bersama cast, sutradara, dan juga produser filmnya. Dari jajaran cast ada si cantik Hailee Steinfeld dan John Cena. Sementara dari jajaran produser, om Lorenzo di Bonaventura yang bakal hadir. Kesempatan banget nih bisa tanya-tanya ke mereka, sekalian menikmati Hong Kong yang lagi sejuk-sejuknya menjelang musim dingin.

Kami berangkat ke Hong Kong dari Terminal 2 Bandara Soekarno Hatta, Rabu (12/12) pagi sekitar pukul 10. Sementara kami sudah bertemu di bandara tepat jam 7 pagi. Saya sempat khawatir bila terjadi delay karena cuaca yang kurang mendukung. 

Sedari pagi, langit terlihat abu-abu karena mendung. Sambil menunggu, saya sarapan dulu dan melihat-lihat di IG KapanLagicom, kira-kira apa yang bikin penasaran dari film BUMBLEBEE ini. Satu tangan pegang smartphone, tangan yang lain pegang ayam goreng. Jangan ditiru ya KLovers. Penerbangan dari Jakarta ke Hong Kong bakal memakan waktu kurang lebih empat jam. Jadi bisa dipastikan kami akan tiba di Hong Kong jam empat sore waktu setempat.

Landing di Hong Kong. Cuaca masih mendung dan suhu udara sekitar 12 derajat Celcius.Landing di Hong Kong. Cuaca masih mendung dan suhu udara sekitar 12 derajat Celcius.

Sesampainya di sana, cuacanya tidak jauh berbeda dengan Jakarta. Kami pun bergegas untuk segera ke loket imigrasi dan mengambil bagasi. Sedikit was-was juga nih KLovers, karena kami hanya punya waktu sekitar 40 menit untuk menuju Ritz Carlton, di daerah Kowloon sebelum press screening dimulai tepat jam 5.

Singkat cerita kami naik kereta dari bandara ke stasiun Kowloon dan tiba di hotel 20 menit sebelum press screening. Setelah check in, saya langsung menuju kamar, cuci muka, dan ganti baju. Tak lupa saya menghubungi dulu Lo Dawn dari United Internatinal Pictures Hong Kong untuk mengabarkan bahwa kami baru saja tiba dan butuh waktu sedikit untuk bisa sekadar cuci muka.

Dari pengalaman beberapa kali meliput di acara press junket seperti ini, tidak ada yang namanya jam karet karena padatnya acara. Tepat pukul lima saya dan awak media dari negara-negara Asia sudah berkumpul di lobi hotel untuk berjalan bersama ke Grand Cinema. Sekadar info saja, dari hotel ke bioskop butuh waktu sekitar sepuluh menit berjalan kaki.

Lalu seperti apa filmnya? Kalian harus menontonnya sendiri dong. Yang pasti, film berdurasi 1 jam 54 menit ini menawarkan penyegaran dari kelima film TRANSFORMERS yang pernah dirilis. Saat berbincang dengan rekan jurnalis, kami sepakat bahwa memang film ini lebih heart-warming dan menyajikan drama, aksi, dan petualangan dalam porsi yang pas. Saya pun kembali ke hotel untuk beristirahat (dan mandi tentunya).

Rangkaian acara untuk Kamis (13/12) meliputi sesi wawancara dan konferensi pers bersama media Asia. Sayangnya, kali ini tidak ada red carpet karena satu dan lain hal. Padahal nih, sudah berharap bisa 'say hai' dan berfoto bersama dengan Hailee. Atau at least bisa sedekat ini dengan selebriti.

tunggu ceritanya di artikel terpisah ya, mimin bakal bawa Om Tom sedekat ini dengan kalian!tunggu ceritanya di artikel terpisah ya, mimin bakal bawa Om Tom sedekat ini dengan kalian!

Kali ini, KapanLagi mendapat kesempatan untuk bisa wawancara Hailee, John, Travis, dan om Lorenzo masing-masing lima menit saja. Waktu yang memang singkat, tapi mengingat bisa mengobrol bersama mereka langsung, tentu ini jadi momen berharga. Setelah kami berkumpul di ruang media, saya menunggu giliran dengan bercengkrama bersama awak media dari Malaysia dan Filipina. Demi wawancara ini, ada salah satu host TV Korea Selatan yang mengenakan bando lebah sebagai bentuk totalitasnya.

Tak hanya media, ada juga selebriti, youtuber, dan juga influencer yang lalu lalang di lantai 112. Tampaknya satu lantai digunakan untuk keperluan press junket BUMBLEBEE. Bercengkrama dengan mereka sedikit banyak mengurangi rasa gugup sebelum wawancara. Salah satu awak media dari Malaysia bahkan bercerita panjang lebar bahwa ia adalah penggemar Tulus. Senang mendengarnya.

