Anne J Cotto: Fatwa Haram Sebaiknya Tak Mengada-Ada

Anton | 20 Januari 2010, 07:07 WIB
Anne J Cotto: Fatwa Haram Sebaiknya Tak Mengada-Ada
Kapanlagi.com - Kontroversi seputar fatwa haram soal foto-foto pre-wedding, hair extension dan ojek wanita menarik perhatian Anne J Cotto. Menurutnya, dirinya tak menguasai Al Quran, sehingga tak terlalu paham dengan hal-hal yang dianggap haram oleh MUI tersebut.

"Kalo menurut aku, itu semua kembali lagi yah kepada individunya masing-masing. Kalo saya kan gak menguasai Al Quran. Lagi pula Indonesia juga bukan negara Islam, lain halnya seperti Brunei Darussalam dan Kuala Lumpur. Kita kan negara Indonesia, negara yang berdemokrasi. Saya juga gak ngerti kalo dari segi Al Quran. Kalo untuk masalah rambut saya tahu dari jaman dulu, memang rambut gak boleh diwarnai. Tapi, menurut saya kembali lagi kepada individunya masing-masing. Kalo bagi saya sendiri sih, itu kan urusannya makhluk dengan Tuhannya. Saya sih fleksibel aja, yang penting kita lakukan sesuai porsinya aja deh," tutur Anne saat ditemui di Gedung Arsip, Jakarta Pusat, Senin (18/1).

Namun demikian, Anne merasa bahwa keputusan pengharaman untuk beberapa hal yang telah disebutkan di atas tersebut adalah berlebihan. Ia berpendapat bahwa MUI seharusnya bisa mengurusi hal yang lebih prinsipil.

"Ya, kalo menurut saya terlalu berlebihan dan terlalu mengada-ada. Padahal masih banyak hal yang lebih penting yang bisa diurusi ketimbang hal-hal seperti itu. Seharusnya MUI itu lebih mengurusi masalah yang prinsipil. Kayak yang gak boleh punya bini banyak, tapi gak bisa mengurusi keluarga dan anaknya. Karena nantinya itu bisa menelantarkan anak itu. Nah, hal-hal yang seperti itu mungkin bisa diharamkan. Karena menurutku, banyak yang lebih penting dan prinsip untuk diurusi. Laki-laki yang gak membiayai dan menelantarkan anaknya, itu baru dihukum, diberikan label haram," papar Anne panjang.

"Yang prinsip dan melangsungkan hidup orang banyak kan bisa dibenahi tuh. Seperti contohnya lagi, pelacuran dan banci yang berkeliaran di jalan. Kalo hal yang kecil dan terlalu dibesar-besarkan, kalo menurut saya kurang gimana gitu. Selama ini sih boleh-boleh aja. tapi apa bener bisa dijalankan gak, bisa dipertanggungjawabkan gak oleh MUI. Dan yang mereka inginkan itu kan tidak semuanya bisa dijalankan," pungkasnya.   (kpl/wwn/bun)

Editor:  

Anton