Curhatan Ayah Ashraf Sinclair Dua Minggu Usai Kepergian Sang Putra: Mati Rasa, Hilang Warna Hidupku

Senin, 02 Maret 2020 12:34 WIB
Curhatan Ayah Ashraf Sinclair Dua Minggu Usai Kepergian Sang Putra: Mati Rasa, Hilang Warna Hidupku

Kapanlagi.com - Dua pekan sudah Ashraf Sinclair meninggal dunia sejak tanggal 18 Februari 2020 lalu. Perasaan sedih dan tak percaya atas kepergian Ashraf pun masih dirasakan oleh pihak keluarga, baik dari BCL maupun sang ayah, Mohamed Sinclair.

Mohamed meluapkan semua kesedihannya dalam unggahan tulisannya di Facebook. Di dalamnya, ia mengungkapkan betapa sakitnya kehilangan putra tercintanya itu yang membuatnya sampai mati rasa.

"Sudah hampir dua minggu sejak kau meninggalkan kami tiba-tiba, Ash. Tadi malam adalah tahlil terakhir, setidaknya sampai hari ke-40," tulis Mohamed Sinclair di facebook pribadinya, Minggu 1 Maret 2020. 

Mohamed mengungkap bahwa baru setelah 40 hari kepergiaan Ashraf, ia bisa dengan jernih memahami apa yang sedang ia rasakan. 

"Saya ditanya di pemakamanmu tentangan bagaimana perasaanku, aku bilang tidak punya kata-kata yang pas untuk menggambarkan perasaanku - tetapi bagaimana perasaanku sekarang?," tulisnya.

 

 

 

1 dari 4 halaman

1. Mati Rasa dan Kehilangan Warna Kehidupan

Ayah Ashraf Sinclair mengungkapkan betapa hancur hatinya saat ditinggal pergi putranya itu. Mati rasa pun ia rasakan, warna kehidupannya pun mulai pudar seiring dengan kepergian Ashraf.

"Mati rasa, utamanya. Aku dapat beraktivitas setiap hari, tetapi sebagian besar warna hidupku hilang. Aku bisa tertawa, tersenyum, bercanda dengan teman dan keluarga, dan berpose dengan pelayat dalam tahlilan tetapi banyak dari kulakukan karena itu harus kulakukan. Aku lebih memaksa diri tersenyum tadi malam, lebih dari biasanya," curhatnya

2 dari 4 halaman

2. Tak Sebanding Dengan Rasa Pedih Bunga Citra Lestari dan Noah

Tak Sebanding Dengan Rasa Pedih Bunga Citra Lestari dan Noah ©KapanLagi.com/Budy Santoso
Mohamed Sinclair pun membandingkan perasaannya dengan Bunga Citra Lestari dan Noah Sinclair. Ia yang masih merasa sesak dan sedih ketika memikirkan kepergiaan Ashraf merasa bahwa apa yang ia rasakan belum sebanding dengan apa yang dirasakan Bunga dan Noah, dua orang yang dikasihi Ashraf dan mendampingi kesehariannya. 

"Jika aku saja merasakan seperti itu, lalu bagaimana dengan Bunga, wanita yang luar biasa dan kuat seperti dia, dan Noah yang berusia 9 tahun?," paparnya.

Ia juga mengungkapkan hal yang paling menyakitkan yang ia rasakan saat kepergian Ashraf Sinclair. Baginya, perasaan paling pedih adalah bahwa ia tak berdaya memutar kembali waktu.

"Salah satu hal yang paling menyakitkan bukanlah perasaan 'mengapa', tetapi ketidakberdayaan, tidak berdaya untuk meringankan kepedihan orang lain, tidak berdaya karena tidak mampu memutar balik waktu, bahkan untuk dapat menawarkan diri sebagai imbalan bagi hidupnya, seperti yang dilakukan orang tua mana pun, tanpa perlu berpikir dua kali dan sekejap mata," tuturnya.

3 dari 4 halaman

3. Minta Ashraf Pesankan Tempat di Surga

Pada akhir kalimatnya itu, Mohamed Sinclair berdoa dan berpesan kepada Ashraf Sinclair yang lebih pergi lebih dulu. Pada tulisannya itu, ia meminta Ashraf untuk memesankan tempat di surga bagi keluarganya.

"Saya menerima ini sebagai kehendak dan rencana Tuhan, tetapi sementara kamu berada di sana, Ash, tolong periksa akomodasi dan pesan tempat yang bagus untuk kami semua ketika kami dalam waktu yang ditentukan, melakukan perjalanan yang sama," tukasnya.

"Tuhan memberkatimu Ashraf dan terima kasih atas segalanya!," tutupnya.

4 dari 4 halaman

(kpl/dwn)