Pada giliran pertama, saya mendapat kesempatan untuk mewawancarai Hailee Steinfeld. Ia adalah magnet dari film ini. Selain memang ia tenar sebagai selebriti, perannya dalam BUMBLEBEE mencatatkan sejarah baru dalam franchise TRANSFORMERS. Ia adalah heroine pertama yang menggantikan Shia Labeouf dan Mark Whalberg di lima film sebelumnya.

Seperti yang sudah saya duga, Hailee sangat ramah dan bersemangat ketika diwawancara. Ia tampil semi casual dalam coat. Rambutnya diurai belah tengah dan tidak terkesan ribet. Satu hal yang ingin saya tanyakan, dan juga ingin ditanyakan followers KapanLagi.com, adalah bagaimana kesannya menjadi heroine dalam film aksi sekelas Transformers.

"Aku jadi ingat, aku sangat senang ketika selesai membaca skenarionya. Bahwa tokohnya adalah seorang perempuan muda, gadis biasa yang punya mimpi dan tidak pernah berhenti untuk mewujudkannya. Dia sangat bersemangat, pandai, dan perhatian pada hal-hal yang disukainya. Dia hebat dan pantang menyerah sampai ia mendapat apa yang diinginkannya," ujarnya. Tampaknya peran yang didapat sangat lekat dengan kesehariannya sebagai perempuan muda yang merasakan hasil jerih payah di dunia hiburan internasional.

Tak hanya dari pendalaman karakter, Hailee juga bercerita betapa sulit memerankan tokoh Charlie di BUMBLEBEE ini. Bagaimana tidak, dalam beberapa scene di filmnya ia harus berakting sambil mengemudi mobil.

"Awalnya aku meremehkannya nih. Aku memang bisa mengemudi, sudah punya SIM, dan sering berkendara sendiri belakangan ini. Jadinya aku merasa akting sambil mengemudi bakal tidak sulit. Bukan hal baru yang harus kupelajari dari awal. Pokoknya dari awal aku merasa bahwa hal tersebut bakal mudah. Tapi itu sirna ketika aku harus mengemudi dan mengingat dialognya dan berusaha tidak menabrak orang-orang yang ada di situ," ceritanya sambil sedikit tertawa.

 

Hailee sangat bersemangat saat menjalani sesi wawancara. Hailee sangat bersemangat saat menjalani sesi wawancara.

Pada giliran kedua, saya bakal mengobrol bersama Travis Knight, sang sutradara. Saat berada di ruang tunggu, salah satu panitia menanyakan berapa pertanyaan yang sudah saya siapkan. Saya jawab sekitar sepuluh mengingat waktu yang singkat. Akan tetapi ia meminta saya untuk menyortir kembali pertanyaan saya. "Travis orangnya sangat suka diajak diskusi. Jadi jawabannya cenderung panjang-panjang," ujar panitia tersebut.

Dengan info yang demikian saya pun memilih langsung bertanya tentang pendekatannya sebagai animator dalam penyutradaraan. Khususnya pilihannya dalam membuat Bumblebee terlihat makin menggemaskan dalam film. Kalau KLovers sudah menontonnya, kalian tahu apa yang saya maksud.

"Beberapa kali aku harus memperhatikan seperti apa ia harus terlihat ketika sedih, atau bagaimana bisa menangkap emosi yang sedang dirasakan saat itu. Aku berusaha menemukan gestur dan juga ekspresi yang pas. Semua demi membuat Bumblebee terasa hidup dan nyata," tuturnya.

Bagi Travis yang adalah seorang animator, salah satu misi utamanya dalam menggarap film adalah menghadirkan sosok tak hidup menjadi hidup. Dalam hal ini ia memberi nyawa pada Bumblebee yang adalah robot. Benar saja yang disampaikan oleh panitia tadi, Travis senang menjawab pertanyaan dalam kalimat panjang. Ia yang tampil casual dengan T-shirt hitam menjawab sekitar 5 pertanyaan saja dari saya.

Travis Knight tampil sangat casual. Ia pun bercerita panjang lebar seputar proses kreatif di balik pembuatan filmnya.Travis Knight tampil sangat casual. Ia pun bercerita panjang lebar seputar proses kreatif di balik pembuatan filmnya.

Sekitar pukul 12 siang, perut saya sudah mulai perih. Awalnya saya kira karena saya belum makan siang. Tapi mungkin lebih banyak psikomatis dadakan karena sosok yang saya wawancara terakhir ini. Ya, John Cena lah yang membuat saya paling deg-degan. Sebagai penggemar tayangan gulat di televisi mulai era The Rock, sosok John Cena adalah salah satu sosok yang pasti kalian kenal.

