Bosan dengan berita itu-itu saja? Download Aplikasi Liputan6

5 Fakta Kehidupan Masa Kecil Sarah Istri Eross Candra, Hidup Secara Indonesia Banget Meski Berdarah Prancis

Ellyana Mayasari   | Kamis, 24 September 2020 15:35 WIB
5 Fakta Kehidupan Masa Kecil Sarah Istri Eross Candra, Hidup Secara Indonesia Banget Meski Berdarah Prancis
credit: instagram.com/sarahcandra

Kapanlagi.com - Beda dari kebanyakan artis lainnya, Eross Candra gitaris dari Sheila On 7 cenderung tak pernah mengekspos kehidupan pribadinya. Seperti diketahui, pria asli Yogyakarta ini menikahi seorang wanita berdarah Prancis bernama Sarah Diorita yang kini lebih akrab disapa Sarah Candra pada tahun 24 September 2009 silam.

Selama 1 dekade lebih bersama, rumah tangga Eross dan Sarah begitu adem ayem dan jauh dari sorotan. Tak banyak yang tahu mengenai seluk beluk istri Eross, mengingat selama ini sosok Sarah memang begitu jarang terekspos.

Namun lewat salah satu postingannya beberapa waktu lalu, Sarah bercerita mengenai kehidupannya sejak kecil selama tinggal di Indonesia..

1. Masa Kecil Sarah

Gambar

Meski punya ibu yang asli orang Prancis, Sarah menjalani sebagian besar hidupnya di Indonesia. Sejak kecil, ibu satu anak ini belajar banyak hal mengenai berbagai budaya dan tradisi Indonesia, tepatnya Jawa.

"Lahir dan besar (mostly) di Indonesia, walau aku dibesarkan oleh ibuku yang orang Prancis. Aku bersyukur sekali dia memastikan untuk memberikanku kehidupan yang sangat Indonesia. Tumbuh besar di lingkungan desa, bermain dan mengikuti kegiatan di desa (lomba agustusan, main di sawah, sekolah di sekolah lokal diantar becak langganan, keluyuran di kampung sampai sore, nari Jawa, hidup bermasyarakat dan selalu diajak melihat dan ikut serta dalam budaya Indonesia (terlebih Jawa). Dialah yang mungkin sedikit banyak menumbuhkan rasa cintaku terhadap Indonesia," kenang Sarah pada caption foto postingannya.

2. 100% Indonesia dan 100% Prancis

Meski dibiasakan hidup secara Indonesia banget, namun Sarah juga tetap dibiasakan untuk mempelajari budaya negara aslinya, Prancis. Karenanya, Sarah pun tumbuh besar dengan mempelajari 2 budaya sekaligus.

"Dia selalu mencoba memastikan aku hidup se-Indonesia mungkin dengan tetap memiliki budaya Prancis yang tidak kalah kuat dan mengakar. Dia selalu bilang, 'kamu tidak 1/2 Indonesia 1/2 Prancis. Kamu itu 100% Indonesia dan 100% Prancis'," tambahnya.

3. Keluh Kesah Selama Jadi Sosok Berdarah Campuran di Indonesia

Gambar

Sebagai sosok yang berdarah campuran, Sarah juga megalami banyak keluh kesah selama menjalani hidupnya di Indonesia. Meskipun begitu, semua suka duka yang dialaminya sekarang sudah jadi memori indah yang tak akan pernah terlupakan.

"Mungkin orang pikir wah enak ya 'blasteran' (i hate this word BTW dan 'londo' juga, karena aku bukan orang belanda dan itu terdengar sangat kolonial), tapi nggak semudah itu. Pasti selalu ada saat di mana aku tidak diterima seutuhnya, selalu ada yang berbeda yang membuatku terkadang tidak 'sama' dengan yang lain. Aku selalu berusaha menyesuaikan diri setiap waktu. Tidak usah beda negara, beda pulau atau daerah di Indonesia aja pasti nggak mudah," jelas Sarah.

4. Bangga Jadi Orang Indonesia

Sarah begitu terkesan dengan tradisi gotong royong yang diterapkan di Indonesia. Ia juga memuji kekayaan alam yang ada di sini, dan itu seharusnya jadi hal yang patut dibanggakan oleh kita semua.

"Tapi aku sangat sangat amat bersyukur bisa merasakan yang lain (negara dan budaya lain), sehingga aku bisa berkata bahwa aku sangat bangga jadi orang Indonesia. Indonesia itu sangat kaya, aku rasa kita suka lupa, kita itu kaya, semua tumbuh di sini, sangat beragam dan nyaman untuk ditinggali. Kita tak butuh hal macam-macam untuk bertahan hidup di sini, asalkan gotong royong (ini sangat special) tetap jalan, kita tau bahwa kita selalu ada untuk sesama," terangnya.

5. Kenangan Bersama Sahabat

Gambar

Pada postingannya itu, Sarah membagikan foto masa kecil dirinya bersama sang sahabat. Ia pun sedikit menceritakan tentang sosok sahabatnya yang berdarah asli Prancis tersebut.

"Btw, ini foto dengan sahabat kecilku (ibu kami bersahabat) yang dulu tiap tahun liburan ke Indonesia dan kita bersama melakukan hal-hal seru, mulai dari liburan ke Gili Nanggu sampai beli bebek di Pasar Ngasem dan dipelihara di rumah. Dan dialah yang menggambar/mendesign logo Lokaloka (by hand) saat aku buat Lokaloka (dulu tahun 2013). Karena dia designer, aku langsung tau bahwa dialah orang paling tepat yang paham maksud dan tujuanku serta impianku. Dialah teman yang melihatku Indonesia banget dan juga Prancis banget. Love her," tutup Sarah.

Editor:   Ellyana Mayasari