Fosad, Ikut Tangani Kasus Kematian Alda

Yunita Rachmawati | 20 Desember 2006, 20:37 WIB
Kapanlagi.com - Selain membela keluarga Yahya Zaini, Fosad juga menaruh perhatian pada kasus meninggalnya penyanyi Alda Rizma Elvariani. "Alda itu keponakan kandung saya. Karena itu, kami memberi perhatian serius kasus ini untuk segera terungkap," ujar Ketua Umum Fosad, Faisal Riza Rahmat di Senayan Jakarta, Rabu.

Fosad juga membentuk tim khusus untuk ikut menyelidiki kasus ini. Tim bekerja sama dengan kepolisian. "Hasil penyelidikan kami akan diserahkan kepada polisi," katanya.

"Saya tidak diam dan ada cara lain untuk membantu polisi mengusut kasus ini. Apa pun risikonya, Fosad akan ikut mengungkap kasus ini," tambahnya.

Faisal juga mengkritik pemberitaan pers yang sudah menyimpang dari subtansi sebenarnya. Pers termasuk televisi sudah memberitakan hal-hal yang tidak berhubungan denga kasus ini.

"Saya mengingatkan agar pemberitaan-pemberitaan sebaiknya memerhatikan perasaan keluarga almarhumah Alda Rizma. Berita-berita di media massa sudah sedemikian rupa, sudah banyak dibumbui. Padahal kepolisian sedang meneliti kasus ini," katanya.

Namun di sisi lain, dia mengakui, berita-berita media massa juga mendorong kepolisian mengusut kasus ini. Namun analisis-analisisnya terlalu jauh.

"Yang terpenting, bukan analisis yang terlampau jauh, namun mendorong kepolisian mengusut kasus ini apakah Alda meninggal akibat pembunuhan, narkoba atau malpraktik," katanya.

Setahu Faisal, Alda anak yang baik dan tidak mengenal narkoba. Karena itu, berita meninggalnya Alda dikaitkan dengan narkoba sangat mengejutkan keluarga.

Fosad mengecam kepolisian yang melepaskan Wisnu, kakak Ferry Surya Perkasa yang disebut-sebut kenalan dekat Alda dan ada di hotel pada saat terakhir Alda sebelum meninggal dunia. Semestinya, Wisnu ditahan untuk jaminan 'mendapatkan' Ferry. Ternyata Wisnu dilepaskan.

Dia mengakui, selama ini hubungan keluarganya dengan Farid, adik kandungnya yang juga ayah Alda memang tidak terlalu dekat sejak 1997 karena perbedaan prinsip dalam keluarga besar.

"Sudah sembilan tahun saya tidak bertemu dengan Alda. Namun Alda telah merencanakan akan bertemu saya dan keluarga pada Lebaran Haji nanti. Teryata nasib menentukan lain," katanya.

Dia berterus terang perbedaan prinsip dalam keluarga besar itu disebabkan adanya keinginan dari Faisal agar keluarga Alda membekali anaknya dengan keimanan yang lebih baik. Sekolah Alda harus diperhatikan.

"Saya tak setuju Alda yang waktu itu masih 14 tahun sekolahnya tidak diperhatikan. Bobot keimanannya perlu terus ditingkatkan," katanya.

Namun perbedaan prinsip itu tidak akan mengurangi perhatian Faisal dan jajarannya untuk mengungkap kasus ini. "Saya tidak akan tinggal diam," katanya. (*/boo)

Editor:  

Yunita Rachmawati