'THE QUEEN'S GAMBIT', Kisah Beth Jenius Catur Dan Lika-Liku Kehidupan Pribadinya

Editor KapanLagi.com | 07 Desember 2020, 18:04 WIB
'THE QUEEN'S GAMBIT', Kisah Beth Jenius Catur Dan Lika-Liku Kehidupan Pribadinya

Kapanlagi.com - Serial terbaru Netflix berjudul THE QUEEN'S GAMBIT saat ini sedang hangat dibicarakan oleh para penikmat film. Film yang tayang sejak 23 Oktober 2020 ini disutradarai oleh Scott Frank ia juga menulis naskah film tersebut dan dibantu oleh Allan Scot. Film ini merupakan adaptasi dari novel yang berjudul sama karya Walter Tevis. Novel ini pertama kalo dirilis pada tahun 1983 dan dirilis ulang pada tahun 2003.

THE QUEEN'S GAMBIT diisi oleh aktris dan aktor muda yang berbakat, Anya Taylor-Joy dipilih sebagai pemeran utama yaitu Beth Harmon. Lalu ada Thomas Brodie-Sangster, Harry Melling, Moses Ingram, Marielle Heller dan masih banyak lagi yang beradu peran dengan Anya Taylor-Jot dalam film tersebut.

1. Sinopsis


Film ini mengisahkan tentang Beth Harmon (Anya Taylor-Joy), seorang atlet catur yang mengalami lika-liku kehidupan sejak usianya masih kecil. Ia terpaksa menyaksikan kematian ibunya saat dirinya masih sangat belia. Kematian ibunya membuat Beth menjadi seorang yatim piatu dan tinggal di sebuah panti asuhan. Selama di panti asuhan, ia diasuh dan dirawat oleh seorang pengasuh anak, yang kemudian mengenalkannya ke permainan catur.

Beth kecil pun mulai tertarik dengan permainan catur dan membuatnya menjadi terobsesi dengan permainan papan itu. Ketertarikan Beth terhadap dunia catur membuat ia suka mengkhayal tentang permainan tersebut. Sehingga membuat pihak panti asuhan sering memberinya pil penenang. Saat beranjak dewasa Beth diadopsi oleh Alma, ia seorang wanita kesepian yang memiliki suami pendendam. Karena suasana yang baru tersebut membuat Beth memutar otaknya untuk bisa bermain catur. Disitu dimulai bagaimana perjalanan seorang Beth dalam dunia catur.

2. Film Yang Menyentil Isu Feminis

Netflix Studio via imdbNetflix Studio via imdb


Dengan latar belakang tahun 1950an, serial ini menunjukkan masa-masa yang kental dengan isu seksisme. Di mana hampir segala halnya berpusat pada laki-laki, dengan keadaan seperti itu karakter Beth memperjuangkan bagaimana perempuan tidak peduli dengan keadaan yang tersebut.

Dalam film tersebut ia tidak mengerti bagaimana orang-orang mempermasalahkan gender dan apa hubungannya dengan kemerdekaan seseorang. Selain itu karakter Beth juga berhasil untuk menunjukkan bagaimana seharusnya kesetaraan gender. Karena sosoknya yang berani bersuara dan bertindak, itu yang menjadi pesan gender tidak mendikte langkah apa yang bisa diambil dan yang harus dilakukan.

Film yang memiliki 7 episode ini bisa dinikmati di layanan streaming Netflix.

Penulis : Felecia Syadina

(kpl/mag)

Editor:   Editor KapanLagi.com