[Review] 'STREET DANCE 2', Ketika Salsa dan Tarian Jalanan Bertemu

Adi Abbas Nugroho | 31 Juli 2012, 09:00 WIB
[Review] 'STREET DANCE 2', Ketika Salsa dan Tarian Jalanan Bertemu

Kapanlagi.com - Oleh: Adi Abbas Nugroho

Tak beranjak dari film pertama yang menekankan polemik antar dua warna tari, muncullah STREET DANCE 2. Walau hasil dari film yang rilis tahun 2010 itu bisa dibilang tidaklah memuaskan, namun Vertigo Films bersama BBC dengan sangat percaya diri menghadirkan sekuelnya selang 2 tahun kemudian.

Meski memiliki embel-embel angka 2 di belakang judul, film arahan Max Giwa dan Dania Pasquini ini tak ada kaitan dengan predesornya. Jika memang mau memaksa, mungkin karakter Eddie yang diperankan oleh pemenang Britain's Got Talent, George Sampsons, bisa digunakan sebagai benang penyambung dua film tersebut.

STREET DANCE 2 berkonsentrasi pada usaha pop corn man, Ash (Falk Hentschel), untuk membuktikan bahwa dirinya bisa lebih baik dari The Invincibles, kru penari jalanan yang pernah menyepelekannya.

Dengan bantuan Eddie, Ash mengumpulkan kru yang terdiri dari beberapa anggota lintas negara dan kultur. Dalam perjalanan tersebut, Ash dibuat terpukau oleh seorang penari Salsa bernama Eva (Sofia Boutella) yang kemudian diajaknya untuk bergabung dalam kru meski harus penuhi berbagai syarat.

Namun mendekati hari kompetisi freestyle dance tingkat Eropa, harus ada ego yang bermain. Mampukah Ash melawan The Invincibles sekaligus Menunjukkan bahwa dia bukan pecundang?

Klise. Ya, formula yang digunakan memang sangat klise. Jika pada film pertama menggunakan balet dan street dance, kali ini mengusung salsa sebagai tarian yang harus dicampur menjadi satu agar tampak padu.

Sayangnya seperti pada film-film serupa, hampir tak ada hal baru yang ditawarkan film ini. Parahnya lagi STREET DANCE 2 menampilkan beberapa hal yang cukup mengganggu.

Mengganggu pertama ada pada dialog. Di awal film Ash berkata pada Eddie jika kompetisi akan berlangsung 6 minggu lagi. Anehnya, setelah kumpulkan pemain lintas negara, Ash masih mengatakan 6 minggu lagi kompetisi akan dimulai. Baiklah.

Hal yang cukup mengganggu kedua adalah kurang tergalinya banyak karakter bentrok kultur. Mereka dibuat hanya sebagai pajangan supaya Ash bisa bersaing dalam kompetisi. Fakta perbedaan karakter ini bisa menjadi drama yang cukup menarik sebagai bumbu penyedap.

Maka tak heran jika film yang naskahnya ditulis oleh Jane English tersebut hanya berkonsentrasi pada dua lini: kisah pergumulan Ash dan pertunjukan tari itu sendiri dengan akting ensemble cast yang sangat biasa saja.

Mengganggu ketiga adalah salah saji tarian. Blunder salsa versus street dance yang tersebar sepanjang durasi terasa lebih ciamik dibanding dance final yang anti klimaks. Sungguh, sangat mengecewakan jika koreografer yang digunakan untuk ending tidak seheboh tarian sebelumnya. Setidaknya, susah dilupakan seperti STEP UP 2: THE STREETS.

Untungnya masih ada deretan soundtrack yang bisa dinikmati dari film ini dan mungkin bisa dikoleksi nanti. Seperti Bodyrox featuring Chip dan Luciana dengan Bow Wow Wow, Sunday Girl dengan High & Low, Skepta dengan Hold On, Morning Runner dengan Burning Benches, Taio Cruz dengan Troublemaker, Chase & Status featuring Claire Maguire dengan Midnight Caller hingga Queen dengan We Will Rock You.

Ya, sebagai sebuah hiburan, lupakan hal-hal cheesy di atas. Nikmati tarian-tarian yang ada dan tentu saja, barisan soundtrack yang lebih bercerita banyak.

  (kpl/abs)

Editor:   Adi Abbas Nugroho