MovieTalk with Brad Pitt dan Cast 'BULLET TRAIN', Para Assassin Bernama Imut Berjibaku dengan Maut

Mahardi Eka Putra | 14 Agustus 2022, 22:31 WIB
MovieTalk with Brad Pitt dan Cast 'BULLET TRAIN', Para Assassin Bernama Imut Berjibaku dengan Maut

Kapanlagi.com - BULLET TRAIN mengisahkan Ladybug / Kepik (diperankan Brad Pitt) yang akan menjalani misi mengambil koper di dalam kereta cepat yang melaju dari Tokyo ke Kyoto. Namun, Ladybug dikenal karena kesialannya, hampir di setiap misinya ada orang meninggal karena dia.

Nampaknya kesialannya terus berlanjut, dalam misi terbarunya menaiki kereta cepat ia malah bertemu dengan banyak pembunuh bayaran lainnya. Lebih sial lagi, para pembunuh tersebut ternyata punya misi yang sama dengan dirinya.
BULLET TRAIN tayang di bioskop 10 Agustus 2022. Film ini akan menyajikan cerita menegangkan dalam rangkaian aksi dan balutan komedi. Semuanya dikemas oleh David Leitch yang sudah tenar lewat film DEADPOOL 2.

Beberapa waktu lalu KapanLagi berkesempatan untuk mewawancarai Brad Pitt, Bryan Tyree Henry, dan Aaron Taylor Johnson. Kami menyanakan beberapa detail unik dalam film terbaru mereka ini, mulai dari nama-nama unik para tokohnya sampai seperti apa serunya syuting di ruang sempit karena mereka harus syuting di set interior kereta api di hampir sepanjang film. 

Q: Congrats for your movie. Yang pertama menarik perhatian nih, nama kalian imut-imut lho. Padahal pembunuh bayaran. Apakah kalian tergelitik pada awalnya? Terus gimana memahami karakter ini?”

Brad Pitt: Perkenalkan kami Ladybug (Kepik), Tangerine (Jeruk Siam, diperankan oleh Aaron Taylor Johnson), dan Lemon (Brian Tyree Henry) buat kalian semua.

Brian: Siapa yang mau jawab dulu?

Aaron: Aku masih mikir nih. Kami semacam… apa kegunaan nama-nama itu.

Brian: Aku langsung memikirkan setiap metafora yang ada tentang Lemon. Dan hal pertama yang terbesit adalah bahwa kehidupan menghadirkan Lemon, maka kita bisa membuat limun segar darinya.

Aaron: Kamu orangnya optimistis yaa

Brian Tyree Henry dan Aaron Taylor Johson jadi assassin kembar, Lemon dan Tangerine. (Sony Pictures)Brian Tyree Henry dan Aaron Taylor Johson jadi assassin kembar, Lemon dan Tangerine. (Sony Pictures)

Brian: Aku hanya berupaya membuat Lemon terlihat bersinar. Terlihat semanis mungkin tapi juga sangat mematikan dan berbahaya.

Aaron: Kalau aku mungkin mengubah penampilanku dengan fake tan. Berupaya memunculkan aura ke-jeruk-anku (TAN-ngerine).

Brad: Kalau aku sih berupaya lebih mirip nyonya-nyonya (Ladylike). Pastinya nggak makin mirip serangga (buglike). Kurasa ini permainan kata yang cerdas. Memilih nama-nama alias untuk para pembunuh bayaran ini. Bukan nama seperti Thunderballs. Cobra.

Brian: Ya Tuhan (sambil tertawa)

Q: BULLET TRAIN memadukan kisah pembunuh bayaran dalam balutan komedi. Apa yang menjadikan film ini kemudian menampilkan hal baru dari banyak film pembunuh bayaran lainnya?

Aaron: Film ini sangat asyik. Para pembunuh bayaran ini, mereka bombastis dalam dunia (profesi) mereka. Sebuah dunia yang sangat tidak biasa. Mereka juga suka bermain-main. Jadi kami merasa telah membuat pilihan yang berani dengan peran ini. Duo Lemon dan Tangerine. Nanti ada Joey King sebagai Prince. Ada juga Ladybug yang kebingungan. Seringnya menghindar. Namun, akhirnya juga harus terlibat. Mereka ini karakter-karakter keren yang berkonflik, masing-masing mengejar agenda yang sama.