Sebelum saya masuk ruangan, saya perhatikan lantai 12 Ritz Carlton sudah mulai sepi dari awak media. Itu makin bikin saya deg-degan lagi. Sedikit saya mencuri dengar percakapan dari beberapa awak media, mereka kaget dengan betapa besar John Cena ketika ditemui secara langsung. Ya iyalah batin saya. Dia kan pegulat profesional sebelumnya. Beberapa filmnya pun didominasi film aksi yang mengharuskannya punya badan yang fit dan kekar. Tapi entah mengapa percakapan tersebut membuat saya tiba-tiba penasaran, seberapa besar ya lingkar lengan atas John Cena? Hehehe.

 

Ketika saya masuk ruangan, John menyapa dengan lembut. Catat ya. Tidak semenakutkan ya saya kira. Ia tampil dandy dalam kemeja lengan panjang, vest, dan juga dasi. Busana yang pernah digunakan di Comic Con atau wawancara sebelumnya (iya, saya kepoin dulu lah video-video dia untuk persiapan wawancara). Setelan tersebut memang menutup imejnya sebagai pegulat, tapi tidak menutup fakta bahwa lengannya memang besar.

Pertanyaan pertama saya tentu seputar perannya dalam film ini. Sebagai Agent Burns ia ditampilkan sebagai sosok otoritas yang tak hanya kuat, garang, tapi juga sedikit lucu. Ya, kalau kalau sudah menonton filmnya, pasti tahu bahwa John hadir dengan kelucuannya baik dari dialog atau mimik mukanya.

Nah, dengan peran yang berbeda ini, seperti apa dia mendalaminya. Ia pun menjawab bahwa itu sebagian besar bukan karenanya dirinya. Hmmm, sosok yang rendah hati, dalam benak saya.

Entah mengapa bayangan dirinya sebagai pegulat pro tidak bisa hilang hehe.Entah mengapa bayangan dirinya sebagai pegulat pro tidak bisa hilang hehe.

"Itu berkat sutradara kami, Travis Knight. Agen Burns awalnya ditulis sebagai tokoh yang tak banyak bercanda. Dan Travis dalam proses penggarapan filmnya, memutuskan untuk mengubahnya sedikit. Dan aku sangat bersyukur karenanya. Sangat mengasyikkan saat bisa memerankan tokoh yang berbeda. Seperti yang kamu bilang, banyak penggemar di Indonesia melihatku sebagai tokoh pahlawan," ujarnya. Diungkapkannya, ia sangat senang bisa menjajal peran yang tidak itu-itu saja.

Bagi John, peran di BUMBLEBEE ini menjadi milestone berarti bagi karirnya. Ia ingin agar ke depannya ia bisa bergabung dalam proyek film bagus seperti ini. "Dari film ini aku bisa menunjukkan apa yang aku bisa, aku sangat bersyukur karenanya. Aku tidak tahu apa yang bakal terjadi nanti, atau apa yang dipikirkan oleh para sineas tentang film ini," harapnya. Kami pun menutup wawancara. Saya memintanya untuk memberi salam kepada penonton di Indonesia.

Untuk menikmati wawancara John Cena selengkapnya, KLovers bisa menonton dalam video ini.

Lega rasanya bisa menyelesaikan sesi 'mengobrol' dengan mereka semua. Meski setelah mewawancara John Cena, saya harus menghadiri konferensi pers, tapi beban sudah terangkat semuanya. Setiap wawancara menghadirkan suasana yang berbeda dan juga dialog-dialog yang bisa jadi tidak kita sangka. Seperti ternyata Lorenzo yang jatuh cinta dengan alam Indonesia tadi.

Segera saya menuju ruang audio visual untuk mengecek hasil wawancara saya tadi untuk dibawa ke Indonesia dan diolah bersama tim. Sesi yang satu ini sangat penting nih. Jangan sampai karena lupa cek, ternyata rekaman yang kita bawa rusak dan tidak bisa diolah. Bisa runyam karena wawancara kita tidak akan bisa diulang apalagi ketika saya sudah balik ke Indonesia.

Sorenya, saya menghadiri konferensi pers mini bersama media cetak dari Asia. Sayang, kami tidak diperkenankan memotret di sana. Hanya boleh mengambil rekaman suara konferensi persnya. Selepas itu, saya langsung kembali ke kamar. Beristirahat sejenak, mempersiapkan diri untuk pulang kembali ke Indonesia besoknya.

Thank you KapanLagi.com, Omega Films, dan Paramount Pictures atas kesempatan ini. Semoga ke depannya bisa mendapat kesempatan yang serupa di film-film seru lainnya. Simak hasil wawancara selengkapnya di situs kami ya. See you KLovers.

  

Semoga di lain kesempatan, KapanLagi bisa mengobrol lagi dengan sineas mancanegara seperti ini. Semoga di lain kesempatan, KapanLagi bisa mengobrol lagi dengan sineas mancanegara seperti ini.

(kpl/dka)

Editor:  

Mahardi Eka

Join Kapanlagi.com
↑