Divonis Bersalah, Sandy Tumiwa Diganjar Dua Tahun Penjara

Fitrah Ardiyanti | 06 April 2016, 10:30 WIB
Divonis Bersalah, Sandy Tumiwa Diganjar Dua Tahun Penjara
Kapanlagi.com - Kasus penipuan yang melibatkan nama Sandy Tumiwa dan rekan bisnisnya, Cici, akhirnya memasuki babak akhir. Sandy dan Cici dinyatakan bersalah dan harus menjalani vonis penjara selama dua tahun.

"Kemarin, Selasa 5 April 2016 itu akhirnya pengadilan memutuskan Sandy bersama Cici dihukum dua tahun penjara, dipotong masa tahanan," tutur kuasa hukum Sandy Tumiwa, M. Ridwan, saat dihubungi pada Rabu (6/4).

Ridwan merasa keberatan dengan vonis yang dijatuhkan oleh majelis hakim. "Kalau dari sisi saya, sisi hukum, keberatan ya dengan putusannya hakim. Meski memang kami juga hargai putusan hakim yang memutus lebih ringan dari tuntutan jaksa yang (menuntut) 3,5 tahun (penjara). Vonis dua tahun baik lah," jelasnya.

Ia dan kuasa hukumnya tak akan menjalani banding. Dengan lesu, ia mengharapkan jika Jaksa Penuntut Umum tak mengajukan banding atas vonis yang sudah dijatuhkan. Pihaknya pasrah menerima apa yang sudah terjadi.

Sandy Tumiwa divonis dua tahun penjara/©KapanLagi.com®/Bayu HerdiantoSandy Tumiwa divonis dua tahun penjara/©KapanLagi.com®/Bayu Herdianto

Hingga April 2016, Sandy telah ditahan selama lima bulan. Hal itu berarti Sandy hanya perlu menjalani sisa hukuman selama kurang lebih 18 bulan. "Tetapi nanti ada remisi dan macem macem palingan ngejalaninnya 8 bulan aja," bebernya.

Sandy dilaporkan karena keterlibatannya dalam kasus penipuan berkedok investasi bodong dan trading forex di PT CSM BI. Sandy ditangkap karena dalam kasus penipuan tersebut ia berperan sebagai seorang komisaris perusahaan. Sementara rekannya, Cici menjadi Direktur Utama.

Sandy sempat mengajukan eksepsi namun ditolak oleh pihak pengadilan. "Klien kami tidak pernah menerima uang, menurut dakwaan JPU tidak ada sepeser uang yang diterima. Sandy hanya dijadikan ikon di PT CSM BI itu," ucap Mualim Tampa, pengacara Sandy Tumiwa di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, akhir Februari lalu.

(kpl/pur/tch)

Reporter:  

Mathias Purwanto.