Brian: Ada sisi manusiawinya juga lho. Yang mana itu mungkin jarang dimunculkan di film-film pembunuh bayaran. Biasanya ya kita disuguhi tokoh-tokoh 'seram' yang saling membunuh satu dengan lainnya. Satu menyusul lainnya. Namun, di film ini kamu akan larut dalam kisah mereka. Kamu bakal merasa dekat dengan mereka. Kamu akan menebak-nebak siapa yang bakal selamat. Atau kamu akan penasaran bagaimana mereka bisa keluar hidup-hidup bersama. Salah satu aspek yang menyentuhku adalah ketika aku jadi peduli dengan nasib para pembunuh bayaran ini. Meski aku tahu harusnya aku tidak seperti itu. Aku rasa ini sisi manusiawi dari mereka. JANGAN SALAH YA. Tetap saja akan berdarah-darah karena mereka akan berusaha membunuh satu dengan lainnya. Mereka sosiopat, tapi sosiopat juga butuh cinta kan ya. Aku rasa itu yang akan kamu lihat dalam film ini.

Brad: Aku kurang empati jadi aku pas jadi pembunuh bayaran.

Brian: HAHAHA

Brad: Aku nggak peduli dengan mereka semua. Namun benar adanya kami menyampaikannya kisahnya dalam balutan komedi. Semua tersampaikan lewat guyonan-guyonan, ada yang tersirat dari guyonan-guyonan itu. Kurasa itu membuat pesan filmnya jadi lebih tersampaikan.

Q: Syutingnya full dalam interior kereta. Hal baru apa yang baru kalian dapatkan ketika jalani syuting full dengan interior di dalam kereta?

Brian: Aku beritahu ya, bakal ada ular dalam kereta nantinya. Dan ularnya sungguhan jadi mau gak mau jadi was-was nih. Kamu berada dalam kereta dan ada ular di situ. Yang keren adalah, orang jadi tidak sadar, well di situ letak keberhasilannya, kita seakan berada di kereta melaju di Jepang tapi sebenarnya berada di Los Angeles. Akan ada tembok yang roboh, ada kaca yang harus digerakkan ke arah tertentu, ada meja digerakkan ke arah tertentu, bahkan pegangan kursi pun demikian. Para pemain harus paham dengan hal-hal ini. Itu membuat film ini terasa nyata dan pengalaman menyenangkan. Aku kagum bagaimana para kru bisa membuatnya terasa realistis, ketika kami berakting saling tampar satu dengan lainnya.

Brad: Kita benar-benar saling tampar. Apalagi saat itu sedang lockdown, jadi itu jadi tantangan tersendiri. Kami tidak bisa syuting di Jepang. Kami tidak bisa syuting di dalam kereta sungguhan. Ketika kami bisa memanfaatkan teknologi untuk mewujudkannya, ini sangat mengagumkan. Puas pokoknya.

Pertarungan Ladybug dan The Wolf di dalam kereta.  Pertarungan Ladybug dan The Wolf di dalam kereta.

Q: Terakhir, yang paling dikenang dari syuting BULLET TRAIN apa nih?

Aaron: Ada banyak sekali momen-momen menyenangkan ngantri di benakku.
Brian: Sangat menyenangkan bekerja bareng mereka. Sungguh-sungguh menyenangkan. Ada cerita yang mau kalian bagi?
Brad: Anekdot… anekdot
Brian: Sangat banyak. Ada satu ketika kita beradegan bersama, yang harus membunuh 16 orang, ada juga adegan pasar ikan. Itu sangat lucu. Ada adegan tembak menembak yang heboh. Brad mendorong wajahku ke jendela. Berkali kali kali. Itu sangat seru, aku suka. Aku suka. Aku juga sering iseng menempelkan darah (properti) ke mulut Andrew Koji ketika break syuting sampai benar-benar terlihat meyakinkan. Kami sangat perhatian sampai seperti itu. Butuh sekampung untuk membuat satu aktor di sini terlihat berdarah-darah.

Saksikan aksi ketiganya dalam BULLET TRAIN yang sudah tayang di bioskop per 10 Agustus ini. 

(kpl/dka)

Editor:   Mahardi Eka Putra